Disclaimer :
-BXB
-ALL FICTION (jgn kebawa rl)
-CW // TW // NSFW 🔞
-Fantasy
-Harsh words
-Ignore time stamp and typos
-Photo by pinterest, twt, and more
-Give me feedback (be wise reader)
- jika ada kesamaan, kemiripan nama tokoh, cerita atau apapu...
Haze terus menatap Gavriel tidak suka dengan tindakannya. Haze tau, Gavriel peduli, tapi Haze ga mau ia punya hutang budi lebih besar lagi setelahnya.
Sampai kamar, Gavriel tidak langsung menurunkan Haze, tapi ia menatap lamat-lamat wajah Haze, mata indah, hidung mancung, bibir pink plumpy membuatnya salah fokus.
"Gavriel, gue bilang turunin gue !!!"
Haze terus berontak dalam gendongan Gavriel. Akhirnya ia menurunkan Haze tepat diatas kasurnya.
Gavriel duduk di sampingnya, Haze bergeser menjauh dan meluruskan kakinya.
Gavriel melihat kaki memar itu, namun Haze menutup kakinya dengan selimut, membuat lamunan Gavriel buyar.
"Gue bawa obat, buka kaki Lo."
"Ga usah."
"Lo bisa ga sekali aja nurut sama gue ??"
Dengan nada dingin, tatapan intimidasi membuat Haze membeku. Haze menatap mata tajam Gavriel, tatapan perintah itu tidak bisa di elakkan lagi.
Haze membuka kakinya dibalik selimut, Gavriel mengambil obat painkiller spray untuk kaki memarnya.
"Tahan, agak perih kalo kena luka memar."
Gavriel mengocok obatnya, membuat Haze sedikit takut lalu menyemprotkan obat itu pada kakinya, Haze tersentak dan matanya melotot.
Haze meringis menahan perih, ia ingin membasuh kakinya, tubuh atasnya menggeliat, lalu Gavriel menahan tubuh Haze dengan memegang bahunya.
"Lepasin gue !!!"
"Gue bilang tahan, emang perih tapi cepet sembuh dan Lo bisa jalan lagi."
Haze menundukkan kepalanya, Gavriel melihat mata Haze mengeluarkan air mata, Gavriel mengambil box tissue dan memberikannya kepada Haze.
Haze menegakkan kepalanya, lengkungan bibirnya menjadi pemandangan ngilu bagi Gavriel, benar-benar sakit dan perih luka itu. Gavriel tidak pernah memakai obat itu sebelumnya, jadi ia tidak tau reaksi apa yang ditimbulkan.
Haze mulai menangis, Isakan kecil namun menyakitkan terdengar oleh Gavriel, Haze hanya ingin membasuh kakinya dengan air dingin. Sensasi perih, sakit dan panas menyatu jadi satu.
Gavriel memeluk Haze, tangis Haze pecah saat itu juga. Haze bersembunyi di dada Gavriel, menghirup wangi tubuh bercampur dengan parfum membuatnya sedikit tenang.
Gavriel mengelus pipi tembem Haze dengan jempol tangannya, matanya menatap wajah Haze dari atas, Haze melihat bulu mata panjang dan sedikit lentik, hidung mancung, membuat Gavriel terpesona dengan Haze.
Kurang 15 menit, sensasi sakit di kakinya perlahan memudar. Haze melepaskan pelukannya, Gavriel menatap wajah sembab Haze.
"Masih sakit ??"
"Udah mendingan."
"Kita makan yuk, Lo pasti belum makan kan ??"
"Beli apa ??"
"Pizza dan makanan lain."
Gavriel bangun dari kasur dan pergi ke dapur untuk mengambil makanannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.