"Jo! Lo harus tau ini!"
Tanpa babibu Jazzki langsung beranjak ke kamar Joanna. Berniat memberitahu saudara kembarnya itu mengenai pemandangan yang sedang berlangsung di bawah sana.
"Eh ... lo kenapa pakek oksigen?" tanya Jazzki mengurungkan niatnya untuk langsung menyeret Joanna ke balkon kamar.
Joanna membuka matanya yang semula terpejam. Bibir Joanna terbuka tipis membantu penyerapan oksigen supaya lebih teratur masuk ke dalam paru-parunya.
"O-obat ... gue ... tolong ..." cicit Joanna tersengal diiringi batuk kering yang terasa menyiksa tenggorokan.
"Haish... Bukannya tadi lo udah baikan?" Jazzki menatap khawatir wajah Joanna yang berubah menjadi pucat, padahal baru beberapa menit lalu ia melihat rona bibir Joanna sedikit merah muda.
"Untung gue nggak berangkat sekolah, kalau sampai lo sendirian di rumah gimana? Kalau sampai lo kenapa-napa gimana? Kan nggak ada yang nolongin..." dumel Jazzki memegangi gelas yang sedang Joanna minum.
"Gue sendiri juga capek selalu begini," Joanna berucap lesu.
Mata Joanna kian berkaca-kaca, panas. Seperti ada cairan bening yang hendak tumpah, Joanna mengedipkan matanya berkali-kali menahan sejuta perih yang ia simpan sendiri.
Benteng pertahanan Joanna nyatanya terlalu tinggi untuk tidak memperlihatkan sisi lemahnya. Hal yang terjadi saat ini, seperti ketika Joanna tidak sadarkan diri, semua itu berada di luar jangkauannya. Jikalau bisa, Joanna tidak ingin terlihat begitu lemah di hadapan orang-orang.
"It's okay, Jo. Nggak usah sedih," Jazzki hendak merengkuh tubuh Joanna namun anak itu menolak.
"Kalau mau nangis, nangis aja. Keluarin semuanya, biar lega," ujar Jazzki.
Joanna menggeleng, menarik sepasang earphone untuk mengalihkan rasa sedih yang tengah menyelimuti hati serta pikirannya.
"Oke kalau lo lagi butuh waktu sendiri, nanti kalau ada apa-apa atau perlu sesuatu lo bisa panggil gue," pesan Jazzki.
Joanna menganggukkan kepalanya.
●●●
Lima hari kemudian...
Pekan ini SMA Galaksi akan melaksanakan ujian kenaikan kelas. Biasanya ujian dilaksanakan hari Senin, namun kali ini berbeda. Ujian dilaksanakan hari Selasa, sementara di hari Senin para murid diberikan kegiatan untuk membersihkan ruangan kelas dan belajar mandiri untuk menghadapi materi.
Sempat melewatkan hari-hari terakhir sebelum ujian dilaksanakan, Joanna merasa sayang dengan kesempatan tersebut. Hari dimana ia tidak berangkat merupakan hari ketika pematangan materi-materi penting. Alhasil Joanna membalasnya dengan tidak tanggung-tanggung, ia begadang lagi untuk mempelajari rumus. Menghafal materi non-perhitungan yang juga sangat berguna untuk menambah nilai rapornya.
"Jo, lo mau seblak atau bakso?" tanya Desta ketika berada di gazebo Galaksi yang tersebar di berbagai titik.
Pukul sebelas siang, sekolah sudah memperbolehkan siswa-siswinya untuk pulang ke rumah mempersiapkan dirinya masing-masing. Namun berbeda dengan Joanna yang menunda waktu pulang dan kini sedang belajar sambil menunggu waktu les tiba.
"Gue masih kenyang, lo makan duluan aja," ujar Joanna.
Desta mengerjabkan matanya. Kedua matanya sudah terasa perih sebab bermain game sejak tadi. Rupanya Desta di situ hanya menemani Joanna belajar. Desta ialah tipe anak yang santai, tanpa belajar pun ia sudah pasti bisa menghadapi ujian.
Setiap guru menerangkan di dalam kelas, Desta terlihat mengabaikan namun anehnya anak itu tetap paham akan materi yang sedang dijelaskan. Yeah ... memang nasib Joanna dikelilingi oleh anak-anak yang IQ nya di atas rata-rata.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
Ficción GeneralSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
