50. Sadar yang kesekian kalinya

101 14 2
                                        

-ALANDAR-

Sebuah aliran listrik seperti menyetrum ujung kakinya yang membuatnya tersentak dan sontak membuka matanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sebuah aliran listrik seperti menyetrum ujung kakinya yang membuatnya tersentak dan sontak membuka matanya.

Pertama yang ia rasakan setelah sadar ialah rasa sakit yang menjalar dari ujung kaki hingga ubun ubun. Telinganya yang berdenging kuat hingga tak terdengar suara apapun selain denging.

Ia menyatukan alisnya. Rasa sakit kali ini terasa benar benar nyata. Ia yakin ini nyata apalagi rasa sakit dari pecahan kaca yang menancap pada pipi kanannya dan lengan kanannya hingga berdarah darah.

Posisinya saat ini adalah meringkuk di sebuah lantai basah entah oleh cairan apa dia tidak tahu yang pasti baunya sangat menyeruak di indra penciumannya. Sekujur tubuhnya basah seperti diguyur segentong bensin. Di sekitarnya banyak sekali pecahan kaca yang berserakan, bahkan tubuh sisi kananya tertancap beberapa pecahan kaca hingga darah dari lukanya mengalir menyatu dengan cairan yang membasahi tubuhnya.

Ruangan yang tak terlalu gelap karna penerangan dari lampu merah yang berkedip. Namun dia bisa melihat situasi di depan matanya yang begitu kacau balau, pecahan kaca dimana mana, orang orang tergeletak bersimbah darah dan basah kuyup seperti dirinya.

Dia ingin berbalik melihat situasi di belakangnya tapi tubuhnya sangat lemas, energinya seperti disedot habis, bahkan saat ini dia hanya mampu berkedip, mengkerutkan alis dan meringis.

Disaat saat seperti ini, apa dia boleh berharap bahwa Ayah dan Abangnya akan datang menolongnya?

Entah bagaimana caranya mereka bisa tahu dan datang, tapi bukankah keajaiban itu ada? Bukankah Allah bisa membolak balikkan hati manusia?

Namun, harapannya musnah usai dia melihat bahwa yang muncul di pandangannya saat ini bukanlah Ayahnya ataupun Abangnya. Melainkan, asap yang masuk melalui celah celah pintu besi yang tertutup rapat.

Asap masuk dan menyebar begitu cepat memenuhi ruangan hingga membuat dadanya sesak dan terbatuk batuk.

Ternyata lampu merah yang berkedip itu lampu emergency, lampu yang menandakan bahwa tempat ini kebakaran.

Dengan lemas dan penuh ke pasrahan, dirinya memejamkan mata.

Jika ditanya apa dia siap untuk mati?
Jelas dia siap.

Dia merindukan Bundanya.
Diapun tak ada tujuan hidup dan hanya hidup mengalir seperti air sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Apalagi jika sesekali ada benda kuning mengambang yang mencemari airnya yang bening. Sama seperti masalah yang mencemari hidupnya yang semula tentram dan damai.

Lalu apa yang ia takutkan sekarang?

Kematian di depan matanya. Mungkin saat ini malaikat maut berkelebat di sekitarnya. Dia akan hangus dilahap si jago merah bersama tempat dimana dia ada saat ini.

Dia akan hilang menjadi abu, jasadnya tak dapat dipeluk di kemudian hari. Lalu akhirnya dia benar benar tidak akan pernah dipeluk bahkan saat sudah tak bernyawa oleh Ayah dan Abangnya.

Tunggu, tiba tiba saja dia merasa ada seseorang yang berdiri di dekatnya.

Dia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit selagi api belum memasuki ruangan dengan mengandalkan tangan kirinya yang masih baik baik saja.

"AHHHK!" jeritnya kala saat berusaha bangkit, pecahan kaca yang menancap di paha kaki kanannya semakin menancap dalam karna tekanan.

Tidak. Dia tidak boleh mati menjadi abu. Jasadnya harus seutuh jasad bundanya. Karna itu dia berusaha untuk bangkit dan pergi.

Setelah berhasil bangkit, ia memilih untuk mengatur nafas terlebih dahulu dengan duduk dengan kaki selonjor.

Saat melihat ke depan, dia menemukan seseorang tengah berdiri tegap menatap dirinya. Tidak jelas itu siapa karna asap semakin tebal.

Namun, dirinya menjadi tau siapa yang berdiri di depannya itu kala melihat sepatu yang dipakai orang di depannya.

Sebuah sepatu Blucher Mocs kesayangan Abangnya yang dibelikan oleh Sang Ayah pada ulang tahun ke 15.

"ABANG!!!"

"BANG ALANO!!!"

Haidar kembali berusaha untuk berdiri dengan berpegangan pada tiang di samping kirinya dan mengandalkan kaki kirinya untuk menjadi tumpuan berdiri.

Ia tersenyum lebar kala mendapati pemuda di depannya benar Abangnya, Alano yang tengah tersenyum menatapnya dengan tangan yang direntangkan lebar.

"Abang!"

Haidar dengan perasaan gembira langsung terjun ke pelukan Sang Kakak.

Seperti tersambar petir tanpa gelegar suara guntur, Haidar terbelalak merasakan sebuah aliran listrik menyetrum tubuhnya dengan kuat yang seketikamembuatnya kejang kejang hingga tubuhnya jatuh kebelakang dan kepalanya membentur lantai yang penuh pecahan dengan keras.

Pandangannya menggelap, nafasnya semakin berat, nampaknya ajal benar benar ada di depan matanya.

Saat berada di titik dimana dia sepenuhnya pasrah entah apa yang terjadi selanjutnya, mati atau hidup dirinya.

Dia merasa seseorang mengusap lembut surainya.

"Aaaaa ayo dibuka mulutnya, habis ini beli yoyo!" itu suara dari bundanya, jelas terdengar ke telinganya yang sebelumnya tak dapat mendengar.

"Aaahh bundaaa aku mau disuap jugaa"

"Apa ini? Minggir kalian! Ayah juga mau disuap! Aaaa"

"AYAH!!"

"Kakak!" dan tiba tiba saja suara Alina yang telah lama tak ia dengar kini terdengar memanggil dirinya.

"Kakak! Ayo pulang! Sudah maghrib! Ayah pulang bawa mie ayam! Buruan ayo, nanti bisa dihabisin sama Abang!"

"Uhuk!"

Darah segar keluar dari mulutnya, terus mengalir dan dadanya menjadi sesak.

"Iyaaa ini Kakak pulang, Lin"



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AlandarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang