09: Pasrah Gua

5.3K 403 82
                                        

Seperti biasa Elvi hanya membeli makan malam di luar. Sepulang dari kantor ia tidak sempat untuk memasak. Mungkin waktunya menjadi ibu rumah tangga sudah banyak tersita karena profesinya sebagai wanita karir.

Jazzki tidak masalah dengan kesibukan Mamanya, namun terkadang ia heran mengapa Elvi begitu suka mengenakan rok kerja selutut yang press dengan tubuhnya. Elvi memang cantik. Meski sudah memiliki dua putra yang berusia remaja, namun wajahnya masih saja awet muda. Elvi terlihat seperti wanita berusia 25 tahun. Badannya masih bagus, wajahnya berseri dan rambutnya juga terawat rapi.

Begitupun dengan Yohan. Pria berbadan kekar nan tegap itu terlihat semakin berwibawa. Sikapnya tegas, apapun yang ia inginkan harus dilaksanakan, kudu dan musti benar. Semakin ke sini, Yohan terlihat semakin sibuk. Semakin sedikit menyempatkan waktu untuk keluarga, semakin sering pulang malam dan semakin sering berangkat pagi-pagi buta.

Obrolan keluarga melulu tentang sekolah dan harapan-harapan ke depan. Joanna sampai bosan mendengarnya. Apakah tidak ada topik menarik lain untuk dibicarakan?

Usai makan malam, Joanna hendak melanjutkan belajarnya yang sempat tertunda. Sedikit demi sedikit Joanna sedang membiasakan diri untuk belajar meski PR masih dikumpulkan minggu depan. Ada target yang musti Joanna capai, dan Joanna akan mengusahakan itu.

"Ayo tak otak, encer dikit dong. Masa dari tadi masih buntu ae," Joanna mengetuk keningnya menggunakan batang pulpen.

Joanna mengerang frustasi ketika kertasnya sudah banyak ternodai tipek. Joanna pun menyobek lembar kertas tersebut kesal---diremat hingga membentuk kepalan bulat. Lalu Joanna lempar ke tempat sampah.

Kalau nggak bisa seperti Jazz, minimal sepuluh besar!

Kamu harus cari potensi yang bisa kamu kembangkan

"Kenapa sih gue terlahir bodoh di saat saudara gue bisa sepinter itu?!"

"Tuhan aku nggak iri..." lirih Joanna.

"Jo... Lo nggak boleh nyalahin Jazz. Lo nggak boleh nganggep dia saingan, dia pantes dapat pujian dari Mama sama Papa karena dia memang hebat. Lo kalau mau seperti Jazz lo juga harus berusaha, oke... Jangan ovt, jangan ovt, jangan ovt...." Joanna merapalkan motivasi andalannya sambil menatap pantulan dirinya di hadapan cermin.

Joanna menarik nafasnya, menahan beberapa detik sampai sedikit terasa sesak. Kemudian menghembuskan nafas tersebut secara perlahan hingga dirasa perasaannya sudah sedikit tenang.

"Oke, pantang tidur sebelum pr lo rampung."

"Semangat, Jo...!" Joanna menyemangati dirinya sendiri.

●●●

Empat jam tak terasa berlalu sebegitu cepatnya. Sambil mencari berbagai sumber soal yang hampir serupa melalui internet akhirnya Joanna dapat menyelesaikan soal-soal yang rasanya sudah membuat kepalanya menjadi mengeluarkan asap tebal. Tak kebayang bagaimana rasanya menjadi Desta yang susah-susah mengerjakan di rumah, lalu sesampainya di sekolah main disalin oleh Joanna. Beruntung Desta orangnya tidak perhitungan.

Joanna meraup ponselnya, hendak memamerkan pada Desta jika tugas rumah matematika kemarin sudah selesai ia kerjakan.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JAZZKI & JOANNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang