15. kritis

1.7K 113 4
                                        

Arsya berjalan dengan cepat dan terburu. Langkah nya yang begitu lesuh, wajah nya terlihat begitu penuh dengan kepanikan, bahkan Ia meninggalkan meeting penting di kantor nya. Arsya mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi bahkan hampir menabrak pengendara lain namun Ia tidak peduli, pikirnya Ia harus segera sampai di tempat tujuan nya detik itu pula. Arsya memarkirkan mobil nya dengan sembarang arah. Menelusuri koridor rumah sakit dengan langkah yang begitu cepat hingga Ia tidak peduli sudah menabrak langkah orang lain di sekeliling nya. Langkah Arsya terhenti, hati nya begitu teriris melihat sosok yang sangat berharga di hidupnya tengah memperjuangkan hidup dan mati nya. Lidah nya begitu kelu, mata nya kini tidak mampu menahan air yang akan membasahi pipi nya.

Hanya rapalan doa yang mampu Ia panjat kan di balik kaca ruangan. Melihat dokter yang sedang berusaha mengembalikan detak jantung nya dengan menempelkan defibrillator pada dada Bimo.

Nando yang melihat sahabatnya begitu rapuh saat ini Ia hanya mampu mengelus pundak Arsya memberikan kekuatan pada sahabat nya. "Kita berdoa sya semoga om Bimo bisa lewatin masa kritis nya." Ucap Nando merangkul bahu Arsya di samping nya yang sedang menatap ke arah kaca dimana ada Bimo, papa nya yang sedang berjuang.

"Gue takut Do gue takut." Sahut Arsya dengan rintih.

Tidak ada jawaban dari Nando Ia hanya mampu memberikan elusan di punggung Arsya berusaha menenangkan riuh yang ada di hati sahabat nya. Nando paham betul bagaimana kedekatan Arsya dan juga papa nya, semenjak keluarga nya hancur hanya sang papa yang selalu ada untuk Arsya. Semenjak Arsya tahu Bimo mengidap penyakit jantung, semenjak itu pula Arsya menurunkan ego nya. Ia selalu menuruti perkataan Bimo termasuk Arsya yang harus meneruskan perusahaan Bimo.

"Dok bagaimana keadaan papa saya?" Tanya Arsya saat dokter keluar dari ruangan Bimo.

"Alhamdulillah detak jantung nya sudah mulai normal. Namun saya belum bisa menjamin pak Bimo bisa melewati masa kritisnya dengan cepat." Jelas dokter pada Arsya.

Arsya mengusap wajah nya dengan kasar sembari menghapus air mata nya.

"Saya akan berusaha sebisa saya, tolong pak Arsya jangan putus untuk berdoa." Lanjut dokter menepuk bahu Arsya lalu meninggal kan Arsya dan juga Nando.

"Gue titip bokap." Ucap Arsya menepuk bahu Nando dan langsung pergi meninggalkan Nando.

"Lo mau kemana anjir?" Jerit Nando pada arsya yang tiba-tiba meninggal kan nya sendiri.

Arsya kembali mengendarai mobil nya dengan cepat setelah Ia mengetahui keberadaan Aruna. Dering telfon nya berbunyi namun tidak menghamburkan perhatian Arsya yang sedang fokus menyetir mobil nya. Setelah menempuh jarak hampir 30 menit Arsya menghentikan mobil nya di sebuah gedung yang tidak terlalu besar. Arsya membuka ponsel nya dan mencari kontak bernama Aruna.

"Gue di depan kantor Lo. Keluar sekarang!" Perintah Arsya di balik panggilan telfonnya dengan Aruna.

"Apaan si Lo? Gue lagi kerja gak bisa."

"Lo yang keluar atau gue yang nyusul Lo masuk kedalam?"

"Ish iya iya bentar gue izin dulu." Sahut Aruna dan langsung di matikan sepihak oleh Arsya.

Aruna berjalan menuju luar kantor nya, berjalan menghampiri mobil Arsya dengan terburu.

"Masuk!" Ucap Arsya memberikan perintah di balik kaca mobil yang terbuka.

Aruna menurut dan langsung memasuki mobil Arsya. "Ada apa sih? Gue tuh lagi kerja bisa gak Lo gausah seenak nya gitu? Kesel banget rese Lo." Gerutu Aruna.

Arsya tidak menjawab Ia hanya mendekat kan tubuh nya dengan Aruna berusaha memasangkan seat belt pada Aruna.

