39: Jangan Kembali Lagi

3.7K 374 105
                                        

🗣️: Gimana rasanya rumah tanpa orang tua?

Jo : Dibilang enak ya memang enak🕺Dibilang asyik ya memang asyik🕺🕺

●●●

Seorang wanita paruh baya yang akrab disapa Bibi merupakan pengasuh Jazzki dan Joanna sewaktu mereka kecil. Sewaktu Elvi memutuskan untuk bekerja guna menyetarakan derajatnya di dalam rumah tangga---supaya dia tidak tertindas oleh keluarga suaminya lagi.

Uang.

Jika seseorang berkata uang bisa mengubah segalanya maka hal tersebut benar adanya. Hanya bermodal lembaran kertas bertuliskan nominal angka kita bisa membeli segala hal yang kita inginkan.

Hukum, jabatan, kehormatan semuanya tunduk kepada uang.

Harapan agar bisa membangun rumah tangga yang baik, harapan dengan bekerja agar bisa memiliki finansial yang lebih baik ternyata justru membuat kondisi keharmonisan rumah tangga semakin kacau.

Uang mampu menghipnotis, menciptakan kebahagiaan sendiri meninggalkan dan menghianati komitmen yang telah disepakati bersama.

Putranya diforsir mati-matian supaya bisa mengikuti jejak yang sama. Maksud mereka baik, agar anak-anak mereka telah mempersiapkan diri sedari dini namun cara mereka yang kurang tepat. Mereka hanya mampu menekan tanpa menemani setiap prosesnya. Sulit membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Jangan salahkan siapapun jika lama-kelamaan keharmonisan itu melebur. Lama-kelamaan hilang hingga hanya tersisa kenangan.

"Makasih ya Bibi! Bibi memang terbaik!"

Jazzki menyerahkan surat undangan pengambilan rapor sekolah kepada Bibi. Sayang sekali, setelah berpisah cukup lama dan hanya singgah ke rumah Bibi ketika hari raya kini Jazzki dan Joanna kembali ke rumah tersebut hanya karena ingin meminta bantuan Bibi.

Rumah saudara jauh sekali dengan rumah mereka. Tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan Bibi untuk menjadi wali siswa mereka berdua seperti waktu TK-SD dulu.

"Sama-sama Nak Jazz. Mama sama Papa bagaimana kabarnya? Kenapa kalian sampai minta tolong ke Bibi?" tanya Bibi dengan wajah teduhnya.

"Mama Papa udah cerai, Bi, hehe..." jawab Jazzki nyengir seakan tidak ada luka ketika menyampaikan kabar tersebut.

"Astaghfirullah! Kenapa kok bisa cerai?"

"Waduh ... ceritanya panjang banget, Bi. Bisa sampai magrib kalau Jazz jelasin dari awal," tutur Jazzki sambil melirik ekspresi Joanna yang mulai tidak nyaman.

"Ya allah... terus kalian ikut siapa?"

Jazzki menggeleng. "Kita tetep berdua. Biarin aja Mama sama Papa bangun kehidupan sendiri, yang penting Jazz nggak dipisahin sama Jo," jelas Jazzki sembari merangkul pundak Joanna.

"Nak Jo? Nak Jojo nggak papa?"

Joanna mengangkat pandangannya. Ia tersenyum seperti yang tengah Jazzki lakukan. Meski begitu kentara jika senyum di wajahnya nampak palsu.

"Nak Jo kok kurus banget? Sehat kan?"

Joanna mengangguk. Ia memang tidak begitu akrab kepada Bibi berbeda dengan Jazzki. Sekalipun akrab, ketika sudah lama tidak jumpa Joanna pasti merasa canggung.

"Dari kamu kecil, Mama kamu tuh sering banget ngingetin Bibi buat nyuruh kamu rutin ngonsumsi obat," ujar Bibi menatap wajah Joanna yang polos. Biarpun Joanna sudah beranjak remaja tapi di mata Bibi Joanna masih sama seperti Jo yang dulu diasuhnya.

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang