54. Helium ♪

390 51 20
                                        

Hey SaS baru bisaaa kembali ~
Beribu maappp dari bubun untuk readers🫠
Masii adaa kan yg nunggu? Ya meskipun mereka udah ga tujuh cerita ini bakal utuh hhe 🫠

Happy reading Ners 🫶🏻

Happy reading Ners 🫶🏻

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

☀️🌻

"JANGAN!"

Sepertinya seisi kabin menoleh ke arah suara kencang barusan, yang jadi pusat perhatian pun celingukan malu, ya ampun. Barusan ia tidur dan malah berteriak jangan?

"Apasih Bang, baru 10 menit ni pesawat jalan lu udah turu, mana teriak gitu, mimpi apaan lu?" Saka gercep menghujani komentar.

Jay terdiam, mendadak bingung menjawab, ia menunduk, membiarkan kebingungan menggantung di udara.

Beberapa saat barulah mulutnya terbuka, "Gue gak inget mimpi apaan deh," lelaki itu menatap bingung sekitaran, adik-adiknya kompak memperhatikan dari tempat masing-masing, "Tapi pov mimpinya acak banget perasaan, bukan dari gue doang."

Saka mengernyitkan dahi mendengarnya.

"Ah tetep ae berisik lu Bang, noh Riki langsung bangun gegara lu," sahut Hesa.

"Mana gue tau bakalan teriak sih!"

Belum reda soal perdebatan antara mereka, guncangan khas perjalanan udara kembali terasa. Melihat ke luar ternyata langit gelap. Mungkin karena cuaca?

"Bang ini turbulensi lagi?" Riki jadi semakin gundah di sana, niatnya tidur pun diundur.

Seno mengangguk, meraih lengan Riki, "Iya, tenang aja, sini peluk lengan Abang."

Di sisi lain, feeling seorang Abang milik Hesa semakin paham, adiknya jauh lebih ketakutan saat ini. "Sabuk pengaman kamu kencang kan?" Hesa memastikan pada Juna.

"Ho'oh, dah ini," ungkap Juna seraya menunjukkan sabuk pengaman yang ada di tubuhnya.

"Ihh kok serem ya bang? Gelap," ucap Jaka bergidik sendiri anak itu.

"Iya, kayanya awan hujan gitu deh," balas Hesa asal tebak, mana tahu dia. Tetapi tangannya bergerak menggenggam tangan adiknya yang ternyata gemetaran. Berharap ini sedikit mengurangi rasa sang adik.

"Jaka nggak ngerasa sakit atau apa nih kan?" Perawat wanita itu bertanya, ia harus memastikan pasiennya tidak apa-apa dalam keadaan ini.

"Nggak, sama sekali nggak sakit kok, pusingnya juga hari ini ngga ada," ungkapnya jujur.

Mendengar itu semuanya merasa lega. Namun kelegaan tidak bertahan lama. Pengumuman agar sabuk pengaman dipakai dengan baik juga terdengar. Memang begitu jika turbulensi, pasti ada pengumuman yang meminta para penumpang mengenakan sabuk pengaman dengan baik.

Jay merasa makin tak nyaman saat guncangan masih terus berlanjut, "Guys? Aman kalian?" Jay melihat sekelilingnya.

"Aman, Jaka rada takut nih," Saka menyahut begitu juga Seno dan Riki yang sama-sama mengacungkan jempol.

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang