Tidak ada yang aneh dengan bangunan yang berdiri kokoh dengan nuansa putih abu itu. Bangunan tersebut merupakan rumah yang menjadi saksi kenangan manis dan pahit yang pernah dilalui bersama.
Satu keluarga yang tidak begitu akrab dengan tetangga. Rumah hanya dijadikan sebagai tempat istirahat dikala lelah menyapa. Kehidupan yang monoton kerja dan kerja, mencari pelampiasan di lingkungan luar untuk bertahan dari segala tekanan yang menimpa.
Buta.
Sebenarnya seluruh anggota keluarga Albara menyadari tetapi mereka hanya bungkam seribu bahasa. Sibuk memikirkan pikiran masing-masing, menyimpan rahasia sana-sini hingga akhirnya boom waktu itu meledak dan melukai orang-orang di sekitarnya.
Kebersamaan yang hanya sekedar formalitas dan kebahagiaan anak-anak yang bisa dibeli dengan fasilitas.
"Diem bae lo," beo Jazzki menyadarkan lamunan Joanna.
Joanna menggelengkan kepala, ia masih tidak menyangka jika dirinya bisa kembali pulang ke rumah ini. Bayangan pertengkaran hebat kala itu masih berputar di kepalanya. Sejak pertama menginjakkan kaki ke rumah, jantung Joanna berdegup keras. Joanna ingat betul rasa sakitnya.
Langkah kaki itu terhenti membuat Jazzki langsung menyadari.
"Kenapa?" tanya Jazzki.
"Gue, gue nggak mau pulang," cicit Joanna dengan tatapan mata kosong menatap anak tangga yang menjadi akses penghubung menuju kamarnya.
"Dari kemaren kan lo minta pulang," jawab Jazzki.
"Gue nggak mau," Joanna membalikkan badannya.
"Jo dengerin gue dulu," Jazzki menahan bahu Joanna. Lantaran energi Joanna yang belum sepenuhnya pulih membuat Jazzki dengan mudah menahan pergerakan tubuh Joanna.
"Kita cuman berdua di sini, Papa sama Mama nggak akan pulang. Mereka sudah hidup masing-masing," jelas Jazzki mencoba menjelaskan dengan bahasanya sendiri.
"Tapi gimana kalau tiba-tiba pulang, gimana kalau mereka bertengkar, gimana-"
"Sssst...." Jazzki menggelengkan kepala sembari menyematkan telunjuk tangannya di tengah-tengah bibir Joanna.
"Gue nggak siap," beo Joanna dengan tatapan sayu.
"Ada gue," pungkas Jazzki meyakinkan Joanna supaya mau masuk ke dalam rumah.
Butuh waktu beberapa menit untuk membuat Joanna bersedia masuk sepenuhnya ke dalam rumah. Jazzki membawa Joanna ke kamar dengan menyusuri anak tangga perlahan.
"Gue masih pantas kah ada di sini?" pertanyaan Joanna terdengar mengiris hati siapapun yang mendengarnya. Joanna bertanya demikian di tempat yang seharusnya menjadi hak untuk ia tempati.
"Memang siapa yang bilang kalau lo nggak pantas di sini?" tanya Jazzki.
Joanna tiba-tiba terkekeh.
"Nggak usah dijelasin gue juga udah paham kali, Jazz," kekehnya.
Jazzki menggertakkan giginya. Payah sekali selama ini ia membiarkan Joanna tenggelam dalam lautan rasa bersalah.
"Gue nggak suka lo ngomong gitu. Lo punya hak yang sama kayak gue, lo berhak di sini, lo boleh ngapain aja," ujar Jazzki penuh penekanan.
Kita nggak sama. Lo bisa jadi apa-apa, Jazz. Sedangkan gue enggak.
"Ssh... bantal," tuding Joanna meminta Jazzki mengayunkan bantal yang wajib menjadi penyandar kepala sebelum Joanna tidur.
Memikirkan hal tersebut membuat kepala Joanna bertambah pusing.
"Asli nyaman banget," ujar Joanna sambil memejamkan kepala. "Gue pengen nanya-nanya sama lo tapi kok ngantuk banget ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
General FictionSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
