"Kenapa, kenapa Jo harus tidur lagi? Tadi dia udah buka mata, dia udah sadar... Jazz nggak lagi mimpi kan? Ini serius kan? Ma, kenapa Jo tidur lagi? Kenapa, Ma? Kenapa, Pa? Kenapa?!"
Kedua tangan Jazzki terangkat menggapai puncak kepalanya. Ia panik ketika melihat Joanna terlelap dengan wajah yang sempat menunjukkan rasa sakit. Jazzki tak tau harus berbuat apa, hatinya begitu kelu melihat Joanna terus merasa kesakitan bahkan ketika pertama menatap ke arah kedua orang tuanya.
Di tengah rasa khawatirnya, Yohan melihat kepanikan Jazzki semakin tidak terkontrol. Bibir anak itu pucat pasi, tangannya gemetar ketakutan hingga kedua kakinya tidak bisa diam; hanya ingin mondar-mandir sembari bergeming sendiri.
"Jo pasti baik-baik aja, Jo nggak bakal kenapa-napa," cicit Yohan mengusap pundak Jazzki. Menenangkan anak itu yang diluputi rasa cemas.
"Ini semua gara-gara Mama sama Papa!" sentak Jazzki tiba-tiba.
"Mama sama Papa yang udah buat Jo jadi seperti ini! Kalian yang udah lampiasin seluruh ego kalian ke Jo! Asal Papa tau, aku nggak akan biarin siapapun berani nyakitin Jo. Termasuk Papa atau Mama," ancam Jazzki dengan mata yang mengkilat tajam.
"Papa tau itu, Papa nyesel... Papa nggak tau harus minta maaf dengan cara apa lagi, Papa mau menebus seluruh kesalahan Papa ke kalian berdua. Kasih Papa waktu...!"
"Gimana Papa mau nebus kesalahan kalau Papa sama Mama bentar lagi mau pisah? Gimana caranya aku jelasin ke Jo?" tukas Jazzki.
"Papa bisa nebus dengan cara lain-"
"UANG?! Dengan uang Papa mau membeli kebahagiaan anak-anak Papa?" potong Jazzki.
"Jazz!" Yohan mendesis menahan gejolak emosi ketika mendengar Jazzki terlalu merendahkan harga dirinya.
"Sopan kah kamu bicara begitu ke Papa kamu sendiri?" tanya Yohan.
Jazzki membuang pandang ke arah lain, sama sekali tidak merasa bersalah usai berkata seperti itu. Dia memang bertujuan untuk menyadarkan kelakuan orang tuanya agar mereka sadar jika harta kekayaan bukanlah segalanya.
Yohan menghela nafas kasar. Ditariknya pundak Jazzki ke dalam dekapannya, tangan kekarnya menepuk pundak Jazzki berulang kemudian diakhiri dengan usapan lembut di belakang kepala anak itu.
"Papa minta maaf," ujar Yohan.
Jazzki membisu, matanya yang sayu masih belum bisa menerima sepenuhnya. Ia tidak tau bagaimana respon Joanna nantinya ketika tau jika kedua orang tuanya akan berpisah. Dan ... keluarga cemara itu mungkin sudah tidak bisa terlihat baik-baik saja lagi.
●
Dokter mengatakan dengan tegas jika kondisi psikis Joanna harus stabil. Selain fisiknya yang ringkih, psikis Joanna nyatanya sangat berpengaruh dengan kondisi kesehatan tubuhnya. Baru saja Joanna hampir drop, kondisinya yang menurun drastis bisa diakibatkan oleh rangsangan lingkungan di sekitarnya.
Dokter Naufal tidak memperbolehkan Joanna untuk dijenguk. Namun hal tersebut tidak berlaku kepada Jazzki, saudara kembar Joanna. Nyatanya kondisi Joanna selama ini bisa membaik berkat kehadiran Jazzki, mungkin anak itu akan merasa tenang jika berada di sisi Jazzki.
Dokter Naufal tidak mengizinkan kedua orang tua Joanna untuk masuk ruangan. Hanya Jazzki dan para medis saja yang diperbolehkan masuk.
"Jo, mana yang sakit hmm?" Jazzki menyentuh permukaan tangan Joanna dengan sangat hati-hati.
Sang empu menatapnya, Joanna sudah sadar sejak beberapa menit lalu setelah mendapat penanganan.
"Dada masih sakit? Sakit banget ya?" tanya Jazzki.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
Fiction généraleSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
