Seperti tersambar petir dan mimpi terburuk nya Aruna kini harus bisa menerima takdir nya. Takdir yang tidak pernah di bayangkan sebelum nya. Lagi-lagi semua mimpi nya kandas, Aruna harus mengikhlaskan pernikahan impiannya. Menikah dengan orang asing yang tentu saja tidak Ia cintai. Memikirkan bagaimana nasib Ia kedepannya, bagaimana cara Ia menceritakan nya pada bunda. Aruna berusaha menelfon bunda Zira namun nihil nomor nya tidak aktif mungkin karena sedang di perjalanan menuju Surabaya. Pagi tadi bunda meminta izin untuk pergi ke Surabaya menjenguk Oma nya.
"Gue suruh orang untuk jemput bunda Lo yah?"
"Bunda lagi dijalan menuju Surabaya." Ucap Aruna singkat.
"Aruna gue janji setelah ini gue akan minta izin ke bunda Lo dengan baik-baik." Ucap Arsya menggenggam tangan Aruna.
Aruna melirik brangkar dimana Bimo terbaring lemah. Ia seperti melihat ayah nya yang sempat tertidur lemah di atas brangkar sebelum ayah nya pergi meninggalkan nya untuk selamanya. Kini tangis nya mulai membasahi pipi ketika kata "sah" menggema di dalam ruangan. Nando, dokter dan beberapa suster rumah sakit sudah menjadi saksi dari pernikahan Arsya dan Aruna.
Aruna mencium tangan Arsya dengan terpaksa begitu pun Arsya mencium kening Aruna. Hanya tangisan yang mambasahi pipi Aruna namun sekuat mungkin Aruna manahan nya. Berusaha air mata itu tidak kembali jatuh. Tepat sebelum ijab kabul di mulai Bimo sudah sadar dari koma nya hingga Ia mampu menyaksikan pernikahan anak nya. Senyuman haru merekah di wajah Bimo meskipun tertutup oleh oksigen yang menutupi hidung dan mulut nya.
"Nak." Panggil Bimo dengan sangat pelan dan terbata.
Arsya langsung menghampiri Bimo mendekat kan wajah nya tepat di depan Bimo. "Iya pah, ada apa? Apa yang sakit?" Tanya Arsya begitu khawatir.
Bimo menggeleng kan kepala nya pelan. "Papa baik-baik aja. Papa baha gia me li hat ka mu me ni kah." Sahut Bimo dengan terbata.
"Ba ha giakan Aruna Sya. Aruna pan tas ba Hagia." Lanjut Bimo dengan Terbata.
"Iya pah Arsya usahakan." Jawab Arsya lalu mencium punggung tangan Bimo.
"Aruna." Panggil Bimo.
Aruna menghampiri Bimo bergantian dengan Arsya. "Iya om."
"Ma kasih nak su dah mau me ni kah dengan Arsya." Ucap Bimo dengan terbata pada Aruna.
Aruna hanya mengangguk dan berusaha memberikan senyuman pada Bimo dan berusaha menutupi kesedihannya yang masih belum bisa menerima takdir nya.
"Aruna izinkan papa ber temu dengan Bun da mu nak." Lanjut Bimo.
Aruna terkejut mendengar ucapan Bimo sedangkan Ia sendiri belum memberitahu bunda nya bahwa Ia kini sudah menjadi seorang istri. "Iya om nanti Aruna ajak bunda kesini yah." Jawab Aruna dengan anggukan juga senyumannya.
Bimo kembali beristirahat karena dokter tidak mengizinkan Bimo banyak berinteraksi dengan siapapun. Alat medis masih terpasang dengan sempurna di tubuh nya. Sementara Nando sudah pergi kembali ke kantor untuk melanjut kan meeting penting yang sempat tertunda, sedangkan Arsya dan Aruna kini baru saja keluar dari ruangan Bimo.
"Lo mau kemana?" Tanya Arsya menarik tangan Aruna yang akan pergi.
"Gue mau lanjut kerja." Jawab Aruna ketus.
"Mulai sekarang Lo gausah kerja biar semua jadi tanggung jawab gue." Ucap Arsya masih menahan tangan Aruna agar tidak pergi.
