TERKURUNG

169 29 2
                                        

"Loh, Lo mau bawa gue kemana?" tanya Zayn keheranan saat mobil Brian melewati plang yang menjadi perbatasan antara kota Jakarta dan Bandung. Ia kira kakek gila ini akan membawanya ke markas seram mirip rumah hantu yang pernah ia datangi. Namun ternyata perkiraannya keliru, sungguh rasanya ia ingin mengirim kakek gila ini ke rumah sakit jiwa saja.

"Kamu cukup menikmati perjalanan saja, Zayn. Kalau perlu tidurlah, karena perjalanan ini masih panjang," balas Brian dengan fokus yang tak teralihkan pada jalanan.

Zayn hanya berdecih sinis, merasa malas untuk menanggapi. Kemudian ia merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Setidaknya ia harus memberikan kabar pada Zayden agar anak itu tidak kebingungan mencarinya.

Iden☠️

Den, untuk sementara waktu jangan hubungi gue dulu|

Gue lagi sibuk liburan😜|
Sorry gak bisa ajak Lo|
Papa sih kasih kejutannya mendadak banget jadi gue gak bisa ngapa-ngapain|

|Lo sekarang dimana, Yen?
|Jawab!
|Yen?
|Jangan bikin gue khawatir!

Ponsel Zayn berdering, menampilkan kontak Zayden sebagai penelpon. Belum sempat jarinya menekan tombol hijau, Brian sudah lebih dulu merebut ponselnya.

"Lo apa-apaan, sih?! Dia itu adik gue! Balikin!" Zayn berusaha untuk merebut kembali ponselnya, namun Brian malah membuang benda kotak itu ke luar jendela. Membuat Zayn menggeram marah.

"Bangke! Kenapa lo buang, anjing?!! Setidaknya biarin gue buat ngomong sama adik gue dulu kek!!"

"Dia pasti akan berusaha untuk mencari mu nanti. Saya-"

"Ya, jelaslah. Dia bakal cari gue, kan gue kembarannya anjir. Yang gak masuk akal itu Lo! Karena udah misahin gue sama dia. Dasar manusia gak punya perasaan!!" ujar Zayn dengan suara bergetar. Air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Zayden nantinya. Bagaimana kalau sakit kepalanya kambuh? Lalu, bagaimana kalau dia berulah lagi?

Adiknya itu pasti akan menahannya sendiri. Ia pasti tidak akan meminta pertolongan pada siapapun di sana. Apalagi setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Ia bisa melihat tanda-tanda bahwa kepercayaan Zayden pada mereka sudah mulai memudar. Oleh karena itu, ia khawatir jika adiknya itu akan melakukan hal nekat lagi bila ada yang mengusik pikirannya.

~•000•~

Sementara itu, Nathan membawa Maven ke rumah sakit untuk diperiksa. Ia curiga jika sesuatu telah menimpa anak sulungnya ini. Bila ada hal serius yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Brian untuk hidup lebih lama lagi. Namun saat baru saja memasuki gedung rumah sakit, ia dihadang oleh Zayden yang menatapnya seolah meminta penjelasan.

"Kita bicara nanti ya. Kakakmu harus segera diperiksa," ujarnya berusaha memberi pengertian pada Zayden tetapi lagi-lagi langkahnya kembali terhadang. Sepertinya Zayden tidak mau mengalah, kemudian ia menyuruh dokter untuk membawa Maven terlebih dahulu.

"Kamu mencari Zayn, kan? Dia sudah Papa antar pulang tadi. Jadi-"

"Bohong."

Kalimat Nathan terpotong oleh satu kata yang membuat langsung terdiam. Apakah anak ini sudah tahu kebenaran yang sebenarnya?

"Hey, buat apa Papa berbohong? Kamu mau Papa antar pulang?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang