"non Aruna?" Ucap bi Siti terkejut saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
Aruna tersenyum senang. "Hai bibi." Sapa nya dengan sumringah.
Tangannya terulur mengelus pipi Aruna dengan mata nya yang berbinar. "Yaampun non bibi kangen." Ucap nya.
Dengan segera Aruna pun kembali memeluk bi Siti. "Aruna juga kangen bi."
"Bi udah bi kasian anak saya." Ucap Arsya berusaha melepaskan pelukan bi Siti pada Aruna.
"Anak?" Bi Siti menatap Aruna dengan penuh pertanyaan.
Aruna mengangguk senang seolah menjawab tatapan bi Siti. "Masyaallah den bibi mau punya cucu? Yaallah non bibi seneng." Ucap nya penuh dengan haru, tangannya terulur mengelus perut Aruna.
"Doain yah bi."
"Pasti non pasti bibi doain, bibi jagain. Masyaallah sini non duduk dulu bibi bikinin minuman yah non?"
"Makasih bi." Ucap Aruna mengangguk.
Arsya hanya tersenyum senang melihat interaksi keduanya. Bi Siti benar-benar sudah seperti orang tuanya sendiri. Melihat betapa bahagia nya bi Siti saat tahu Aruna hamil Arsya seperti melihat kehadiran mama dan papa nya. Jika saja keluarga nya masih harmonis seperti dulu dan mereka masih ada di dunia ini sudah pasti rumah ini penuh dengan kebahagian.
"Sayang?" Panggil Aruna saat melihat Arsya yang masih berdiri.
"Iya sayang." Sahut nya lalu duduk di sebelah Aruna.
"Kenapa?"
"Gak papa. Aku seneng aja liat kalian berdua. Andaikan mama sama papa masih ada pasti mereka sama kaya bi Siti akan nyambut calon cucu nya ini dengan penuh bahagia." Jelas Arsya sembari mengelus perut Aruna.
Aruna mengelus tangan Arsya yang berada di perut nya. "Sayang mama sama papa juga pasti seneng disana. Besok kita ke makam mama papa yah?"
Arsya mengangguk lalu mencium kening istrinya. "Makasih yah sayang Karena kamu udah bikin aku sadar apa itu cinta."
"Cinta mati gak?" Tanya Aruna.
"Banget." Jawab Arsya. Keduanya tersenyum penuh bahagia.
"Wes mesra-mesraan nya toh. Ini di minum dulu." Ucap bi Siti membawa dua gelas minuman.
"Bi ganggu aja deh." Ucap Arsya melepaskan pelukannya.
"Iya bibi tau yang kangen seminggu di tinggal non."
"Bandel gak bi Arsya?"
"Enggak non. Cuma udah kaya orang yang hidup tak mau mati pun tak mau." Jawab bi Siti dan membuat Aruna tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha bi kata-kata nya udah kaya puitis aja."
"Serius non. Den Arsya makan gak mau, mandi gak mau, nangis semalaman, semua barang dia lempar juga."
"Bibi..." Tegur Arsya.
"Hehe bibi jujur den." Sahut bi Siti. "Non gimana kandungannya udah berapa bulan usianya?"
"Baru 5 Minggu bi nanti kita mau cek lagi ke dokter kandungan."
"Terus gimana? Ngidam non mual?"
"Awal-awal mual bi parah tapi setelah itu mereda padahal aku gak minum apa-apa."
"Oalah den. Berarti kemarin den Arsya mual-mual tuh ngidam den. Kan bibi sudah ngira itu."
"Hah masa saya yang ngidam bi?"
"Loh bisa aja den suami itu juga bisa ngidam loh bukan cuma istri."
"Aku juga baru tau bi."
"Wes gak papa nanti kedepannya jangan kaget non kalau den Arsya yang makin ngidam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomanceDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
