🐻Chapter 32🦊

369 34 19
                                    

Cw// anger, trigger

"Mas bisa jelasin ga, ada apa dengan semua ini??"

Gavriel mendekati Haze ingin memeluknya, namun Haze malah mundur. Sikap ini bukan yang Gavriel inginkan.

"Mas jelasin, tapi Mas mau adek duduk samping Mas."

"Ga, aku disini."

Jarak yang cukup jauh dari biasanya, tatapan Haze pun sulit di tebak, ia seperti marah, kesal, kecewa, namun wajahnya agak datar. Apa yang Gavriel takutkan benar-benar terjadi.

"Tapi adek sini –."

"JELASIN!!! ATAU GUE PERGI!!"

Nada Haze tinggi, Haze marah, wajah Haze merah, Gavriel melihat Haze mengepalkan tangannya. Nafasnya memburu, wajah cantiknya berubah menjadi menakutkan.

"Mas dari tadi mau jelasin masalah ini, tapi karena kamu tiba-tiba takut sama tatapan Mas, jadi Mas urungkan niat Mas untuk jelasin sama adek."

Kini, tidak ada lagi ketakutan di wajah Haze. Haze justru menatap balik lawan bicaranya walaupun respon tubuh alaminya sedikit bergetar melihat mata tajam itu terlihat lagi, Haze harus kuat menghadapinya.

"Jelasin Mas."

Nada itu mulai pelan, Gavriel menarik nafas panjang dan menatap Haze. Haze mengepalkan tangannya seperti siap untuk memberikan bogem mentah.

"Gini dek, beberapa waktu lalu Mas pergi ke Surabaya karena Papa Mas chat kalo Mama masuk Rumah Sakit. Mas panik dan Mas segera pergi kesana mengendarai mobil. Hampir seharian Mas nyetir mobil. Begitu sampai di alamat Rumah Sakit yang Papa kirim, tiba-tiba suasana di kamar rawat inap itu bukan seperti ruangan untuk orang sakit, lebih ke acara kecil-kecilan."

Gavriel berhenti, ia menatap Haze. Tatapan Haze benar-benar tidak bisa di baca, Gavriel takut Haze akan meledak dan pergi meninggalkan dia.

"Acara kecil-kecilan apa??"

Nada dan ekspresi Haze datar, Gavriel takut untuk melanjutkan pembicaraannya lagi, tapi ia harus selesaikan masalah yang sudah kadung Haze mengetahuinya.

"Acara kecil-kecilan pertunangan atau lebih tepatnya perjodohan."

"Perjodohan Mas sama siapa??"

Gavriel diam, Haze sangat penasaran. Lagi-lagi Gavriel menatap wajah Haze, Gavriel takut untuk melanjutkannya.

"Perjodohan Mas dengan kakak perempuanmu yaitu Luna."

Haze kaget, sangat kaget. Respon tubuhnya mulai aneh, tubuhnya makin bergetar, nafasnya memburu, ia kesal, ingin marah, ingin meledak, namun tubuhnya kaku. Gavriel bisa melihat mata marah Haze, wajahnya merah, tangannya makin mengepal kuat. Gavriel ingin memeluknya.

"Terus Mas terima??"

"Ya engga toh dek, kalo Mas terima, Mas ga akan pergi ke Jerman ngejar kamu sampe kesini. Mas bela-belain cuti 1.5 bulan yang mustahil pekerja lain dapat. Tapi Mas dapet karena Mas mau tinggal di Jerman sama kamu. Mas ga mau pisah sama kamu dek. Sungguh!"

"Kenapa Mas ga terima?? Kalian cocok. Mba Luna itu cantik, pinter, lulusan hukum sesuai dengan jurusan Mas, mandiri, dan satu yang ga bisa aku lakukan, memberikan keturunan."

DEG

Jantung Gavriel seketika berhenti berdetak sepersekian detik. Jantungnya mencelos saat Haze mengatakan kata itu. Haze tau bahwa semua orang tua menginginkan keturunan dari garis keturunannya. Apalagi Haze tau Gavriel adalah anak semata wayang keluarganya.

Forbidden Love or Fate Love ?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang