Sunghoon menghentikan kegiatan menyapunya saat melihat Jake yang berjalan santai melewati kelasnya, dia harus memastikan sesuatu. Dia ga mau orang itu ganggu hubungannya sama Seno, ga akan dia diem aja dan terus cemburu pas Seno bareng Jake.
Jake yang suasana hatinya lagi buruk cuman ketutup wajah datarnya aja dikejutkan oleh kedatangan Sunghoon yang mendadak memblokir jalannya.
"Jadi lo selama ini salah paham?" Tanya pria dengan kunciran apel di kepalanya, Jake jadi lebih fokus ke kunciran yang lebih terlihat seperti air mancur itu.
Sunghoon mengernyit. "Ayo jawab!"
Jake memutar bola matanya. "Bukan urusan lo" Kemudian menabrak bahu Sunghoon dan berlalu.
Eits, Sunghoon tidak menyerah. Dia berjalan sejajar di samping Jake dan terus mengoceh. "Selama ini yang lo suka itu Sean 'kan, bukan Seno. Ya berarti lo salah paham, pasti lo mikirnya Seno yang selalu ada buat lo. Eh tapi ternyata Sean, dan lo ga bisa bedain keduanya. Gue juga masih sulit bedain sih, dan itu artinya lo sama Sean dan jangan pernah ganggu Seno. Oke?"
Jake berhenti melangkah, menoleh pada Sunghoon yang terkejut akan sikapnya. Pria itu mengerjap cantik, Jake jadi teringat bagaimana dia dulu mendekati pria ini untuk kencan sehari. "Bisa tolong jaga jarak ga? Lima jengkal aja lima jengkal. Plis deh, mood gue ga bagus sekarang"
Sunghoon menurut. "Oke" Dia membuka jengkal hingga 5x, dan— masih terus bertanya.
"Tapi lo tau sesuatu ga tentang Sean, mungkin lo ga tau ya. Nanti deh ke rumah langsung, eh tapi lo dateng sendiri ga usah bareng gue sama Seno"
Jake sampai pada kelasnya dan ya— Sunghoon masih mengoceh. "Gue tau segalanya tentang Sean" Ucapnya keras sembari membanting tasnya ke atas mejanya. "Jadi lo ga usah ngoceh di sini, ini masih pagi woilahh"
Oke, Sunghoon akhirnya diam. Tapi....
"Tau semua tentang Sean? Kok bisa? Kalo udah tau semuanya kenapa ga jauhin Seno dan belagak bego"
Jake memejam, dia keceplosan. Melihat Jake yang panik membuat Sunghoon berekspresi curiga, alisnya tertaut mengernyit seakan menuntut penjelasan.
"M-maksud gue, gue ngomong gitu biar lo berhenti ngoceh. Jadinya gue bilang gue tau semua tentang Sean" Nada gugup sangat kentara dalam setiap kalimatnya.
"Terserah, pokoknya jangan sampe dekat sama pacar gue. Titik ga pake koma" Sunghoon memutar tubuh, berlalu pergi sambil melompat-lompat kecil.
Jake mengelus dada, dia hampir ketahuan. Intinya, dia harus menyelesaikan semua ini dan pergi menjauh.
***
Sunghoon membuka pintu mobil, dia sudah disambut oleh Seno yang telah mengambil tempat di kursi supir. Seperti biasa, Sunghoon akan menarik dagu Seno pelan. Biasanya sih ciuman bentar, tapi—
"Ekhemm!"
Kegiatan keduanya terhenti, Sunghoon menoleh dan mendapati Jake di kursi belakang. "Periksa dulu dong, ada gue nih" Protesnya dengan tangan bersedekap, lagian kenapa dia ga nolak aja pas Seno ajak pulang bareng. Kata Seno sih mau ada yang dia kasih tau ke Jake.
"Dih" Sunghoon memutar bola mata malas, tapi tetap saja dia memberikan kecupan di bibir Seno, menarik tawa pemuda yang segera menyalakan mesin mobilnya.
Kalau di ingat-ingat Jake sudah lama tidak ke rumah megah ini, dia belum pernah masuk ke dalamnya. Seno ga pernah mau dia bertamu, entah apa alasannya.
"Senooo" Teriak Sean, menghampiri ketiganya dengan dino di tangannya. Kepalanya teleng. "Eh ada Jake, main sama Sean yuk"
Apa yang harus Jake lakukan, apa dia harus berakting tak tau segalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amaranthine
Historia CortaCerita oneshoot dengan Sunoo-tokoh utama di setiap cerita. ⚠️ -bxb -bxg -gs ©𝐋𝐲𝐫𝐚 𝐲𝐨𝐚
