35: Hati Kecil Joanna

4.9K 409 60
                                        

Joanna hanya bisa berkomunikasi lewat pergerakan sebagian jemari tangannya. Tulang-tulangnya terasa remuk padahal selama berada di rumah sakit ia hanya berbaring saja.

Dadanya pun sering tiba-tiba terasa sakit. Nyeri yang ada menjalar hingga ke ulu hati, terasa ada benda yang menusuk-nusuk. Joanna benci sensasi itu, ia tidak bisa banyak melawan, tubuhnya terlalu lemah untuk menghadapi rasa sakit itu sekarang.

Suara dokter yang terdengar asing di telinga tengah menegur Jazzki, Joanna bisa mendengarnya. Matanya hanya tertutup karena tidak memiliki banyak tenaga guna membuka mata, namun Jazzki sudah terdengar panik dan berulang kali meminta maaf. 

Demi apapun Joanna masih dalam hitungan sadar, rasanya ia ingin memaksa kedua matanya supaya terbuka dan menghentikan kepanikan Jazzki.

Gue nggak papa...

Nggak papa, Jazz...

Telunjuk tangan Joanna terangkat.

"Jo, lo bisa denger gue?" tanya Jazzki dengan suara bergetar.

Joanna kembali mengangkat telunjuk tangannya.

"Maaf, Mas. Sebaiknya anda keluar saja ya, kita beri pasien waktu untuk istirahat," dokter mulai merasa terganggu dengan interaksi Jazzki yang terkesan berisik di dalam ruangan.

"T-tapi..."

Jazzki tidak bisa melawan ketika dokter menggelengkan kepala ke arahnya. Helaan nafas mengudara usai menyadari jika perlawanan yang ia lakukan hanya akan sia-sia. Sebaiknya ia serahkan Joanna kepada dokter, tugasnya hanya memantau anak itu dari luar ruangan, setelah kondisi sudah memungkinkan pasti dokter akan mengizinkan dirinya masuk ke dalam lagi.

Jazzki tidak mau egois, bagaimanapun juga dokter jauh lebih tau kondisi pasiennya. Ia harus patuh daripada nanti tidak diizinkan masuk lantaran dianggap berpotensi membuat Joanna stress.

Begitu Jazzki keluar suasana terasa hening. Joanna dapat merasakan kehadiran Jazzki yang telah menjauh.

"Kalau kamu bisa mendengar suara saya, boleh kasih saya respon?" titah dokter.

Joanna mengangkat telunjuk tangannya sebagai jawaban.

Sebuah cahaya terang nan menyilaukan mata membuat kepala Joanna mendadak terasa berdenyut.

Rupanya dokter sedang memeriksa kedua matanya menggunakan senter kecil secara bergantian. Joanna memejamkan mata menikmati sensasi berdenyut yang membuatnya ingin mengalihkan cahaya senter itu dari matanya.

●●●

Elvi hanya bisa melihat Joanna dari kejauhan. Entah mengapa setiap melihat Elvi maupun Yohan kondisi Joanna langsung menurun. Seolah anak itu belum siap bertemu orang tuanya sendiri. Sampai-sampai dokter Naufal melarang keras Elvi dan Yohan untuk masuk menjenguk Joanna langsung di dalam ruangan.

"Jo, coba angkat tangan kamu seperti ini," titah dokter Naufal menuntun pergerakan tangan Joanna.

Bola mata Joanna turun menatap lengan tangannya yang terkulai lemas. Jangankan mengangkat tangan, untuk menggerakkan seluruh jemari tangannya saja ia kesulitan.

"Sakit nggak kalau diangkat?"

"Lemes katanya, dok," jawab Jazzki.

"Kamu bisa baca pikirannya Jo?" tanya dokter Naufal.

"Ekspresi wajah dia aja sih," balas Jazzki.

"Iya kah, Jo?" dokter Naufal memandang wajah Joanna yang datar.

Semenjak sadar dari masa-masa kritis Joanna lebih banyak diam. Sedari kecil Joanna memang pendiam, namun bukan berarti anak itu hanya datar ketika diajak berbincang, mungkin ia masih membutuhkan waktu. Terlebih terkena serangan jantung bukanlah kondisi yang bisa disepelekan, butuh ketenangan pikiran dan kondisi fisik yang stabil agar tubuh seseorang itu bisa pulih seperti sedia kala. Baik mentalnya maupun fisiknya.

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang