Jay menghentikan langkah cepatnya, tak peduli bagaimana Putri Kedua kini seperti apa dibelakangnya. Jay seakan tak lagi bisa berjalan, tubuhnya merosot kebawah setelah bersandar pada sebuah pohon besar. Tersengal menatap kedua tangannya yang gemetaran parah, Jungwon mengambil tempat duduk di sampingnya. Menoleh saat merasa gadis itu sangat sunyi, wajah yang di terpa debu itu masih terlihat cantik.
Mengarahkan pandangannya ke kaki Jay, ada goresan disana. Seketika itu membuat Jungwon panik, menarik belatinya dari balik gaunnya. Merobek sebagian kain dari tubuhnya, mengikat kain itu ke kaki Jay, membuat si empu meringis merasakan sakitnya.
Jay melihat bagaimana Jungwon memandangi luka yang sudah terbalut itu dengan kalut, gadis itu mengingat luka Sunoo. Matanya bergerak gelisah sebelum akhirnya meneteskan air matanya pelan, bagaimana kondisi kakaknya. Apa masih ada harapan untuk bertemu, bertatap mua seperti biasanya, bercanda berdua. Tangisnya mulai terdengar Jay, dadanya sesak tak bisa menahan lagi. Ini salahnya, semua ini salahnya.
Tangan itu mengelus surai bebas Jungwon, mata legam itu meneduh menatapnya. Jay membawa tubuh Jungwon mendekat, mendekap menyalurkan ketenangan pun kehangatan.
"Kakak" Paraunya. "Ku mohon bertahan, demi aku"
Jay bisa merasakan pedihnya, dia juga ingat ayahnya berjuang hingga akhir. Dia payah tak bisa menyelamatkan ayahnya, begitu juga dengan Sunghoon yang sampai akhir berjuang melindungi Tuan Putri. Semua orang merasakan kehilangannya kini.
Malam datang dengan cepat, dan kedua orang itu masih berada di hutan. Lama mereka berjalan dan tak menemukan apapun, suasana di luaran sini begitu dingin. Jungwon tak terbiasa dengan dinginnya. Seorang pelayan akan segera merendam kakinya dan memberi jubah tebal untuk menyingkap dingin nya, namun kini tak ada lagi yang akan melakukan hal itu. Jungwon berjongkok lemah, selain tenaganya yang habis. Junggwon tak bisa melawan dinginnya, memeluk diri pun tak ada gunanya.
"Jay, lebih baik kita mati saja"
Jay menoleh dan mendapati Jungwon yang terduduk lemah. "Hei, kita harus terus bergerak untuk meminimalisir kedinginan ini. Ayo, terus berjalan" Meraih tangan mungil itu untuk di genggam, Jay terbiasa berjaga di malam hari, jadi dingin ini tak begitu mengusiknya. Tidak dengan Jungwon, telapak gadis itu memerah sebab darahnya hampir beku dan berkumpul menjadi satu.
Jungwon berdecak, rewelnya kembali. "Aku lelah! aku tak bisa lagi berjalan"
Jay meringis kesal. "Oh ayolah, jangan disaat seperti ini aku harus menuruti sifat manja mu"
Siapa juga yang manja, apa pria ini tak dapat melihat begitu biru labiumnya menahan sejuk berlebihan. Bahkan disaat seperti ini Jay masih acuh terhadap Jungwon, menarik tangannya yang di genggam Jay. Duduk kembali menyandar di pohon.
Jay tak tau lagi harus bagaimana, dia juga ikut duduk disamping Jungwon. Untuk kali ini saja dia mengalah.
"Jay, kau sebegitu tak menyukai ku ya? sampai apapun yang ku lakukan terlihat membuat mu marah" Suara itu hampir tak terdengar, Jungwon menekuk kakinya. Menutup wajahnya dengan menelungkup diantara kakinya, tak ingin menatap Jay.
"Sebaiknya kita jangan membahas hal itu dalam suasana ini"
"Lihat, nada ketus mu selalu menyertai pembicaraan kita berdua. Kalau tak suka mengapa harus menerima pertunangan ini"
Ok, Jay akan membahasnya. "Lagi pula siapa yang akan menolak perintah Raja, aku benar-benar tak menyukai mu. Jika bukan karena Tuan Putri yang menitipi mu padaku tadi, aku tak akan mau ada di sini kedinginan, kebingungan, dan kelaparan bersama mu"
Jungwon diam, setidaknya dia tau alasan mengapa banyak orang yang tak menyukainya.
"Kau dimanja sejak kecil, kau tak pernah merasakan ada di posisi Tuan Putri. Di tuntut sempurna dalam semua hal, begitu menyayangimu tapi kau tak perduli itu. Sifat mu begitu buruk, kasar dengan pelayan, angkuh, dan selalu ingin menjadi si nomor satu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Amaranthine
Short StoryCerita oneshoot dengan Sunoo-tokoh utama di setiap cerita. ⚠️ -bxb -bxg -gs ©𝐋𝐲𝐫𝐚 𝐲𝐨𝐚
