40: Saling Menjaga

3.8K 359 145
                                        

Dalam kondisi ruang minim cahaya, Joanna mengerang memegangi lehernya yang dicekik oleh wanita tak dikenal. Wajah wanita itu buram namun rambutnya menjuntai sampai ke pinggang. Kuku jarinya sungguh menyeramkan, lentik dan tajam. Dia mencekik Joanna tanpa ampun hingga tak memberi kesempatan bagi Joanna untuk menarik nafasnya.

"Aaakhhh! Uhhuk! Uhhhuk! J-jazzzz!!" Joanna menjerit sekeras mungkin, memanggil nama Jazzki yang tidak menampakkan batang hidungnya.

Siapapun Joanna mohon selamatkan dirinya dari situasi ini!

Sebelum tangan wanita itu terangkat hendak memberikan siksaan lebih pada Joanna, nafas Joanna semakin tercekat dan...

Haaaakhhh!

"Dokter ini gimana?!" pekik Jazzki melihat kondisi Joanna.

"Kamu jangan panik, kalau kamu panik mending kamu tunggu di luar."

Joanna membuka mata dengan nafas yang memburu.

"Jo! Jo, lo nggak papa kan? Jo masih bisa denger suara gue kan?!"

Joanna menggulirkan bola mata menatap ke sekitarnya. Ia baru menyadari jika kejadian tadi hanya mimpi belaka. Namun mimpi tersebut seakan nyata, bahkan rasa sesaknya saja masih sangat menyiksa.

Joanna terbatuk lagi, kali ini dia terbatuk lumayan keras hingga Jazzki inisiatif memberikan dia minum.

"Jangan dikasih minum. Biarin dia sadar dulu," cegah dokter Naufal.

Memberikan minum pada seseorang yang baru saja siuman dari pingsan/tidur bisa mengakibatkan tersedak. Cairan yang diberikan pada orang yang belum sepenuhnya sadar dapat salah sasaran dan justru membahayakan seseorang itu.

"Tenang tenang tenang..." dokter Naufal membuka uap oksigen yang membungkus hidung Joanna. Membiarkan anak itu batuk dengan leluasa dan menepuk-nepuk pundaknya.

Joanna ditarik bangun ketika batuknya tidak kunjung reda.

"Sesek?"

Joanna mengangguk.

"Bisa ditarik nafasnya?"

"Dok buruan dipakekin! Itu Jo udah gelagapan!" Jazzki memarahi dokter pribadi Joanna tersebut.

"Apa sih kamu, Jazz? Kamu juga harus tenang," jawab dokter Naufal melihat kedua anak kembar itu saling terserang panik.

Ketika frekuensi nafas Joanna sudah terlihat melambat, dokter kembali memasangkan uap oksigen ke hidung Joanna. Dokter memberikan dua bantal sebagai penyangga pundak pasiennya tersebut.

"Kunci kita menghadapi pasien yang mengalami sesak nafas, kita harus tenang. Kalau yang nolong aja panik, otomatis oksigen di sekitar dihirup secara rebutan, pasien akan semakin sesak dan kondisinya memburuk," ujar dokter Naufal memberikan wejangan.

Joanna masih merefresh otak. Ia berada di dalam kamar rumahnya, dengan uap yang membungkus hidung serta mulutnya. Di bagian punggung tangan sebelah kiri juga tertancap jarum infus. 

"Tangan kamu sampai dingin, pasti badan kamu nggak enak ya?"

"Jazz, minta tolong AC-nya dimatiin aja," pinta dokter Naufal.

"Papa kalian ke mana?"

"Dok," panggil Jazzki kemudian anak itu menganggukkan kepala satu kali diikuti dengan pejaman mata seolah tengah mengisyaratkan sesuatu.

Dokter Naufal tentu paham dengan arti isyarat yang diberikan Jazzki. Ia mulai membahas topik lain.

"Jangan banyak pikiran dulu, fokus sama kesehatan kamu," ujar dokter Naufal.

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang