Setelah tiga hari Arsya di rumah karena merasakan mual akhirnya kini Ia akan pergi ke kantor. Berusaha tetep tegar karena Ia sadar banyak orang yang bergantung di perusahaan nya.
Arsya menuruni anak tangga dengan lesu. Tubuh nya masih lemas rasa mual nya setiap pagi seolah tak ingin pulih. Beruntung ada bi Siti yang mengurus nya. Memijat pundak nya dan memberikan nya obat. Tidak ada yang sakit dalam tubuh Arsya hanya saja mual setiap pagi nya selalu Ia rasakan.
Flashback
"Yaallah den kenapa den?" Ucap bi Siti panik saat itu melewati kamar Arsya.
Bi Siti membantu memijat leher Arsya agar bisa menuntaskan mual nya.
"Den sakit? Asam lambung nya kambuh den?"
Arsya menggeleng. "Engga bi Arsya cuma mual aja kayanya masuk angin."
Uweeee...
"Yaudah bibi bantu balurin minyak angin yah?"
"Iya bi makasih." Setelah selesai menuntaskan mual nya Arsya kembali ke atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya nya pada dipan.
"Sini punggung nya bibi Balur biar enak." Arsya pun menurut dan membalikkan badannya membelakangi bi Siti.
"Den gimana non Aruna? Udah ada kabar?" Tanya bi Siti.
"Belum bi. Arsya udah nyuruh Nando untuk cariin Aruna tapi belum ada kabar."
"Yang sabar yah deh. Bibi yakin nanti non akan pulang."
"Makasih bi."
Bi Siti terus membalurkan punggung Arsya dengan minyak angin di tangannya.
"Bi Arsya emang gak pantas bahagia yah?"
"Kata siapa toh den? Semua orang itu berhak dan pantas bahagia."
"Tapi bahagia Arsya gak pernah bertahan lama bi."
"Belum den. Ini ujian rumah tangga apalagi usia rumah tangga nya masih seumur jagung pasti banyak kerikil-kerikil kecil nya. Kalau memang kemarin den salah, perbaiki jangan nyerah..."
"Kalau bahagia den ada di non Aruna jangan pernah bosen untuk minta maaf sampai den Arsya bisa dapetin maaf itu dan bawa non Aruna kembali pulang." Lanjut bi Siti.
"Arsya udah cinta Aruna bi, Arsya gak akan bisa hidup tanpa dia. Tapi Arsya takut."
"Den mencintai itu bukan hal yang harus di takuti. Nikmati proses nya akan lebih indah..."
"Jadikan apa yang sekarang di lewati sebuah pelajaran untuk kedepannya dan terus memperbaiki diri." Lanjut bi Siti.
"Makasih bi udah nemenin Arsya dari kecil."
"Sama-sama den."
Beruntung dirinya masih memiliki bi Siti yang selalu menemaninya sedari kecil. Yang tahu segala kesedihan yang Arsya rasakan.
Arsya menutup hidung nya saat bi Siti akan menuangkan nasi di piringnya dan menahan nya menggunakan sebelah tangannya lagi.
"Jauhin bi bau." Tolak Arsya.
"Hah? Bau? Bibi bau den? Bibi udah mandi ko." Ucap bi Siti sembari berusaha mencium aroma tubuhnya sendiri.
Arsya menggeleng sebelah tangannya masih menutupi hidungnya. "Bukan bibi. Ini nasi nya bau banget bibi beli beras apa sih? Ko bau banget?"
"Hah? Nasi?" Bi Siti terkejut lalu langsung mengarahkan centong nasi yang di tangannya ke hidung nya. "Den bau dari mana sih? Gak bau den bibi biasa beli beras yang premium ko."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomanceDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
