Perasaan bersalah, khawatir, sedih bercampur aduk di dalam benak Yohan waktu ia mengetahui kabar buruk mengenai putranya, Joanna. Yohan dan Elvi saling terdiam di balik jendela rumah sakit menatap kedua putra mereka, tak ada yang berani masuk atau sekedar menyapa layaknya keluarga pada umumnya.
Mereka seolah sedang menjaga jarak aman, tak ingin melukai satu sama lain. Berusaha menciptakan ketenangan di tengah badai yang menerjang.
"El," panggil Yohan setelah sekian lama mereka berdiri berdampingan namun hanya membisu sibuk memikirkan pikiran masing-masing.
Elvi menyahut dengan gumaman. Tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari putranya yang sedang berada di dalam ruangan. Sengaja membatasi kontak mata dengan mantan suaminya, tidak ingin menorehkan luka yang semakin dalam.
"Saya boleh masuk sekarang?" tanya Yohan meminta pendapat Elvi.
"Saya kangen anak-anak," sambung Yohan membuat hati Elvi seketika berdesir.
"Silahkan, tapi jangan sampai mereka bangun," Elvi menanggapi permintaan Yohan.
Yohan mengangguk paham. Ia masuk dengan langkah yang penuh kehati-hatian.
Yang pertama Yohan sentuh ialah Jazzki, lantaran anak itu tertidur meringkuk di sofa rumah sakit. Yohan menyelimuti Jazzki dengan selimut tipis yang kebetulan ia bawa dari mobil. Yohan mengusap kening Jazzki lembut, ia menaruh kecupan singkat di sana setelah helaian rambut ia singkirkan dari kening sang putra.
Kemudian Yohan beralih kepada Joanna. Listrik jantung yang terhubung dengan mesin EKG membuat kondisi Joanna lebih mudah dipantau. Yohan tersenyum kecil melihat infus Joanna yang dilengkapi stiker beruang, mengingatkan Joanna waktu masih balita. Waktu anak itu takut-takutnya dengan jarum infus.
"Ssssuut...." Yohan mengusap-usap pangkal hidung Joanna kala anak itu melenguh, mungkin menyadari jika di dekatnya sedang ada seseorang.
Usapan Yohan turun ke dada Joanna. Dada yang selalu dibiarkan telanjang setiap mendapat perawatan rumah sakit.
"Kalian harus tetap bertahan, demi putra saya," tutur Yohan menepuk lembut dada Joanna sebelah kiri di mana letak jantung berada.
"Eungh..." Joanna melenguh menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.
"Sssut... ssut..." Yohan mendesis lembut layaknya seorang ayah yang menenangkan putranya ketika terbangun di tengah malam.
Yohan menyingkirkan helaian rambut Joanna yang turun hingga menutupi kening, Yohan menyibaknya pelan lalu menciumnya dengan mata terpejam. Yohan turut mencium pipi kiri Joanna, batinnya tengah merapalkan doa kepada sang pencipta agar segera menyembuhkan putranya yang sudah belasan tahun menderita.
Ia melepas ciumannya, namun setelah itu kelopak mata Joanna bergerak tipis. Anak itu hampir bangun setelah Yohan selesai mengecup pipinya, Yohan buru-buru pergi sebelum Joanna membuka matanya dengan sempurna.
"P-papa..." lirih Joanna. Matanya masih berusaha fokus mengikuti gerakan bayangan yang sangat cepat.
Joanna terbangun dengan wajah polos. Ia menatap pintu ruangan lamat-lamat, tidak begitu yakin jika pintu tadi benar-benar baru saja ditutup. Seakan baru saja ada orang yang masuk ke ruangan.
Joanna menyapu pandangannya, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia merasa haus, sementara Jazzki tengah tertidur pulas di sudut ruangan.
"Ssh," ringis Joanna saat mengangkat pundaknya hingga setengah duduk.
Joanna menyandarkan tubuhnya sebelum bergerak lebih. Kemudian ia menjulurkan lengan tangannya hendak menggapai gelas minum yang berisi air.
Joanna berusaha mencapai permukaan nakas, lengan tangannya sudah maksimal lantaran tubuh Joanna terikat dengan kabel-kabel yang saling berhubungan. Sebelum jemari tangannya yang berkeringat berhasil mengangkat gelas, lembab telapak tangannya justru membuat gelas itu terasa licin hingga akhirnya tergelincir dan jatuh ke lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
Fiction généraleSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
