Kain tebal yang menyelimuti serta sandaran yang berubah menjadi nyaman membuat Jazzki merasa ada yang berbeda dari letak posisinya. Seingatnya ia tidur di samping Joanna, lalu sayup-sayup ia seakan dibangunkan tetapi Jazzki tidak mau membuka matanya.
Entah sejak kapan, kening yang setia hangat itu kini sudah tertempel plaster pereda demam. Jazzki membuka mata, menemukan dirinya tengah bersandar pada pundak Papanya. Duduk di kursi tunggu rumah sakit dan tubuhnya diselimuti sebuah jaket. Yohan membiarkan tubuhnya hanya terbalut kaos tipis lantaran mementingkan tubuh Jazzki ketimbang tubuhnya sendiri.
Jazzki bergerak perlahan; sangat berhati-hati supaya tidak membangunkan Papanya yang juga tengah menutup mata. Tangan Yohan Jazzki pindahkan dari bahunya dengan gerakan pelan.
Sedangkan di kursi seberang ada Elvi tengah duduk bersandar sembari menyilangkan tangannya. Jazzki menatap wajah mereka dengan begitu lama, nyatanya, ada rasa rindu suasana makan malam keluarga. Rasa rindu kala sarapan bersama yang tidak bisa dilakukan rutin setiap pagi, dan kebersamaan kecil lain yang entah bisa terulang atau tidak.
Jazzki menggelengkan kepalanya. Membuyarkan ingatan yang sempat berputar di kepalanya. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Joanna. Kondisi anak itu bahkan belum membaik, aktivitas listrik jantungnya naik turun tidak teratur, nafas tidak stabil dan belum ada tanda-tanda kesadaran.
Di dalam ruang ICU, Jazzki melihat ada tiga perawat yang memantau pasiennya. Tengah malam seperti saat ini, mereka terlihat sedang menulis sesuatu pada papan yang tengah dibawa. Jazzki berada tepat di depan jendela transparan yang tembus pandang.
"Astaghfirullah! Kok pasien ada dua?!" Salah satu tenaga medis itu terkejut bukan main ketika membuka pintu dan menemukan Jazzki berdiri di luar ruang ICU. Saking kagetnya, papan yang suster itu bawa sampai terjatuh ke lantai.
Jazzki ikut berjingkrak kaget melihat Suster itu tiba-tiba ketakutan.
"Ya tuhan... kamu nggak tau ya kalau pasien di dalam punya kembaran?" Perawat lain keluar mendengar keributan. Sementara lampu langsung dinyalakan, kini Yohan dan Elvi terbangun dengan wajah bingung.
Jazzki mengusap dadanya yang berdetak cepat.
"Suster apaan sih, bikin kaget aja," cicit Jazzki tidak menyangka jika wajah tampannya membuat orang lain seketika ketakutan.
"Maaf, Mas. Saya nggak tau, tadi saya habis memeriksa kondisi pasien di dalam, wajahnya sama persis kayak Mas. Saya kaget, saya pikir pasien yang saya periksa tadi tiba-tiba udah berdiri di luar, maaf sekali lagi ya Mas, Pak, Bu," ujar Suster itu meminta maaf kepada keluarga Jazzki. Wajahnya terlihat tidak enak setelah membuat satu keluarga itu ikut terkejut.
"Saudara saya masih di dalem, Sus. Dia kan belum sadar, mana bisa dia tiba-tiba keluar," protes Jazzki menunjuk Joanna yang masih terbaring di atas brankar.
"Iya, sekali lagi saya minta maaf. Jam-jam segini memang rawan, Mas. Saya kira ada yang menyerupai atau gimana, saya nggak tau kalau Masnya kembar dengan pasien di dalam," jelas Suster.
"Udah, Jazz," Yohan menepuk pundak Jazzki. "Bagaimana kondisi anak saya, Joanna," tanya Yohan.
"Dari data yang kami baca, kondisi pasien masih sama, Pak. Kami tidak bisa memastikan kapan pasien bisa kembali sadar, perawatan pasien di dalam ruang ICU masih tetap berlanjut selama kondisi pasien belum benar-benar stabil," jelas Suster tersebut, namun Yohan lebih 'srek' dengan penjelasan dokter Naufal. Beliau sudah pulang sejak pukul sepuluh lalu.
"Sekali lagi saya minta maaf. Saya permisi, mari Pak, Bu."
"Terimakasih, Sus," jawab Yohan.
"Malem-malem bikin kaget aja," beo Jazzki.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
General FictionSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
