Kali ini perasaan Joanna bukan lagi sekedar terluka, tetapi juga dibuat hancur berantakan akibat ulah keluarganya sendiri. Ia rasa ia tidak pernah merasa sesakit ini, selama ini omongan keluarganya memang kadang nyelekit tetapi tidak pernah sekasar malam ini.
"Pakek oksigen ya?" tanya Yohan seusai sampai di kamar Joanna.
Joanna menggeleng pelan, ia kecewa.
Melihat respon Joanna, Yohan lantas terdiam. Padahal anak itu terlihat susah bernafas sampai dadanya kembang kempis tidak beraturan, namun mengapa ia menolak waktu Yohan ingin memasangkan oksigen?
"Kenapa?" tanya Yohan.
Joanna berusaha mengatur nafasnya, supaya tidak terlihat memprihatinkan di depan Papa.
"Pakek dulu bentar," titah Yohan menyodorkan uap oksigen.
Joanna menepis alat itu, matanya justru kembali berkaca-kaca seolah tangisan tadi belum cukup puas untuk melampiaskan seluruh rasa sakitnya.
"Jo, lihat Papa," perintah Yohan.
Joanna terdiam, masih dengan posisi yang sama.
"Nafas kamu sesek, jangan nyiksa diri kamu sendiri. Ayo pakek," Yohan ingin memasangkan alat tersebut ke hidung Joanna namun Joanna justru memberontak dan tetap menggeleng kukuh.
"Tinggalin Jo sendiri, Pa," pinta Joanna bergerak memunggungi Yohan.
"Omongan Mama kamu tadi jangan kamu masukin ke hati, jangan dipikirin, lupain aja," ujar Yohan dengan begitu mudahnya.
Joanna yang mendengar sampai memejamkan mata, menelan bulat-bulat rasa sesaknya supaya tidak semakin memburuk. Apakah Yohan pikir, Joanna memiliki kelebihan untuk menghapus sebuah ingatan dengan mudah?
"Jo," Yohan menepuk pundak Joanna.
"Pa, kasih Jo waktu!"
Yohan melipat bibirnya, lalu mengesahkan nafas kasar. "Oke, Papa akan pergi. Tapi malam ini Papa nggak tidur di rumah," ucap Yohan.
"Sekarang kamu tau kan? Bagaimana sikap Mama kamu sebenarnya?" cicit Yohan.
"Cukup, Pa, cukup..." lirih Joanna tidak sanggup. Satu tangannya naik meremas dada, pundaknya seolah akan jatuh lantaran tidak kuat lagi untuk menopang tubuh. Tetapi ada sesuatu yang harus Joanna sembunyikan sampai Papanya keluar dari kamar.
Langkah kaki Yohan terdengar menjauh dari ranjang. Bunyi decitan pintu yang ditutup membuat Joanna akhirnya berani menoleh ke belakang.
Tes!
Joanna menarik beberapa lembar tissu.
Sial, hidungnya berdarah. Darah mimisan itu sebelum berhasil keluar telah menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa pada tubuh Joanna.
Ketika perjalanan menuju kamar kepala Joanna terasa begitu berat seolah sedang ditimpa benda berukuran besar. Alhasil ketika Papanya masih di kamar, terasa ada sesuatu yang mengalir di hidung, Joanna membalikkan badan, mengusap bawah hidungnya dan menemukan darah segar di sana. Ia tidak mau terjadi keributan lagi, jadi dia memilih diam dan menyembunyikan insiden itu dari Papanya.
Tok! Tok! Tok!
"Jo, gue masuk ya," suara Jazzki terdengar dari luar pintu kamar.
Joanna segera menarik beberapa lembar tissu bersih untuk ia gunakan membungkus bekas tissu kotornya. Ia meraup gawai yang tergeletak di atas nakas, layar ponselnya ia gunakan untuk bercermin; memastikan tidak ada jejak darah lagi di sana.
Jazzki perlahan mendekat.
"Jo..." panggil Jazzki pelan, sungguh ia tidak rela melihat Joanna diperlakukan seperti tadi. Jika bukan orang tuanya, sudah Jazzki pastikan ia tidak akan tinggal diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
Fiction généraleSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
