50: Terkikisnya Akal Sehat

3.5K 334 96
                                        

Jazzki mengelap mulut Joanna tanpa merasa jijik. Ia dapat melihat tubuh Joanna yang bergetar hebat, bibir anak itu pun sampai menggigil pucat. Rasanya ingin sekali Jazzki menghajar orang yang berani membuat Joanna menjadi seperti ini. Apa salah Joanna? Darimana Joanna bisa mendapat musuh? Anak itu bahkan jarang berinteraksi dengan orang yang tak dikenal. Anak pendiam dan ringkih sakit-sakitan itu kenapa ada yang tega menyakitinya?

Jazzki menuju ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan menuju IGD Jazzki menjelaskan kepada dokter mengenai riwayat penyakit lemah jantung yang diderita Joanna. Dokter mengangguk mengerti, lalu membiarkan brankar tempat Joanna berbaring didorong masuk ditangani oleh para medis sedangkan Jazzki menunggu di luar.

Jazzki meninju tembok rumah sakit. Rambutnya ia acak dengan kasar.

"Kenapa tadi gue nggak nunggu Jo balik aja sih?! Kenapa gue jalan sendiri?!"

"Jo.... maafinn gue... Gue nggak tau kalau semuanya bakal jadi seperti ini!" Jazzki bersandar pada dinding rumah sakit. Napasnya berderu nyaring, ia takut terjadi sesuatu pada Joanna.

Waktu terus berjalan tanpa mempedulikan hal yang terjadi pada kedua anak kembar tersebut. Luka-luka yang menggores wajah Joanna sudah diobati dengan cairan antiseptik. Joanna tertidur setelah mengalami syok, selama pengobatan anak itu tidak bisa tenang. Ia terus mengigau menyebut nama Jazzki dan memohon pertolongan.

Mata Joanna tiba-tiba terbuka, pelipis serta lehernya dipenuhi oleh buliran keringat dingin sebesar biji jagung.

Tangan Joanna terangkat, menyelinap di antara helai rambutnya. Joanna menjambak rambutnya sendiri, ia terbangun cemas. Sudut matanya perlahan mengeluarkan cairan bening. Joanna menggeleng-geleng ribut, melempar setiap barang yang berada di atas nakas rumah sakit.

"Tolongg!"

"Tolong!!" suara Joanna yang parau mencoba berteriak.

Suster bergegas datang, namun tindakan pertamanya bukan menenangkan Joanna. Melainkan menahan tangan Joanna supaya tidak melempari barang-barang yang ada di sana.

"Akhh!! Sakitt!! Lepasin!!"

Joanna ditahan begitu kuat, dada Joanna tertekan akan tangannya yang dipegang erat-erat sampai tidak bisa lepas.

"Jazz gue mau pulang!"

"Gue mau pulang!" teriak Joanna histeris.

"Dok lepasin, Dok... Badan Jo sakit," cegah Jazzki cepat merengkuh tubuh Joanna.

"Tadi pasien mengamuk, sudah kamu hubungi orang tua kalian?" Dokter heran mengapa sejak tadi tak ada wali pasien yang menjenguk. Hanya Jazzki saja, itu pun dia masih tergolong anak-anak.

"Mereka semua jahat! Bawa gue pergi dari sini, Jazz! Gue takut," pinta Joanna memeluk tubuh Jazzki erat.

"Iya nanti kalau lo udah baikan kita bakal pulang, tapi lo nggak boleh panik. Tenangin diri lo, Jo. Napas lo makin susah kalau lo kayak gini," Jazzki berkata lirih di telinga Joanna.

"Gue takut..." pundak Joanna bergetar, anak itu menangis penuh luka. Perasaan cemas menguasai seluruh akal sehatnya, sehingga Joanna tidak bisa membedakan mana posisi aman dan mana posisi terancam.

"G-gue nggak mau ada di sini, gue mau pulang..." cicit Joanna.

"Sepertinya pasien mengalami depresi. Saya akan berikan rujukan ke poli kejiwaan, tapi saya butuh koordinasi dengan orang tua kamu mengenai keputusan ini."

Di satu sisi Jazzki tidak tega melihat Joanna yang masih syok musti menjalani pengobatan lagi. Jazzki ingin membawa Joanna pulang saja, kelihatannya kondisi Joanna bakal membaik jika berada di rumah dengan suasana yang hening.

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang