"Tapi kalau lo sama Jazz masih satu rumah?"
Pagi itu Joanna dan Desta membolos alias tidak mengikuti kegiatan upacara bendera. Mereka berdua justru menyeduh pop mie di rooftop sekolah ditemani es cekek rasa jeruk.
Bersama Desta hari-hari Joanna terasa lebih leluasa. Dia tak kalah perhatian seperti Jazzki, namun cara Desta memperlakukan Joanna tidak pernah berlebihan. Tidak membatasi kegiatan atau makanan yang dikonsumsi Joanna. Ia tau sahabatnya itu memang ringkih, tetapi Desta tak pernah memandang Joanna seperti itu. Ia tidak memandang Joanna penyakitan.
Mungkin Jazzki jauh lebih paham bagaimana kondisi Joanna. Ada alasan tersendiri mengapa Jazzki begitu cerewet mengatur Joanna untuk melakukan ini-itu.
"Masih lah," cup panas berisi mie tersebut Joanna seruput perlahan. Kuahnya cenderung asin padahal bumbu mie tidak ia tuang seluruhnya.
"Lo akur kan sama dia?"
"Dia baek kok," puji Joanna tanpa sadar.
"Yah walaupun suka ngeselin, tapi sebenarnya baek. Gue gak tau gimana nasib gue kalau gak ada Jazz di sini," tutur Joanna terkekeh kecil. Sepertinya ia belum sadar atas apa yang sedang ia bicarakan sekarang.
"Lo--"
"Hey!"
"Shit!" mie di tangan Joanna hampir jatuh akibat mendengar suara mengejutkan di tengah keheningan.
"Ngapain nggak ikut upacara?" tanya siswa yang tak lain merupakan anggota osis.
Dua siswa anggota osis itu menghampiri Joanna dan Desta yang sedang duduk santai di pojok tembok---menghindari silau matahari.
"Laper, belum sarapan," jawab Desta.
Joanna langsung menaruh mie nya. Sial dadanya langsung berdebar cepat gara-gara dikejutkan dengan suara mereka yang ngebass. Model suara seperti itulah yang ditakuti para adik kelas ketika jurit malam.
"Kok yang lagi nunduk mirip Jazz," bisik salah satu rekannya.
"Kalian kelas berapa?" tanya siswa itu.
"Dua belas," timpal Desta. "Emang bell udah bunyi? Kok gak kedengeran," alibi Desta yang sebenarnya sudah merencanakan untuk membolos di tempat tersebut.
"Lagian kenapa nggak sarapan di rumah? Kan tau hari ini mau upacara, ayo ikut kami turun ke bawah," titahnya tegas.
"Biasa aja dong, nyolot gitu mulut lo," jawab Desta tidak terima siswa itu sok keras di hadapan dewan ambalan.
Lagian Desta ini kan DA (Dewan Ambalan) kenapa siswa itu bisa tidak mengenali wajahnya? Songong banget lagi.
Joanna yang menyadari jika perbuatannya salah dan dia tidak mau memperpanjang masalah, akhirnya dia berdiri lalu menepuk celananya yang berdebu akibat duduk di atas keramik rooftop.
"Ayok, ikut aja daripada kena," ujar Joanna.
Joanna dan Desta mengikuti kedua siswa yang mengantarnya menuju lapangan utama Galaksi.
Sialnya Joanna dan Desta disuruh baris di hadapan para murid meski sudah dinego oleh Desta namun para petugas osis tidak merubah keputusan mereka.
"Sorry ya, Jo. Gara-gara ajakan gue kita jadi dihukum," bisik Desta ketika mereka berdua menjadi sorotan satu sekolah.
"Gak papa," jawab Joanna enteng. Salah dia sendiri yang mau diajak Desta bolos.
"Tau dihukum mending tadi kabur," celoteh Desta.
Joanna baru sadar jika Jazzki menjadi pemimpin upacara. Jazzki berdiri tegak di hadapan pembina, diam-diam anak itu melirik ke arah Joanna yang sedang dihukum. Namun di sana Jazzki tetap profesional, ia fokus pada aba-aba yang diberikan oleh protokol upacara.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
Ficción GeneralSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
