[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Happy reading Ners walaupun ga happy ceritanya 🥀 -☀️🌻-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berita itu terus menyebar, menggemparkan satu Indonesia bahkan mancanegara.
Kini sudah beberapa jam sejak kejadian. Sudah datang bala bantuan, dari kapal, speedboat, boat karet juga helikopter. Suaranya bising, bising sekali hingga membuat seseorang di sana tersadar.
Saat terbuka mata indahnya, langit nampak biru gelap dengan semburat jingga meskipun tak banyak. Lelaki itu menghela nafas, yang ia rasakan adalah dingin, sangat dingin, tubuhnya hampir tak berdaya jika saja tidak ingat seorang berharga baginya. Ditambah tubuhnya luka-luka dan normalnya terasa sakit kan? tapi ingatlah ia tak pernah merasakan itu.
Ia duduk, beralih menatap ke arah tubuh yang sebelumnya ia peluk. Itu, Riki. Nampak tak bergerak sedikitpun dengan keadaan mengiris hati sang Abang.
"Ki? Bangun, kita selamat, ayo bangun," Seno sedikit menggoyangkan tubuh adiknya, pelan. Takut adiknya kesakitan dengan luka-luka parah ditubuhnya itu.
Tapi sang adik tidak merespon sedikit pun. Dada Seno mulai sesak dibuatnya, oksigen seperti engan masuk ke paru-parunya. Dengan gemetar ia raba leher sang adik, mencari tanda kehidupan di sana, tapi yang ia dapat hanyalah diam sang adik, tanpa sedikitpun pergerakan dalam keheningan. Seno melihat lebih seksama keadaan yang lebih muda, benar-benar menyedihkan. Punggung adiknya hangus, kepala berlumuran darah yang mulai mengering, separuh wajahnya seperti tidak lagi seorang Riki. Seno tidak kuat untuk memandang lebih lama, ingin rasanya menyangkal keadaan namun jelas ia dapat mengerti atas kenyataan.
"ARGH! ΚΕΝAPΑ NINGGALIN ABANG, DEK!" Suaranya pecah, menggema di antara deburan ombak. Dadanya terasa ingin meledak, tenggorokannya pun seolah tercekik dengan tubuh tak lagi mampu bergerak.
Riki tetap diam di tempatnya. Tubuh itu tetap kaku. Tak terdengar ucapan asbun atau perilaku random bocah itu lagi, tak ada tingkah lucunya, tak ada, memang tak ada. Meski terasa mimpi tapi Seno cukup mengerti bahwa ini nyata.
Terasa begitu tak berdaya, air mata pun terus bercucuran begitu saja, namun Seno masih mampu berdiri. Lelaki itu seolah dapat kekuatan untuk bergerak dari langit yang semakin gelap, segelap pikirannya sekarang. Ia menatap laut lepas, angin cukup kencang membuat ombak terlihat lebih ganas. "Kalo Adek ga ada, buat apa Abang terus hidup?" Sebuah tanya yang ntah bagaimana cara menjawabnya meluncur begitu saja.
Nafasnya jadi semakin berat, ia melangkah lagi, satu dua langkah dengan begitu pelan, tatapannya masih kosong, seolah dalam dirinya tak ada lagi ketertarikan akan kehidupan. Seno sudah cukup mati-matian bertahan sejak keluarganya hancur, itu semua hanya demi melihat Riki tumbuh dewasa bersamanya lalu mencapai cita-citanya. Tetapi saat dewasa itu hampir datang dan cita-cita adiknya semakin dekat, lantas adiknya malah berpulang?