Tepat sudah lima hari Bimo di rawat di rumah sakit. Keadaannya yang mulai membaik membuat Bimo sudah keluar dari ruang ICU. Dan hampir setiap hari pula Aruna selalu mengunjungi nya di rumah sakit. Seperti hari ini Aruna sedang berada di ruangan Bimo dengan membawa beberapa bingkisan berisi buah-buahan.
"Kamu sendiri nak? Arsya mana?" Tanya Bimo ketika Aruna menghampiri nya seorang diri.
"Arsya kayanya kerja om. Ini Aruna bawain buah biar om cepet sehat." Jawab Aruna menaruh bingkisannya tepat di meja samping brangkar.
Bimo mengangguk dan tersenyum. "Makasih yah nak udah sering jenguk om." Sahut Bimo.
"Sama-sama om. Om mau buah apa? Aruna bawain jeruk sama apel biar Aruna kupasin."
"Om mau jeruk aja."
"Oke bentar yah biar Aruna kupasin. Tadi sih Aruna cobain di pasar nya manis om semoga ga ngecewain om yah hehe." Sahut Aruna sambil mengupas jeruk di samping brangkar.
"Gapapa om suka jeruk asem jadi seger." Jawab Bimo tertawa.
"Oh yah? Kalau Aruna makan jeruk asem lambung Aruna langsung lemah."
"Sama kaya Fazira ibu mu dulu juga ga bisa banget makan buah asem perut nya udah langsung sakit katanya haha." Sahut Bimo dengan semangat.
Aruna terkejut mendengar perkataan pria tersebut. "Om dulu Deket banget yah sama bunda sama ayah?" Tanya Aruna.
"Iya om Deket banget sama mereka. Om sama ayah kamu dulu udah kaya perangko dari remaja sampai kita buat bisnis pun kita bareng kerja sama dan lain-lain." Sahut Bimo dan mendapat anggukan dari Aruna.
"Aruna maafin om yah saat ayah kamu meninggal om gaada di samping kamu dan bunda kamu." Ucap Bimo menatap Aruna.
"Iya gapapa om. Alhamdulillah Aruna sama bunda bisa lewatin semua nya setelah kejadian itu." Sahut Aruna dengan menampakan senyumannya namun masih ada rasa sakit yang mendalam yang Aruna rasakan tanpa orang lain tahu.
"Kalian hebat Aruna." Sahut Bimo mengusap pundak Aruna.
Aruna tersenyum hanya itu yang bisa ia jawab dari ucapan Bimo.
"Duh sampai lupa ini jeruk nya om." Ucap Aruna memberikan jeruk yang sudah di kupas pada Bimo.
"Makasih yah nak."
"Iya om. Om tapi Aruna harus balik kerja lagi jadi Aruna ga bisa lama gapapa kan om?"
"Gapapa Aruna. Kamu udah sempetin Dateng aja om seneng banget om berasa nambah anak lagi."
"Om cepet sembuh yah harus semangat." Ucap Aruna sambil mengepalkan tangannya memberikan semangat juga senyuman manisnya.
"Siap om pasti semangat buat sembuh." Sahut Bimo memberikan hormat kepada Aruna.
"Haha yaudah Aruna pergi lagi yah om." Pamit Aruna mencium tangan Bimo.
"Iya hati-hati Aruna."
Pandangan Bimo tidak lepas dari gadis tersebut dengan senyuman serta mata berbinar Bimo menatap kepergian Aruna. Rasa senang dan sedih rasanya sangat bercampur aduk yang Bimo rasakan saat ini. Wajah Aruna yang membuat Bimo selalu teringat akan seseorang dan selalu memunculkan rasa penyesalannya. Harapan nya untuk Arsya & Aruna agar bisa bersama seketika menciut saat wajah seseorang muncul di bayangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore Arsya masih bergelut dengan pekerjaan nya karena selama beberapa hari kemarin Arsya fokus untuk kesembuhan Bimo hingga membuat banyak pekerjaan nya menumpuk.
"Maaf pak ini berkas yang perlu bapak tanda tangan hari ini juga karena udah di tunggu tim pemasaran." Ucap Fany sekretaris Arsya.
"Oke kasih saya waktu 1 jam nanti saya panggil kamu lagi."
"Baik pak."
Arsya kembali fokus pada berkas-berkas di hadapan nya. Mempelajari satu persatu berkas tersebut, saat sedang fokus pada pekerjaan nya pintu ruangan Arsya kembali terbuka, seorang wanita sexy masuk tanpa mengetuk. Hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi Bella kekasih Arsya.
"Bella kamu disini?" Tanya Arsya ketika Bella tiba-tiba memasuki ruangannya.
