"Gue masih ada urusan sama Pak Retno, lo pulang duluan aja" Seno melempar kunci Ducati nya kearah Sean, pria yang sangat mirip dengannya itu sengaja menghembuskan kepulan asap dari dalam mulutnya ke wajah kembarannya.
Banyak yang tanya bagaimana cara membedakan keduanya, cukup mudah. Seno itu berwajah garang, rambut gondrong, namun selalu rapi, pintar dan juga aktif kegiatan sekolah. Kalo Sean, tampilan anak ini sangat polos, dengan cukuran rapi, namun sayangnya tidak dengan sebagiab hal. Dua kancing teratas terbuka kemudian dasi yang melorot parah, kalo tidak ya semua kancing terbuka dengan dirinya yang pakai dalaman kaos.
Wajah sama tampilan keduanya ga kontras mereka yang baru pertama kali bertemu kembaran Seno Sean ini pasti selalu mengira Sean itu anak baik, kalem, dan juga polos, begitupun sebaliknya dengan Seno yang dianggap berandalan kelas atas. Padahal hal itu terbalik, Sean adalah anak yang doyan cari perkara. Beda dengan Seno yang disiplin.
"Bisa berhenti ngerokok ga? Yang ada gue duluan mati gegara asap lo"
Sean mengangkat kedua bahunya, itu tandanya dia tak mau mempertimbangkan kalimat kembarannya barusan. "Toh ga lama gue juga bakal mati setelah lo"
Lihat! Seno capek mau ngasih tau. "Ga mau gue tungguin aja nih?"
"Jemput pacar lo sana, nanti marah-marah lagi"
"Eyy, biarin aja dia. Yodah gue pulang yak" Tanpa menunggu tanggapan Seno, Sean melangkah pergi membawa Ducati tersebut.
Seno itu masih mikir jika akan melakukan tindakan bodoh, antara hal ini menguntungkan nya atau tidak. Seno akan sangat berhati-hati, tidak dengan Sean yang melakukan apapun tanpa berpikir terlebih dahulu. Pacarnya banyak yang mirip l*nte, dada gede bokong bahenol. Dan Sean ini brengsek sekali, dia udah pasti cari cewe yang sama brengseknya. Ga pernah ada perasaan, begitu juga dengan cowo yang menjadi pacaranya. Ga jauh-jauh asalnya dari adik musuh, sebuah tantangan bagi Sean.
Seno cari cewe atau cowo yang kalem biasanya, tipenya Seno itu yang manut aja sama dia. Manut dicium, manut di sodok, Seno ga suka penolakan. Jadi begitulah.
Semua orang di markas tau suara motor itu, maka saat memastikan orang itu adalah Sean semua orang akan mempersiapkan satu kursi untuk nya.
"Seno ga ikut nih?" Tanya sekumpulan teman yang sedang bermain catur.
"Taruhan lagi sama kalian? Anaknya masih di sekolah. Biasa lah"
"Ngehindar sih pasti" Remeh seseorang yang membuat Sean menghentikan langkahnya, jangan ada yang menjelekkan kembarannya apalagi di depan Sean langsung. "Tato doang banyak tapi aslinya ciut"
Sean berbalik, menelisik sosok yang belum pernah dia temui. "Lo anak buah Darwin bukan? Gue ga pernah liat lo disini"
Seketika pria itu membeku, apa dia ketahuan.
Sean tersenyum penuh arti, seorang Darwin yang selalu tak menyukai Seno dan Sean. Kalah saing, kalah famous, kalah segalanya. Anak sekolahan yang bisa sewa paman buat gebukin Sean dan Seno, ini urusan mereka dan hanya mereka yang akan menyelesaikan nya.
Kebetulan yang berturut-turut, Darwin tetap akan di bawah si kembar.
Gak biarin mulutnya sepet, Sean bakar satu batangan nikotin lagi. Menikmati waktu bersama teman-teman nya, tempat itu selalu ramai. Sebab semuanya difasilitasi Sean dan Seno, tak seperti markas yang kumuh. Disana penuh kesenangan, alkohol? Tentu saja ada.
Semua atas ijin si kembar.
Jisung datang dengan panik. "Sean, gawat!" Semua mata tertuju pada pria tinggi dengan tangan yang menggenggam erat ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amaranthine
Short StoryCerita oneshoot dengan Sunoo-tokoh utama di setiap cerita. ⚠️ -bxb -bxg -gs ©𝐋𝐲𝐫𝐚 𝐲𝐨𝐚
