Berbicara empat mata di dalam toilet dengan pintu yang dikunci rapat tadi benar-benar membuat jantung Joanna berdebar menggila. Entah sejak kapan Yohan yang Joanna anggap ialah sosok Papa yang bertanggung jawab dan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga justru bertindak sebaliknya. Ternyata di balik jarangnya Papa mereka pulang, ada kesibukan lain yang selama ini tak pernah ia sangka.
Joanna ketakutan, ia tak pernah melihat Papanya menatap dan mengancam dirinya dengan begitu serius.
Joanna meraba dadanya yang masih bergemuruh, kepala Joanna mendongak dengan keringat yang bercucuran deras, bibir anak itu terbuka tipis membantu hidungnya yang saat ini tengah kepayahan meraup oksigen di sekitar.
Tidak mempedulikan kondisi Joanna setelahnya, Yohan membawa koper ke dalam mobil, ia bergegas meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada istri dan putra sulungnya. Meski tadi sempat panik karena rahasianya telah diketahui oleh Joanna, namun setelah mengancam anak itu tadi, Yohan yakin pasti Joanna tidak akan membuka mulut. Apalagi dia juga sudah menyelipkan banyak uang ke dalam saku seragam Joanna.
●●●
Bell pulang sekolah sudah berbunyi 1 jam yang lalu, bahkan gedung sekolah sudah sepi karena kebanyakan para murid telah pulang ke rumah masing-masing. Namun berbeda dengan para anak basket yang masih sibuk berlatih. Mereka berkumpul di tengah lapangan, melatih satu per satu anak untuk melakukan lay-up dengan benar.
Jazzki menjadi salah satu senior yang melatih adik kelasnya yang mengikuti ekstra basket tersebut. Beberapa kali Jazzki terlihat memberikan contoh menembakkan bola ke dalam ring dengan baik dan benar supaya bola tersebut masuk dengan sempurna.
"Argh...!" usai melompat Jazzki tiba-tiba mengerang kesakitan sembari memegangi kakinya.
"Kak, Jazz!"
"Kenapa, Kak?"
"Kaki Kak Jazz masih sakit ya?"
"Duh ... pasti gara-gara kebanyakan gerak dari kemarin,"
Jazzki langsung mendapat perhatian dari para murid perempuan karena melihat idola mereka kesakitan.
"Ah... Sssh... Nggak, gue nggak papa, kalian lanjut latihan lagi ya," ucap Jazzki memberikan senyum ke arah adik-adik kelasnya agar mereka tidak mengkhawatirkan dirinya.
Jazzki pun menepi ke pinggir lapangan, mengistirahatkan tubuhnya yang penuh akan keringat.
"Kaki lo belum sembuh?" tanya Rafa.
"Kemarin-kemarin udah aman sih gue bawa main, tapi nggak tau tiba-tiba kayak kram gini," Jazzki meringis merasakan rasa sakit pada kakinya.
"Lo kurang pemanasan berarti," kata Rafa meminta Jazzki mengselonjorkan kaki.
"Udah tadi," Jazzki melipat bibirnya ketika Rafa memberikan krim Counterpain pada area kakinya hingga ke atas lutut.
"Tadi gue lihat kaki lo nekuk kok pas habis lay-up."
"Emang iya?" tanya Jazzki tidak sadar.
"Iya, makanya kalau main tuh fokus. Jangan mata lo ke bola tapi pikiran lo kemana-mana."
Jazzki diam sejenak memikirkan pikirannya yang tiba-tiba tertuju pada Joanna. Sedari tadi ia memang kepikiran dengan anak itu, namun ia tidak tau apa alasannya. Ketika ia mulai mengalihkan perhatiannya, pikirannya justru melayang dan berakhir menjadi tidak fokus seperti sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
BeletrieSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
