Setelah makan malam bersama, makanan Jerman cukup menarik di lidah Gavriel. Lidah kental masakan Indonesianya ternyata tidak berpengaruh saat ia mencicipi makanan negara lain, beda dengan Haze. Haze sangat merindukan masakan Jerman. Padahal ia baru saja tinggal di Indonesia kurang lebih 2 bulan lamanya, rindu masakan Jerman akhirnya tersampaikan.
Makanan penutup mereka datang, Gavriel menggenggam tangan Haze dengan sentuhan jempol besarnya pada punggung tangan Haze. Agak geli namun menyenangkan.
"Gimana makanannya dek??"
"Aku rindu banget masakan Jerman, Mas gimana?? Aneh apa justru enak??"
"Hmm, not bad but not sooo good. Masih enak nasi uduk pecel lele haha."
"Ihh iya lagi, adek kangen nasi uduk pecel lele. Nanti kalo adek pulang, ajakin adek kesana yaa Mas."
"Apapun buat adek."
Gavriel mencium punggung tangan Haze dengan tatapan sangat sensual. Mata mereka bertemu membuat wajah Haze merah merona.
"Bisa ga, ga usah flirting??"
"Ga bisa kalo adek di hadapan Mas."
"Gembel banget."
"Gombal sayang."
Tawa renyah Haze sambil mendongakkan kepalanya keatas membuat Gavriel ikut cengengesan. Mereka tidak sadar bahwa mereka berada di tempat umum, lebih tepatnya di resto mewah.
Setelah kenyang, Gavriel dan Haze berjalan kaki menikmati indahnya malam hari di Jerman. Suasananya cukup ramai, orang sibuk berlalu lalang. Banyak dari mereka bersantai untuk sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja, atau hangout seperti Gavriel dan Haze lakukan sekarang.
Tangan besar itu merangkul pinggang ramping Haze. Sesekali Gavriel mengecup pucuk kepala Haze saat Haze tersenyum takjub dengan suasana Jerman. Suasana malam yang sangat ia rindukan. Sejenak mereka habiskan waktu berdua tanpa melihat ponsel masing-masing.
Waktu menunjukkan pukul 10 waktu setempat. Haze tampak sedikit mengantuk, saat mereka duduk di sofa cafe, Haze menyenderkan kepalanya di dada sang dominan.
"Sayang, ngantuk yaa??"
"Hmm."
"Yaudah kita pulang yaa. Besok adek harus balik ke asrama."
Karena Haze masih menutup matanya, kantuknya tidak tertahan. Gavriel menggendongnya ala koala, persis seperti bayi koala. Kepala Haze ia letakkan di tempat ternyaman yaitu di ceruk lehernya. Gavriel pergi meninggalkan cafe dan berjalan ke parkiran restoran.
Dengan hati-hati, Gavriel menaruh Haze di kursi penumpang, ia rapikan baju, rambut serta memasang seatbelt, satu yang tidak terlewatkan adalah kecupan manis di kening Haze sebagai pengantar tidur. Gavriel sedikit berlari supaya Haze segera tidur dengan nyaman diatas kasur. Gavriel pergi meninggalkan restoran itu.
Setelah sampai parkiran Hotel, Gavriel lagi-lagi menggendong Haze. Kali ini ala bridal, karena ala koala sangat susah karena posisi Haze tidur lelap. Semua barang Haze ia masukkan kedalam tas termasuk ponselnya, lalu ia mengangkat tubuh Haze ke dalam gendongannya, dan mengunci mobil supaya aman.
Pasword pintu di tekan, Gavriel masuk dengan Haze lalu menutup pintunya. Haze benar-benar seperti bayi, tidurnya sangat lelap sekalipun guncangan jalan dari tubuh Gavriel, sama sekali tidak menggangu tidur Haze.
Gavriel menaruh pelan-pelan tubuh Haze diatas kasur, ia lepas sepatu dan kaos kaki Haze. Jam tangan, topi serta barang lain termasuk ponselnya Gavriel ambil supaya tidur Haze nyenyak.

KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Love or Fate Love ?
FanfictionDisclaimer : -BXB -ALL FICTION (jgn kebawa rl) -CW // TW // NSFW 🔞 -Fantasy -Harsh words -Ignore time stamp and typos -Photo by pinterest, twt, and more -Give me feedback (be wise reader) - jika ada kesamaan, kemiripan nama tokoh, cerita atau apapu...