Aku tahu ini rencana Datta, mungkin dia sudah menyusun berhari-hari dan merasa sudah sangat yakin akan berjalan lancar—dia boleh merayakan keberhasilan ini. Yang aku tidak tahu adalah apakah aku akan merusak rencananya atau keluarganya yang akan menghancurkannya, sekali lagi.
Beberapa menit lagi Datta tidak muncul, mungkin aku pura-pura kehilangan napas karena tidak berhasil menemukan kata-kata untuk diucapkan. Sialnya, Ibu pun terlihat mengalami hal yang sama. Perempuan hebat yang aku tahu ini ... sekarang pun terdiam bersamaku dan Zora. Yang menjadi tambahan masalah adalah entah Ibu merasa sama tertekannya dengan kondisi ini sepertiku atau karena dia masih tidak bisa menerimaku selain sebagai pekerja suaminya.
Aku mendengar Ibu berdeham, memasang senyum kikuk saat mata kami bertemu. Kemudian aku memanjatkan syukur ketika akhirnya dia bersuara. "Semoga kamu dan Datta jadi pasangan yang bisa mengekspresikan cinta kalian dengan cara yang baik, ya, Bim, ya? Bukan dengan sembunyi-sembunyi, dengan perasaan takut. Saya sayang sama kamu, kamu juga pasti tahu sesayang apa Bapak sama kamu."
Aku belum sempat menanggapi kalimat-kalimat tidak terduga itu, karena gadis remaja di sebelahku ikut bersuara
Katanya, "Aku juga." Dia tersenyum padaku. "Dari awal, aku tahu ada something di antara kalian. Waktu aku mergokin kalian, aku nggak bilang aku akan ngadu, tapi kalian kurang kerja sama dan malah sibuk ngerusak satu sama lain."
"Tunggu, tunggu, mergokin apa, Nak?"
Oh damn!
Aku melirik Zora dan berusaha kuat untuk memberinya kode dengan gelengan sangat kecil. Aku tidak ingin Ibu merasa semakin curiga, tetapi aku juga khawatir Zora tidak memahami maksudku.
"Ummm ... chat mereka?" Zora tertawa pelan. "Waktu aku sama Mas Datta, aku liat chat mereka."
Napasku lolos lega, aku memberi senyum tipis untuk Zora dan dia tersenyum lebar padaku dan pada Ibu. Sementara Ibu tertawa pelan. "Tapi kalian tahu? Di sini yang nggak ngeh tuh cuma Mama."
"Serius? Mama nggak tahu sama sekali gelagat kasmaran Mas Datta sama Mbak Bima?"
Ibu tertawa sambil menggeleng. "Ya karena Mas Datta, kan, tukang godain semua perempuan. Jadi waktu itu Mama mikirnya ya sama aja. Respon Bima juga, kayak yang takut dan menghargai Mas Datta sebagai anak dari Papa. Mama pikir sebatas itu." Wajah Ibu tiba-tiba menjadi sangat serius, dia menatapku dengan tatapan ... menyesal? Aku tidak terlalu yakin dan tidak percaya diri menebaknya. "Atau mungkin karena keangkuhan Mama yang nggak akan kepikiran anak Mama cinta mati sama karyawan Papa." Suasananya jadi begitu tegang, aku mulai merasa tak nyaman. "Saya beneran minta maaf sama kamu ya, Bim? Minta maaf sebagai seorang Ibu dari Datta, sebagai istri dari Bapak, dan sebagai sesama perempuan sebagai manusia. Kami udah melewati banyak hal dalam hidup, Datta melewati banyak hal dan dia jelas nggak akan mau menjalani hidup tanpa kamu."
Aku tersenyum dan mengangguk, jujur tidak menemukan kalimat untuk aku ucapkan. Belum bisa mengubah mode dalam diriku untuk menghadapi Ibu sebagai ibu dari pasanganku. Aku masih merasa berhadapan dengan istri dari bosku.
"Saya pastiin, kami akan kerja keras buat bikin Datta siap ambil peran suami dan ayah nantinya. Kalau soal cintanya ke kamu, rasanya saya, Zora, atau Bapak, nggak perlu bantu yakinin kamu, kan? Kamu pasti bisa lihat sendiri, bisa ngerasain sendiri, sebesar apa rasa sayang dan cintanya ke kamu. Kamu bilang apa aja, dia pasti iya. Tapi justru itu, Bim, cinta tanpa logika nggak selalu baik untuk pasangan kita, malah kadang bisa jadi bumerang. Kalau Datta memang mau kamu bahagia, hidupmu baik, dia bukan cuma harus punya cinta yang besar, tapi kepala yang waras."
"I-bu ..." cicitku pelan, kemudian aku berdeham karena merasa suaraku sangat buruk. "Aku ... sebelumnya aku minta maaf karena sudah lancang punya perasaan dan hubungan sama—"
KAMU SEDANG MEMBACA
beyond words
Chick-Lit[END] Ekstra Part di Karya Karsa Mungkin ada banyak kata sifat-dalam ribuan bahasa-untuk menjelaskan perasaan atau emosi, tapi terkadang kamu kebingungan, tak menemukan satu kata pun yang bisa mewakili. Atau ... kamu bisa menyebutnya; beyond words...
