ALAT TUKAR

182 27 1
                                        

Lagi, dan lagi. Seolah takdir tak sudi lagi untuk memberikan ketenangan kepada Nathan, setelah diuji dengan kondisi Aluna dan Juna, sekarang ia malah mendapatkan kiriman foto dari nomor yang tidak terdaftar di kontaknya. Foto itu berhasil membuat pikiran dan hatinya bergemuruh untuk ketiga kalinya. Matanya terbelalak kaget dengan air mata yang berlomba-lomba untuk keluar. Kakinya melemas, membuat dirinya harus berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya.

"Maven..." ucapnya lirih, hatinya terasa diremas berkali-kali. "T-tidak mungkin..." Kepalanya menggeleng tak percaya. Maven yang selama tiga hari ini tanpa kabar, kini tiba-tiba muncul dengan kondisi yang tidak kalah parah dengan Juna.

Pakaian yang bersimbah darah itu seolah membuktikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Nathan tidak ingin percaya begitu saja. Ia harus memastikannya sendiri. Ia harus melihatnya secara langsung. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menekan logo telepon pada nomor tersebut.

"Dimana anak saya?!" nadanya tegas namun dengan sedikit getaran.

"Kau selalu ceroboh, Nathan."

"Cepat beritahu saya! Dimana Maven?!"

"Kau selalu membuat anak-anakmu menderita. Aku sungguh kasihan kepada mereka."

"Apa maumu?!"

"Zayn. Serahkan dia kepadaku!"

"Apa maksudmu? Kau pikir aku—"

"Jika kau ingin Maven kembali padamu, datanglah ke tempat Juna ditemukan dan bawalah Zayn bersamamu! Waktumu berpikir hanya sampai pukul 12 malam ini!!"

Nathan membanting cangkir kopi yang berada di depannya hingga hancur berkeping-keping. Wajahnya datar namun hatinya bergemuruh, tangannya mengepal kuat. Apa yang harus ia lakukan? Sungguh, sekarang kebingungan melanda dirinya, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Namun ia penasaran dengan satu hal, mengapa orang ini menginginkan Zayn?

~•000•~

Sejak masih kecil, impian Zayn adalah bisa hidup bahagia dengan keluarga aslinya. Dari kecil ia sudah bertekad bahwa ia harus bisa menjaga keutuhan keluarganya demi mencapai impian yang ia idam-idamkan itu. Bahkan ia sempat berpikir untuk mengorbankan apapun demi hal itu, termasuk nyawanya sendiri. Gila! Sungguh pemikiran yang gila! Dia bahkan tidak tau seperti apa keluarganya, baik perilaku atau apapun itu, ia sama sekali tidak tau.

Tiga hari sudah berlalu semenjak kejadian sadis yang menimpa kakaknya itu terjadi. Malam ini dengan bermodalkan tekad gilanya itu, Zayn berangkat ke lokasi kejadian untuk mencari petunjuk pelaku. Karena satu-satunya saksi telah menghilang entah kemana membuatnya bertindak nekat.

Sebenarnya Nathan sudah lebih dulu bertindak untuk mencari pelaku dan Maven yang sudah tiga hari menghilang, tetapi ia tidak bisa menunggu. Karena siapapun yang berani mengusik ketenangan keluarganya, maka ia harus menanggung hal yang sama.

Sesampainya di lokasi, ia sempat terpaku sejenak. Melihat kondisi lokasi yang pantas saja dijadikan tempat penyiksaan Juna. Matanya menyapu sekitar dengan teliti, berusaha mencari sesuatu.

"Woi!!" Tangannya dengan cepat menutupi matanya untuk menghalau cahaya lampu mobil yang menyilaukan menuju ke arahnya.

Mobil hitam itu berhenti di depannya, kemudian beberapa orang menggunakan pakaian serba hitam dan bermasker keluar dari mobil tersebut. Mereka tampak mencurigakan, membuat Zayn merasa was-was. Ia melangkah mundur, dengan tatapan waspada.

"Kalian mau apa, hah?!" sentaknya.

Orang-orang itu sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaannya, mereka berjalan semakin mendekat. Mata Zayn langsung melotot saat melihat salah satu dari mereka membawa sebuah karung besar.

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang