Sejak kecil fisik Joanna sudah lemah. Tentu Joanna merasa takdirnya tidak adil. Ia dan Jazzki berada pada satu rahim yang sama. Mereka berdua tumbuh bersama, namun bagaimana mungkin, seluruh hal yang menguntungkan berada pada diri Jazzki saja?
Dari segi kesehatan Joanna sudah kalah dengan Jazzki. Belum lagi segi akademik, Joanna juga sudah pasti kalah. Jazzki memang menang dalam segala hal, Joanna mengakui kenyataan tersebut.
Siang ini, Joanna memandang teman-temannya yang sedang disuruh pemanasan dengan berlari mengintari lapangan. Baru sekali putaran saja tubuh Joanna sudah lemas, guru olahraganya pun sudah hafal jika Joanna tidak bisa dipaksa melakukan aktifitas seperti teman-temannya. Joanna berakhir disuruh beristirahat dan tetap dianggap mengikuti jam olahraga.
"Lo mau ke UKS nggak?" sesudah berlari Desta langsung menghampiri Joanna.
"Ngapain?" tanya Joanna.
"Tidur kek, daripada bengong di sini kasihan gue lihatnya," balas Desta.
"Orang gue nggak ngantuk," kata Joanna menatap wajah Desta yang dihiasi keringat sehat.
"Lo pengen main?" tanya Desta melihat mata Joanna beralih pada bola orange yang sedang direbut Jazzki dan kawan-kawan.
Joanna tersenyum kecut. Kemudian menggeleng pelan.
"Gak."
"Bentar lagi Jazz mau izin, ntar lo bisa ikut main," ucap Desta. Tadi ia sempat mendengar Jazzki meminta izin kepada guru olahraga mereka jika dirinya tidak bisa mengikuti jam olahraga hingga selesai karena menjadi perwakilan Workshop dari SMA Galaksi.
"Kalau gue kumat gimana?"
"Tinggal bawa ke UKS, selesai," jawab Desta enteng.
"Anjir," Joanna terkekeh mendengar jawaban bar-bar dari Desta.
"Lo juga berhak ngelakuin hal yang lo suka. Nggak usah takut sama perbatasan yang diomongin orang, mati dan hidupnya seseorang udah ada yang ngatur. Hidup cuman sekali, Jo. Lo nggak perlu takut sama keterbatasan yang lo miliki, semua manusia emang dasarnya nggak bisa sempurna. Termasuk gue," ujar Desta.
Joanna perlahan tersenyum mendengar kata-kata bijak Desta.
"Yee malah senyam-senyum. Jadi main kaga?"
"Ayok," Joanna tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya turut terlihat.
Desta berdiri lebih dulu, kemudian anak itu mengulurkan tangannya ke bawah.
"Tapi nanti kalau lo udah ngerasa capek, langsung ngomong. Jangan dipaksa juga badan lo," peringat Desta.
"Oke boss," rasa lemas yang awalnya hinggap di badan Joanna seketika hilang.
Tepat ketika melihat Jazzki keluar dari lapangan, Desta langsung menarik Joanna memasuki tengah lapangan.
Seperti yang sudah Desta katakan, Jazzki hari ini akan mengikuti Workshop di sekolah lain. Jazzki bergegas menaiki tangga menuju kelas kemudian mengganti pakaian olahraganya menjadi seragam osis.
Joanna masuk lapangan sebelum Jazzki benar-benar meninggalkan area sekolah. Persetanan bodoamat dengan Jazzki yang nantinya akan memergoki dirinya bermain basket.
Ketika berjalan ke lobby, Jazzki menoleh ke lapangan melihat kawan-kawannya masih bermain di sana. Diantara banyaknya siswa yang merebut bola dengan seragam olahraga yang serupa, Jazzki mencari keberadaan Joanna yang terakhir ia lihat sedang duduk di bawah pohon.
"Jo mana ya..?" Jazzki mengedarkan pandang.
"Vi, lo lihat Jo nggak?" tanya Jazzki pada salah satu teman sekelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAZZKI & JOANNA
General FictionSi Kembar yang satu ini berbeda. Cerita ini menceritakan tentang dua cowok kembar bernama Jazzki dan Joanna. Dari segi fisik mereka berdua memang serupa, tapi apakah sifat mereka serupa pula? Jangan ditanya. Mending langsung baca aja!