"Kenapa harus pake ini? Kita mau kemana?" Tanya Aruna setelah Arsya berhasil memasangkan seat belt nya.

Tidak ada jawaban dari Arsya, Ia langsung mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi.

"Lo gila yah? Lo mau mati?" Keluh Aruna saat Ia merasa terancam karena Arsya mengendarai mobil nya dengan begitu cepat.

"Ahh sial." Ucap Arsya ketika mobil nya harus terhenti karena di depan ada keramaian.

"Lo kenapa sih? Lo nangis? Arsya eh kak Arsya Lo kenapa?" Tanya Aruna saat memperhatikan wajah Arsya dari samping terlihat sedikit sembab. Kakak, Ia Aruna memutuskan untuk memanggil Arsya dengan sebutan kak karena Aruna tahu umur Arsya yang lumayan cukup jauh dengan nya.

Arsya hanya memijat kening nya dengan menyenderkan kepala nya pada kaca mobil tidak ada niat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Aruna.

Aruna menghembuskan nafas nya kasar. "Sabar Aruna inget Lo lagi di samping manusia dingin dan kejam." Ucap Aruna sambil mengelus dadanya.

Arsya kembali mengendarai mobil nya dengan cepat. Butuh waktu yang lebih lama untuk Ia kembali ke rumah sakit karena ada kecelakaan yang menghalangi perjalanan nya.

"Rumah sakit?" Tanya Aruna saat Arsya menghentikan mobil nya di rumah sakit.

"Lo kenapa ga bilang sih? Gue kan bisa jenguk bokap Lo nanti pulang kerja ka. Ini jam kerja gue gimana Aduhh." Keluh Aruna.

Arsya mengambil tangan Aruna dan menggenggam nya. "Gue mohon Aruna kali ini Lo jangan ngebantah. Gue janji setelah ini gue akan nurutin apa yang Lo mau." Ucap Arsya dengan menatap Aruna teduh.

Aruna menyadari ada raut kesedihan di wajah Arsya, bahkan mata nya sedikit sembab seperti seseorang yang sudah menangis.

Arsya menggenggam tangan Aruna berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju kamar Bimo.

"Bokap gue gimana?" Tanya Arsya pada Nando.

"Belum ada perkembangan sya."

"Lo ikut gue ke dalam, gue perlu lo jadi saksi." Ucap Arsya pada Nando.

"Saksi? Saksi apa sya?"

Belum sempat menjawab ada seseorang pria setengah tua menghampiri Arsya dengan pakaian formal juga peci di kepalanya.

"Dengan bapak Arsya?"

"Iya betul pak. Kita lakuin nya di dalam aja pak di depan papa saya."

"Baik pak."

Sementara Aruna masih bingung dengan maksud dari yang Arsya bicarakan. Tangannya masih di genggam erat oleh Arsya seakan tidak ingin melepaskannya begitu saja. Begitu pun dengan Nando Ia masih bertanya-tan
ya siapa laki-laki tua yang memakai peci tersebut.

Arsya membawa Aruna, Nando dan juga seseorang tersebut memasuki ruangan papa nya. Aruna terkejut dengan kondisi Bimo yang terbaring tidak sadar kan diri dengan alat medis yang kembali menempel di tubuh nya serta layar monitor di samping brangkar.

"Om Bimo kenapa?" Tanya Aruna pada Arsya.

"Papa kritis." Jawab Arsya singkat lalu mendekat kan diri nya pada Bimo dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Aruna.

"Pah Arsya minta restu buat nikahin Aruna sekarang di depan papa yah pah." Ucap Arsya pada Bimo.

Aruna dan Nando terkejut dengan perkataan yang Arsya lontarkan pada Bimo.

"Kak Lo gila? Gue gak mau." Ucap Aruna berusaha melepaskan genggaman tangan Arsya.

Arsya menggenggam kedua tangan Aruna lalu berjongkok di bawah kaki Aruna. "Gue mohon Aruna nikah sama gue demi bokap gue." Ucap Arsya bersujud pada Aruna dengan tetesan air mata nya Arsya memohon dengan sangat.

To be continue...

Jangan lupa tinggalin jejak kalian komen, vote dan follow kalau bisa yah teman-teman biar adil antara author dan pembaca wkwk

Biar tambah semangat lanjut cerita nya gituuuu

Arsya & ArunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang