"Sekarang boleh nyerah?" tanya Haidar seraya mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk V, sudut bibirnya yang pucat itu tertarik hingga membentuk senyuman yang manis sekali.
"Haidar udah capek" ucap Haidar, senyumnya mulai...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-☆-
"Tapi boong! AHAHAHAHHA!"
"Lo dipecat" ucap Haidar lalu mendorong lengan Rizal hingga Rizal sedikit limbung.
"Eh bercanda bos! Bercanda.. bercandaa, janganlah baperan" ucap Rizal seraya membujuk Haidar yang baru saja duduk di sofa dengan nyaman.
"Bang, bantu gue bujuk bosmu laah" pinta Rizal pada Zero
"Ogah. Nanti gue ikutan dipecat" jawab Zero
"Mampus" ejek Haidar
"Haidar!" panggil Leon yang berlari dari arah dapur.
Haidar mendongak melihat Leon dengan senyum lebarnya tengah berdiri di samping Rizal yang berjongkok.
"Kemana aja?" tanya Leon
Haidar hanya diam. Dia masih kesal jika teringat perlakuan Leon yang sebelum sebelumnya. Mengapa Leon yang ini nampak ramah?
Dengan tampang malasnya, Haidar memberi kode pada Zero untuk menjawab pertanyaan Leon. "Warteg" jawab Zero
"Kok warteg?" protes Rizal
"Iya warteg. Kenapa emangnya?" tanya Haidar pada Rizal
"Y-ya gapapa" gugup Rizal takut dipecat jadi anggota Blaze Tiger beneran.
"Zaman gini masih ada warteg?" tanya Leon
"Ada lah!" jawab serempak Haidar dan Zero.
"Emang ini zaman apaan sampe nggak ada warteg? Ya jelas ada!" seru Haidar
Ganti Leon yang mengode ke Zero. "Dia kenapa?"
Zero mengendikkan bahunya.
"Lo kenapa sinis sama gue, Dar? Gue salah apa? Hiks" dramatis Leon dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Najong" ucap Haidar yang membuat Rizal meledakkan tawanya.
"Haidar, dicari Androe!" seru Danesh dari ambang pintu utama.
"Androe?" gumam Haidar yang langsung beranjak dari duduknya dan bergegas keluar mansion yang kata mereka markas geng itu.
"Wih Androe cakk"
Leon yang ingin ikut menyusul Haidar langsung segera ditahan oleh Rizal dan Zero. "Jangan!"
--
Haidar yang baru saja keluar mansion langsung terdiam kala mendapati Androe yang ada di teras mansion dengan luka luka yang bisa dibilang parah tengah duduk dengan mimik wajah penuh kepasrahan.
"Ndro? Kenapa lo nggak ke rumah sakit? Gue telfon ambulans? Atau mau gue telfonin Om Rafa?" ucap Haidar dengan raut panik memegang kedua bahu Androe yang merosot lemah.
Yang tanyai malah terkekeh ringan. "Ayah mana peduli sama gue, Dar"
Androe mengangkat kepalanya dengan penuh susah payah lalu berusaha berkontak mata dengan Haidar. "Lihat mata gue, Dar"