45: Pengunduran Diri

4K 363 153
                                        

Sebelum baca boleh difollow dulu bagi yang belum follow andarrr. Kalian menyenangkan author dan author menyenangkan kalian😎

Adegan di bawah ini mengandung unsur 🔞. Jika keberatan boleh langsung skip, tapi kalau nekat pingin baca ya silahkan aja.

Happy reading! I hope you enjoy!!

●●●

"Gara-gara Elvi semuanya jadi salah paham!"

"Dulu aku minta Jazz supaya ikut aku agar Elvi sadar peran dia sebagai seorang Mama. Tapi karena waktu itu kita sama-sama emosi, nada kita tinggi seolah tidak ada yang mau merawat Jo. Pasti gara-gara itu sekarang Jo membenciku," cecar Yohan menghembuskan nafas kasar.

Yohan sadar jika Clarissa sudah memasuki kamar. Wanita itu membawa secangkir kopi hangat yang ia buat khusus untuk Yohan malam ini.

"Sudah jangan marah-marah terus," ujar Clarissa memijit pundak Yohan dengan gerakan lembut.

"Kamu bisa lihat tadi, bagaimana figur aku sudah tercoreng di mata Jo. Tidak pernah putraku itu membentakku sebelumnya, tidak pernah dia berkata kasar. Aku ingin perbaiki semuanya tapi anak-anakku seolah menolak," terang Yohan.

"Kamu ingin perbaiki semuanya? Apakah kamu ingin memperbaiki hubungan kamu dengan Elvi?"

"Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan anak-anakku, bukan dengan wanita itu!"

Clarissa tersenyum lega mendengarnya. "Mm ... kenapa kita tidak menikah saja? Lalu kita rawat anak kamu bersama-sama?"

"Kamu pikir Jo mau jadi anak tiri kamu?" jawab Yohan tanpa berpikir panjang. Ah, sekarang tidak perlu tes DNA lagi jika Jazzki suka asal ceplos karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Mata Clarissa mendelik mendengar ocehan yang spontan keluar dari mulut Yohan. Namun tenang saja, wanita itu cukup kebal dengan segala perkataan kasar yang keluar dari mulut Yohan. Jangan lupa, pria itu sudah memberinya banyak uang jangan sampai dia kehilangan pria matang, mapan dan tampan itu hanya karena mempermasalahkan perasaan.

"Memangnya kenapa istri kamu juga tidak mau bersama Jo?"

"Jo sering sakit-sakitan sejak kecil. Sebulan nggak masuk rumah sakit aja belum pernah, jantung dia lemah. Kadang kalau detaknya menurun dia bisa langsung pingsan. Seringkih itu putraku."

"Anak malang... andai dia bersamaku sudah kurawat dia dengan sepenuh hati," beo Clarissa memainkan rambut Yohan.

"Yang benar saja kamu," timpal Yohan tidak percaya begitu saja.

"Tentu," Clarissa mencium puncak kepala Yohan. Menghirup dalam-dalam aroma rambut Yohan yang sangat maskulin.

"Lalu bagaimana dengan Jazz?" Clarissa ingin tahu lebih banyak tentang keluarga Yohan. Sebuah angin segar ketika mendengar keluarga pria itu akhirnya berantakan.

"Kamu sudah pernah bertemu Jazz sebelumnya?" tanya Yohan.

"Sudah, tapi hanya sekilas. Mirip sekali bukan dengan wajahnya Jo?"

Yohan mengangguk.

"Dia pandai, aku seperti melihat cerminan diriku waktu remaja setiap melihat proses keberhasilan Jazz. Dia putraku yang paling membanggakan, aku bangga bisa menurunkan bakat-bakatku kepada Jazz, makanya aku nggak rela dia ikut Mamanya apalagi sampai dirawat Mamanya," ujar Yohan.

"Bisa-bisa anak itu terlantar, sama sepertiku," sambung Yohan.

"Hum... aku rasa sepertinya Jazz cocok ikut kamu. Kita nikah terus salah satu anak kamu ada yang ikut kamu," ujar Clarissa begitu mudahnya.

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang