🐻 Chapter 24🦊

431 33 6
                                    

CW// Kiss

Haze membuka mata, ia tatap langit-langit kamar Gavriel dari atas kasurnya. Lengan sang dominan masih bertengger di pinggangnya, sedangkan wajah Gavriel menempel pada dadanya.

Hari ini datang, hari dimana ia harus meninggalkan Gavriel selama 3 Bulan lamanya. Haze tidak ingin bangun, Haze tidak ingin membuka matanya, bahkan Haze tidak ingin pergi.

Haze usap pipi Gavriel dengan halus, tetesan air matanya jatuh bebas dari pelupuk mata membasahi pipinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Haze usap pipi Gavriel dengan halus, tetesan air matanya jatuh bebas dari pelupuk mata membasahi pipinya. Paginya suram - sedih lebih tepatnya. Gavriel merasakan halusnya tangan Haze di pipinya, ia membuka mata. Gavriel di suguhkan dengan sedikit isakan dan wajah sedih Haze di depannya.

Haze masih menatap lamat-lamat wajah tampan kekasihnya itu, Gavriel menghapus air mata Haze dengan jarinya. Semakin mereka bertatapan, lengkungan bibir yang bergetar, membuat Gavriel tidak tega melihat kekasihnya menangis, ia tarik tubuh Haze dengan pelan, masuk kedalam pelukannya. Tangis Haze makin pecah, tubuhnya sedikit bergetar.

Gavriel hanya bisa mengelus kepala dan punggung Haze untuk menenangkannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gavriel hanya bisa mengelus kepala dan punggung Haze untuk menenangkannya. Pelukan mereka sangat erat, enggan untuk melepaskan satu sama lain.

Gavriel mengecek dengan memegang kedua pipi Haze dan menengadahkan wajahnya, ia melihat wajah dan hidungnya merah, mata bengkak dan sedikit ingus yang keluar dari hidungnya. Gavriel mengambil tissue untuk mengelapnya. Gavriel kecup kening, kedua pipi dan bibir Haze berkali-kali.

Lumatan dalam, tarian lidah didalam rongga-rongga mulut mereka dan suara renyah khas ciuman itu menjadi irama alunan pagi mereka.

Suara gemericik air di dalam kamar mandi, menandakan seseorang yang sedang mandi di dalam. Gavriel menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dengan telaten, Gavriel memasak sarapannya, sampai ia mencium wangi sabun dengan dinginnya tangan Haze memeluknya dari belakang.

"Dek, Mas belum mandi loh."

"Biarin, mau hirup wangi alami tubuh Mas banyak-banyak."

Hidung mancung Haze menempel pada perpotongan leher Gavriel, membuatnya sedikit geli dan merinding.

Forbidden Love or Fate Love ?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang