"Utang??" Tanya Gibran dengan nada heran
GAK USAH SOK BEGO LO" ucap orang bertubuh besar
"Gua gak ada utang ya, lagian gua bukan Leo" ucap Gibran berusaha meyakinkan
"Alah sekarang Lo gak mau ngaku"
BUGHHHH
Tinjuan itu mengenai perut Gibran, Gibran sedikit meringis karena serangan dadakan itu
BUGHHHH
BUGHHHH
BUGHHHH
Gibran tak tahan lagi menahan beban tubuh nya ia tersungkur kebawah
"Itu balasan karena Lo punya utang tapi gak mau bayar" ucap pria bertubuh besar
Atensi pria bertubuh besar itu terfokus pada jam tangan yang dikenakan Gibran
"Jam Lo kayanya mahal" ucap pria itu langsung merebut jam milik Gibran, Gibran ingin memberontak tapi ia tak ada tenaga sungguh sakit yang kini ia rasakan
"Woiii" teriak bimaa yang melihat Gibran bersama orang asing
Pria itu pergi lari tergesa gesa karena takut kepada bima. Bima ingin mengejar namun ia lebih mendahulukan menolong Gibran terlebih dahulu
"Lu gak papa gib" tanya bima cemas
"Gak papa bang" ucap Gibran dengan pelan karena memang saat ini perutnya bener bener sakit
"Lu pucat gib ke rumah sakit ya" ajak bima
"Gak usah bang Gibran oke kok" ucap Gibran menunjukkan senyumannya
Bima tau itu hanyalah senyuman palsu yang ditunjukkan Gibran, bima juga tau bahwa selama ini Gibran tidak baik baik saja walau mereka baru kenal tak lama, tapi bima bisa membaca gerak gerik orang dengan sangat baik
"Siapa orang tadi" pertanyaan itu bima lontarkan kepada Gibran
Gibran hanya menggeleng kepala nya ia diam masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi siapa orang tadi dan leoo itu yang tengah memenuhi isi pikiran Gibran
"Gua antar pulang ya" tawar bima
"Gak usah bang Gibran sendiri aja" Gibran pergi meninggalkan bima
Gibran semakin jauh bima hanya memperhatikannya "apa dia punya utang ya" pikir bima saat itu "kalau iya mending gua bilang ke Al" sambung bima dan berlari untuk menemui Al
..........
"Allll........" Teriak bima
"Woi Lo kalau tereak santuii Napa" ucap Naura memegang kedua telinganya
"Hehehe sorii " cengengesan bima
"Napa Lo" ucap rasya
"Dia manggil guaa berati urusan nya dengan gua" ucap Al dingin
"Dihh gua cuman nanya kali" balas Rasya tak kalah ketus
Kedua nya masih sama sama kesal dengan kejadian tadi
"Udah ah malah ribut, Al gua mau bilang sesuatu ke Lo" ucap bima
"Apa" jawab Rasya
"Itu tadi gua liat Gibran dipukul orang yang badan nya besar" jelas bima
Mata Al membulat bukan hanya Al tapi Rasya juga tak kalah kaget
"Lo serius" ucap Al dan Rasya serentak, kedua nya saling lihat dan memalingkan wajah dengan kesal
"Iya guaa curiga di terjerat utang deh" terus terang bima
"Wahh kalau gini nanti gua tanya deh gak tega gua kalau dia nanggung sendiri" ucap Al khawatir
"Aaaa Abang nya khawatir" goda Naura lalu melirik bima
"Aaaaa iya lagi jadi pengen punya adek deh" lanjut bima
Al tersenyum melihat tingkah lucu kedua sahabatnya ini, namun tidak dengan Rasya ia semakin kesal dengan teman teman nya
"Gua duluan " ucap Rasya dan pergi
Naura yang melihat itu hanya memperhatikan Rasya dari jauhh
"Rasya kaya nya lagi punya masalah deh" ucap Naura khawatir
"Cieee khawatir ni Yee" ucap bima
Naura hanya melepas napas kasar
"Tau dia aneh tadi masa tiba tiba dia nyuruh gua buat mecat Gibran" jelas Al tak kalah kesal
"What Lo serius Al" kaget Naura
Al mengangguk, Naura masih memperhatikan Rasya yang semakin menjauh "gua susul Rasya dulu" ucap Naura
...............
"Sya...." Panggil Naura lembut
Rasya menoleh melihat Naura yang sudah melihat nya dengan tatapan sendu
"Ada apa nau" tanya Rasya
"Lo ada masalah" tanya Naura
"Ada tapi gua gak mau cerita" ucap Rasya
"Yaudah kalau gitu kapan Lo siap cerita gua siap dengerin kok" ucap Naura dengan senyuman
Saat Naura hendak pergi tiba tiba langkah nya terhentikan karena Rasya
"Nau, kalau Lo punya adik tapi gak akrab Lo akan apa?" Tanya Rasya membelakangi Naura
Naura tersenyum akhirnya ia tau permasalahan Rasya, Naura sama seperti yang lain ia tau bahwa Rasya punya adik tapi di luar negri, dan pikiran Naura kali ini Rasya sangat rindu dengan adiknya itu
"Gua bakal usaha akrab dengan dia sya" jelas Naura yang juga membelakangi Rasya
"Kalau Lo udah terlanjur jauh dari adik Lo gimana" tanya Rasya lagi
"Gua bakal ngejar ia lagi sya" ucap Naura
"Kalau ia semakin jauh"
"Gua yang akan semakin mendekat ke dia " jelas Naura
"Bahkan sekalipun ada tembok tinggi gua bakal panjat untuk dekat lagi dengan adik gua" jelas Naura yang kini membalikkan badan nya dan menghadap ke Rasya
Naura memegang kedua tangan Rasya, menatap Rasya dengan tatapan sendu "kejar adik Lo sya sebelum dia jauh" ucap Naura
Rasya merasa tenang saat ini, apalagi setelah mendengar jawaban Naura.
"Gua akan usaha"