Bukannya senang justru Aruna mulai menangis mengeluarkan tangisannya yang Ia tahan semenjak tadi. Dada nya begitu sesak mengingat akan takdir yang akan Ia jalani ke depannya bersama orang asing yang ada di hadapannya. Tuhan tidak adil Aruna harus kehilangan sosok ayah dalam hidup nya, kehilangan harta dan juga mimpi nya untuk kuliah di luar negri dan sekarang bahkan Ia harus kehilangan cinta nya, Aruna kehilangan pernikahan impiannya. Pikirannya semakin liar bagaimana dengan hubungannya dengan kekasih nya Bian? Meskipun mereka sudah hampir sebulan ini tidak komunikasi namun Aruna sangat mencintai Bian, cinta pertama nya.
Tangisnya semakin kencang membuat Arsya kelimpungan. "Hiks...hiks..hiks."
"Lo kenapa nangis?" Tanya Arsya memegang kedua bahu Aruna.
"Hiks.. Lo nanya kenapa gue nangis hiks? Gue gak mau pernikahan ini hiks..hiks." jawab Aruna bergetar.
"Sorry gue janji gue akan memenuhi semua kebutuhan Lo Aruna." Jawab Arsya dengan lembut sambil mengelus kedua bahu Aruna.
"Sayang." Panggil seorang wanita yang jarak nya tidak jauh dari Arsya dan Aruna.
Arsya menoleh mencari suara yang Ia kenali. "Bella?" Arsya terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari bahu Aruna karena seseorang itu adalah kekasih nya Bella.
Dari arah sana Bella berjalan cepat menghampiri Arsya dan langsung memeluk nya dengan erat. "Sayang maafin aku. Love you Sya aku kangen banget sama kamu." Ucap Bella memeluk Arsya dengan erat dan menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Arsya.
Sementara Arsya tidak membalas pelukan Bella mata nya tertuju pada Aruna yang sedang menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Bella melepaskan pelukannya. "Sayang gimana keadaan papa kamu?" Tanya Bella dengan kedua tangan mengelus pipi Arsya.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Arsya pada Bella.
Sementara aruna masih terpaku dengan pemandangan yang baru saja Ia lihat. Bukan, bukan cemburu tapi Aruna merutuki nasib nya sendiri. Melihat takdir nya menikah dengan laki-laki yang bahkan masih memiliki kekasih.
"Aku mau jenguk papa kamu lah sayang. Dan aku juga kangen kamu muach." Jawab Bella lalu mencium pipi kanan Arsya.
Aruna yang melihat adegan tersebut langsung pergi meninggal kan Arsya dan juga kekasih nya tersebut. Aruna berlari dengan air mata yang terus membasahi pipi nya.
Arsya hanya mampu melihat istri nya itu pergi tanpa berani memanggilnya. Karena bagaimana pun kini Bella masih menjadi kekasih nya dan Arsya masih mencintai nya. Bodoh bukan si Arsya ini?
Arsya menggenggam kedua tangan Bella dan mengelus nya. "Papa udah bangun dari koma nya bell dia harus istirahat full." Ucap Arsya.
****
Aruna berlari meninggalkan Arsya dengan tangis nya. Ia berniat akan kembali ke kantor nya. Namun rasa sesak di dada nya semakin terasa saat Ia baru saja menyaksikan laki-laki yang baru saja menjadi suami nya di cium oleh orang lain. Aruna berjongkok saat Ia sudah sampai di halte bus, menutup wajah nya dengan kedua tangan nya mengeluarkan segala tangis nya.
"Hiks hiks hiks "
Tanpa Aruna sadari ada seseorang yang memperhatikan nya dengan jarak yang tidak jauh dari tempat aruna berada.
Setelah merasa puas mencurahkan perasaan nya dengan tangisan, Aruna bangkit menghapus sisa air mata di pipi nya. Melihat diri nya di cermin yang sangat terlihat berantakan dan pucat. Aruna memilih untuk memoles wajah nya dengan bedak dan liptint nya. Ia tidak boleh terlihat rapuh oleh siapa pun. Setelah nya Aruna melihat jari manis nya yang sudah tersemat kan cincin pernikahan nya dengan Arsya, Ia lepaskan cincin itu dan Ia masukkan dengan sembarang ke dalam tas nya. Setelah itu Aruna Langsung menaiki bus yang akan mengantarkan nya ke tempat kerja nya karena Ia meninggalkan motor nya disana karena ulah Arsya yang langsung membawa nya pergi.
Seseorang itu terus memperhatikan Aruna hingga Ia menaiki bus nya. "Lo wanita kuat Aruna gue jamin kalau Arsya gak bisa buat Lo bahagia gue yang akan bawa Lo pergi dari kehidupan Arsya."
To be continue...
VOTE VOTE VOTE JANGAN LUPA
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomansaDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