"Kamu kemana aja sih sayang? Aku telfon kamu ga di angkat. Aku udah sabar yah beberapa hari ini kamu sibuk ngurusin papa kamu terus sekarang kamu malah sibuk kerja?" Tanya Bella penuh dengan amarahnya karena semenjak Bimo sakit Arsya tidak memiliki waktu itu Bella.
"Bell please aku masih banyak kerjaan. Jadi jangan ngajak aku debat tentang hal yang ga penting." Sahut Arsya menatap Bella yang ada di hadapannya.
"Ga penting kata kamu? Kamu tuh udah ga sayang aku yah? Aku kemarin mau jenguk papa kamu juga kamu larang. Kenapa sya? Kamu ga serius sama hubungan ini?"
Arsya mangusap wajah nya kasar dan menghampiri Bella. "Hey ga gitu sayang. Waktu nya belum tepat dan papa sakit jantung kamu tau sendiri kan papa gimna ke kamu? Jadi please kasih aku waktu yah?" Ucap Arsya menatap Bella dan menggenggam kedua tangan Bella.
"Tapi sampai kapan sya?"
"Secepatnya." Jawab Arsya dan menarik Bella dalam dekapannya. "Kamu yang sabar yah." Lanjut Arsya mengelus rambut Bella.
Bella mengangguk dalam dekapan Arsya dan membalas pelukan Arsya dengan erat menyampaikan kerinduan nya setelah hampir seminggu ini mereka tidak bertemu.
"Sekarang kamu pulang dulu yah aku mau lanjut kerja dulu aku janji weekend ini kita habiskan waktu kita berdua." Ucap Arsya melepaskan pelukannya.
"Kamu janji?"
Arsya mengangguk dan tersenyum. "Yaudah aku pergi, aku mau ke mall aja." Sahut Bella.
"Iya sayang aku transfer yah?" Bella mengangguk dan kembali memeluk kekasihnya tersebut sebelum Ia pergi meninggalkan Arsya.
Sementara itu di rumah sakit Bimo sedang berada di taman dengan di temani suster menggunakan kursi roda nya. Menghirup udara di sore hari yang masih terlihat cerah juga tanaman hijau yang menghiasi pandangan nya Bimo menatap ke arah depan. Taman yang di kelilingi bangunan rumah sakit tepat nya berada di tengah-tengah tersebut sehingga Bimo masih bisa melihat ke arah koridor rumah sakit. Setelah beberapa waktu berlalu pandangan Bimo teralihkan pada seseorang yang tidak asing di mata nya. Seorang wanita yang sedang berjalan ke arah taman sambil menelfon.
"Zira?" Ucap Bimo ketika wanita itu semakin dekat dengannya. Namun seperti nya Ia tidak sadar dengan keberadaan Bimo.
Bimo terus memperhatikan wanita tersebut yang duduk di kursi taman di samping Bimo yang terhalang pohon yang menutupi nya. Setelah wanita tersebut selesai menelfon Bimo menghampiri wanita tersebut dengan ragu. Memutar roda kursi yang Ia duduki secara perlahan untuk menghampiri wanita tersebut. Ada rasa yang masih sama saat Bimo melihat nya, wanita itu masih terlihat cantik dan sehat.
"Zira..." Panggil Bimo setelah Ia sudah berada di samping nya.
"Bimo?" Ucap Zira terkejut melihat pria yang Ia kenali sejak lama bahkan pernah sangat dekat dengannya.
Bimo tersenyum karena wanita itu masih Mau menyebut namanya. "Kamu ngapain disini Ra?" Tanya Bimo.
Sementara Zira masih terkejut melihat pria di hadapannya yang terduduk di kursi roda dengan selang infusan di tangannya.
"Ra?" Tanya Bimo kembali menghamburkan lamunannya.
"Anakku sakit." ucap Fazira singkat dan langsung mengalihkan pandangannya dari Bimo.
"Siapa? Aruna? Tadi dia baik-baik aja Ra?" Tanya Bimo terkejut saat mengetahui anak dari wanita tersebut sakit.
"Kamu kenal Aruna?" Tanya Fazira terkejut saat Bimo menyebut nama Aruna anaknya.
"Nanti aku jelasin. Sekarang gimana keadaan Aruna? Dia sakit apa Ra?"
"Bukan Aruna tapi adik nya Alisa."
"Alisa? Gimana keadaannya? Alisa sakit apa Ra?" Tanya Bimo kembali.
Fazira menatap tajam Bimo. "Aku gak tau kamu kenapa bisa kenal dengan anakku. Tapi aku mohon mulai sekarang jauhin anak ku Aruna!" Ucap Fazira penuh dengan penekanan dan langsung pergi meninggalkan Bimo.
"Ra Zira.."
To be continue....
VOTE VOTE VOTE & komen 🤭
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomantizmDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
