🐻 Chapter 25 🦊

435 32 19
                                    

Setelah Haze terbang ke Jerman, Gavriel merasa kosong, seperti separuh hidupnya pergi. Namun, Gavriel lebih dewasa daripada Haze, ia harus lebih sabar menunggu kekasihnya 3 bulan kemudian kembali padanya.

 Namun, Gavriel lebih dewasa daripada Haze, ia harus lebih sabar menunggu kekasihnya 3 bulan kemudian kembali padanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gavriel jalan menuju parkiran, tak disangka Luna bertemu Gavriel di parkiran. Luna berlari menuju Gavriel, sedangkan orangtuanya mencari Luna, ternyata Mama inget kalau lagi-lagi yang Luna datangi itu adalah Gavriel temen Haze.

"Gavrieeellll."

Luna memanggil Gavriel sambil berlari, Gavriel menengok kearah sumber suara. Luna melambaikan tangan sambil tersenyum. Kedua orang tua Haze pun menyusul jalan di belakangnya.

Gavriel bingung, alasan apa yang harus ia jawab kalau mereka menanyakan keberadaannya.

"Gavriel?? Temen Haze kan??"

"Iya Tante, saya denger Haze pergi ke Jerman yaa??"

Lebih baik Gavriel tidak tahu, ia tidak mau hubungannya dengan Haze di ketahui orangtuanya tanpa konfirmasi dengan kekasihnya, karena selama ini mereka backstreet.

"Iya, barusan adek ngabarin kalo dia mau take off. Kamu ngapain disini?"

"Nganterin temen ke luar negeri tan."

"Oalah, kenalin Pah, temennya adek."

"Saya Gavriel om."

"Sepertinya kamu lebih dewasa dari Haze??"

"Dia Jaksa Pah."

Luna dengan sumringah mengenalkan Gavriel kepada Papa nya.

"Wahh hebat, kenal sama adek darimana??"

Gavriel ingin menjawab, namun lagi-lagi Luna menyela pembicaraan mereka.

"Dulu waktu Gavriel beli bunga di toko, ketemu adek dan mereka sempet berantem sih."

"Iya??"

"Bukan berantem om, tapi lebih ke salah paham, saya kira Haze itu pegawai di toko Luna, ternyata adeknya. Tapi hubungan kita baik ko sekarang."

Antara malu dan canggung Gavriel menceritakan awal ia bisa dekat dengan kekasihnya. Gavriel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kamu mau pulang sekarang??"

"Iya, maaf saya duluan yaa, om, Tante, saya pamit."

"Ohh iya, nanti kapan-kapan main ke rumah. Yaa walaupun adek ga ada, gapapa main ke rumah."

"Baik, kalau saya tidak sibuk tan. Saya duluan."

Gavriel membungkukkan tubuhnya lalu masuk ke dalam mobilnya. Senyum Luna merekah sampai mobil Gavriel pergi dari parkiran. Papa dan Mamanya melihat wajah anak perempuannya tersipu, dan mereka saling menatap.

Forbidden Love or Fate Love ?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang