49: Main-Main Sebentar

1.7K 240 26
                                        

Entah sudah berapa banyak kasus yang Jazzki buat pada pekan ini.

Jazzki hanya manis di hadapan Joanna, selain itu dia mudah sekali tersulut. Menjauh dari teman-teman yang dulu ia anggap sahabat karibnya. Nyatanya mereka tidak selalu ada di saat Jazzki butuh waktu, mereka sama seperti Pak Hengki yang selalu menuntut Jazzki untuk sempurna.

Jazzki ingin berdamai dengan isi kepalanya namun tak ada yang mau mendengar suaranya. Orang lain membutuhkan kepintarannya namun Jazzki sendiri sedang kacau. Perceraian kedua orang tuanya, menyaksikan perbuatan Mama dan Papanya sendiri sudah membuat Jazzki benar-benar terpukul.

Sia-sia, buat apa jadi anak pintar?

Pertanyaan itu tengah berputar di benak seorang remaja yang berjalan melamun di koridor kelas.

"Jazz tadi udah keluar, Des?" tanya Joanna yang baru kembali setelah ke kamar mandi.

Desta menoleh sekilas, memandang tempat duduk Jazzki yang sudah tidak ada batang hidungnya.

"Iya kalik, orang nggak pamit," Desta dan Jazzki tak begitu akrab. Jadi wajar jika Jazzki melenggang keluar dari kelas tanpa berkata apapun pada Desta.

Joanna melihat jaket Jazzki masih tertinggal di dalam laci.

Joanna mengambilnya, mungkin Jazzki lupa.

"Lo pulang kapan?"

"Bentar lagi, komplek gue katanya mati lampu daripada gabut di rumah wi-fi mati," jawab Desta tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel yang ia mainkan dalam posisi miring.

"Katanya mau nyoba mie level deket GOR, jadi kaga?" Desta melirik Joanna yang berdiri di sebelahnya.

"Lain kali deh, perut gue lagi nggak enak," Joanna mengenakan jaket Jazzki. Ia tak bohong, perutnya memang kurang enak sejak pagi.

"Di luar gerimis noh. Lo satu motor sama Jazz apa motoran sendiri?"

"Jadi satu," tukas Joanna. "Kayaknya dia udah nunggu gue."

"Paling masih di lapangan, orang belum lama dia tadi duduk di situ."

"Duluan!"

Aroma parfum yang bersumber dari jaket Jazzki menyeruak begitu Joanna memakainya. Jaket itu selalu Jazzki pakai setiap berangkat dan pulang sekolah, salah satu jaket kesayangan Jazzki karena hadiah dari Papanya.

Joanna juga punya namun jarang dipakai di sekolah. Lantaran terdapat bordir di belakang punggung dengan nama panggilan mereka masing-masing. 

Jazz dan Jo.

Jazzki menganggapnya keren, namun Joanna menganggapnya alay. Jaket aja harus dikasih nama.

Sebelum menuruni anak tangga, Joanna melihat ke gedung bawah barangkali Jazzki masih ada di sekitar.

Mungkin nunggu di parkiran.

Hujan turun dengan frekuensi yang lumayan cepat, deras.

Siswa-siswi yang tadinya masih bersantai di kursi koridor mulai bergegas pulang sebelum hujan semakin lebat dan berakhir terjebak di sekolah sampai petang.

Joanna merapatkan jaketnya, hawa dingin menusuk kulitnya.

Koridor kelas yang sepi, hanya dilalui satu dua siswa.

Joanna menoleh ke belakang, merasa ada langkah kaki yang berada di belakangnya sejak melewati tangga lantai tiga.

Tidak ada siapa-siapa.

Joanna melanjutkan perjalanannya.

Baru pukul 15.30, kendati cuaca mendung dan lampu belum dinyalakan membuat lorong kelas terlihat gelap.

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang