Guys sebelum mulai membaca boleh nggak kalian follow akun aku dulu, biar makin nambah followersnya hehe...
Makasih ya sebelumnya ♤♡◇♧
●●●
Joanna berjalan dengan sedikit membungkuk lantaran ketika pundaknya tegak sempurna rasa nyeri di area dada masih sangat mengganggu. Jaket kulit berwarna hitam juga belum ia lepas untuk menghindari angin dingin yang terasa menusuk-nusuk tubuhnya.
Efek hari pertama ujian, Jazzki menyisir rambutnya dengan rapi menjadikan tampang mereka berdua semakin tidak bisa dibedakan. Jika sudah begini, anak-anak pasti harus memincingkan mata berkali-kali sampai bisa membedakan kedua bocah kembar tersebut.
Tas Jazzki dominan banyak terdapat aksesoris berupa gantungan kunci yang ia sematkan pada masing-masing resleting tasnya. Gantungan tersebut hasil dari pengalamannya berkelana mengelilingi berbagai penjuru kota. Mulai dari jambore, perkemahan bakti, olimpiade, cerdas cermat, turnamen dan banyak kegiatan lainnya. Jadi ketika berjalan, ada bunyi-bunyi khas yang dikeluarkan oleh perintilan tersebut.
Lain halnya dengan Joanna, tas anak itu dibiarkan polos begitu saja. Tanpa manik-manik atau aksesoris apapun.
"Jo."
"Hm?"
"Ngambek lo?"
"Ngapain gue ngambek?"
"Lo diem aja dari tadi, padahal gue megang-megang pundak lo tapi lo nggak cerewet," ujar Jazzki.
"Kalau gue cerewet lo juga nggak bakal ngelepasin kan?"
"Tapi gue lebih suka lo cerewet, Jo. Kalau lo banyak omong gue lega dengernya, artinya lo sehat lo nggak kenapa-napa. Kalau lo diem aja gue takut lo kenapa-napa," jelas Jazzki.
"Gue masih bisa jalan itu artinya gue nggak papa."
"Yaudah kalau gitu jangan diemin gue mulu," pinta Jazzki.
Jazzki tiba-tiba menghentikan langkahnya. Telapak tangannya menepuk kening seolah baru saja mengingat sesuatu.
"Gue kan ada janji mau ke kantor guru!" ujar Jazzki.
"Sekarang?" tanya Joanna. Padahal tadinya Joanna ingin meminta bantuan Jazzki untuk membantu mengumpulkan obat-obatnya yang bercecer menjadi satu dalam satu tabung yang sama.
"Iya, kenapa?" Jazzki mengernyit melihat ekspresi Joanna.
"Oh ... gapapa," sambung Joanna.
"Gue duluan ya, buru-buru nih keburu jam masuk," pamit Jazzki menepuk pundak Joanna dua kali, setelahnya anak itu langsung ngacir pergi.
"Duh, mana gue belom minum obat lagi," cicit Joanna kebingungan mengingat obatnya yang tercampur.
Sebenarnya Joanna hafal-hafal saja jenis obatnya, namun ia malas melihat rupa obatnya menjadi bersatu dengan obat lain sehingga dia perlu merapikan jenis dan bentuk obatnya terlebih dahulu. Baru setelah itu Joanna mau minum obat lagi.
●●●
"Gue nggak enak kalau anak kelas tau gue ngonsumsi obat sebanyak ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
Fiction généraleSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
