"Kamu dari mana, Pa?"
Elvi terbangun mendengar suara decitan pintu. Padahal Yohan sudah berusaha untuk sepelan mungkin, namun tetap saja bunyi kecil tersebut mampu mengusik ketenangan istrinya. Atau mungkin perasaan Elvi sendiri yang menyadari jika sisi sebelahnya kosong.
"Habis jenguk Jo," jawab Yohan. "Ayo tidur lagi..." Yohan mengusap puncak kepala Elvi yang terbangun dengan mata mengantuk.
Elvi mengangkat kepalanya untuk sedikit bangun, pandangannya tidak luput saat Yohan menaruh ponsel di atas nakas.
"Kamu jenguk Jo pakai bawa hp?" tanya Elvi.
Yohan mendadak cengo dengan pertanyaan yang Elvi lontarkan. Sial kenapa bodoh sekali dia merogoh saku celana lalu dengan santainya menaruh ponsel di sana!
"Iya... Tadi sekalian nunggu Jo tidur sambil baca pesan yang belum sempat Papa balas tadi," alibi Yohan.
Elvi menatap wajah Yohan seperkian detik. Anggukan ringan pun mendarat dari kepala Elvi, ia percaya dengan perkataan suaminya. Lagi pula sedari tadi mereka disibukkan dengan kondisi Joanna, menjadikan masing-masing dari mereka tidak ada yang sempat menyentuh ponsel.
"Gimana keadaannya Jo, Pa?"
"Baik, dia udah baikan kok. Pernapasannya juga berangsur normal, kamu tenang aja anak kita nggak akan kenapa-napa, dia cuman kecapekan."
"Apa selamanya Jo bakal seperti itu? Mama nggak tega lihat dia kecapekan sedikit saja kondisinya langsung drop," ungkap Elvi.
"Humm..." Yohan meraih pundak Elvi, merengkuh istrinya itu supaya menyandarkan kepala di atas dada bidangnya.
"Jo itu kuat, kita yang jadi saksi bagaimana dia berjuang untuk bisa bertahan sampai hari ini," ujar Yohan ketika Elvi masih dalam posisi bersandar.
"Seandainya 17 tahun lalu Jo pilih nyerah, mungkin sekarang Jazz nggak akan punya saudara kembar," sambung Yohan.
Elvi mengangguk membenarkan.
17 tahun lalu, ketika Yohan dan Elvi dikaruniai putra kembar yang ternyata kondisi kedua putranya tidak sepenuhnya sempurna. Satu bayi yang memiliki paras serupa dengan bayi satunya divonis dokter mengalami kelainan jantung. Bayi dengan kelainan jantung tersebut tak lain ialah Joanna.
Joanna terlahir dalam kondisi kritis, ia harus dirawat berbulan-bulan di dalam ruangan inkubator. Anak sekecil itu harus dipasang dengan berbagai peralatan medis rumah sakit, sampai Yohan dan Elvi terbatas hanya untuk menyentuh Joanna. Hampir saja harapan mereka gugur lantaran tidak mendapat tanda-tanda kehidupan dari bayi mungil itu. Namun takdir tuhan berkata lain, tepat bulan ke tiga dirawatnya Joanna di rumah sakit, dokter memberikan kabar bahwa kondisi Joanna berangsur membaik dan boleh diberikan asi.
Kabar itu sontak membuat hati Yohan dan Elvi bergembira. Tetapi masih ada rintangan yang harus mereka hadapi. Joanna bisa bertahan hidup dengan syarat harus melakukan berbagai terapi dan pengobatan lainnya. Biaya yang digunakan pun tidaklah murah, alhasil Yohan dan Elvi berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan putra istimewa mereka itu.
Dan....
Jadilah Joanna hari ini. Bayi mungil yang penyakitan itu kini tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan rupawan. Tentu saja ia tak lepas dari rasa sakit yang sudah menjadi bawaan dari dia lahir.
"Beruntung Jazz nggak memiliki tanda-tanda penyakit yang sama," ujar Elvi mendongak menatap Yohan dari bawah.
Elvi memejamkan mata ketika kecupan singkat mendarat pada keningnya.
"Jangan capek ya Sayang. Kita sudah terlalu dalam untuk menyelam," ujar Yohan.
"Kalau ada kamu aku nggak akan capek," balas Elvi.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
General FictionSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
