57. Need Time

1.2K 113 8
                                        

Selama di perjalanan Arsya gelisah entah mengapa perasaan nya sangat tidak nyaman pikirannya penuh dengan Aruna dan juga rasa bersalah membuat dada nya merasakan sesak sendiri. Arsya terus mencoba menghubungi Aruna dan mengirimi nya pesan namun nomor nya masih tidak aktif. Sudah beberapa kali pula Arsya menghubungi bi Siti untuk menanyakan apakah Aruna sudah pulang atau belum. Saat tahu Aruna belum sampai rumah dengan segera Arsya membelokkan mobil nya ke arah lain, Ia akan pergi ke rumah Fazira berfikir Aruna akan datang kesana.

Setelah beberapa menit Ia sampai, Arsya turun dari mobil. Langkah nya terburu berusaha mengetuk pintu rumah yang tertutup dan sangat terlihat sepi itu. Beberapa kali Ia mengetuk namun nihil tidak ada jawaban. Dengan segera Arsya memilih untuk menelpon bunda Fazira untuk memastikan.

"Hallo bunda." Sapa Arsya di balik telepon.

"Iya ada apa nak?"

"Arsya di depan rumah bunda. Bunda lagi pergi?"

"Bunda lagi di Surabaya jenguk Oma nak. Ada apa? Ko tumben ke rumah bunda gak bilang dulu."

"Aruna ikut Bun?"

"Aruna? Engga dia gak ikut. Kenapa? Aruna kemana nak?"

"Oh gitu Bun. Dia kayanya pergi Bun Arsya pikir pergi ke rumah bunda."

"Oalah engga nak. Dia gak bilang emangnya pergi kemana?"

"Bilang ko Bun. Yaudah Arsya matiin dulu yah Bun mau jemput Aruna."

"Oh iyaiya nak."

Arsya mematikan panggilan nya. Ia terduduk di kursi yang berada di halaman rumah itu tangan nya terulur mengacak-acak rambut nya, terlihat Arsya sangat frustasi tidak mendapatkan kabar dari Aruna.

Ia mencoba menelpon Nando sudah beberapa kali namun Nando tidak mengangkat nya. "Arghhh siall..." Gerutu Arsya kesal.

Arsya terbangun dari duduk nya menoleh kesana kemari seperti berusaha berfikir jernih kemana istri nya itu pergi. Arsya kembali memasuki mobil nya dan melajukannya kembali. Pandangan matanya tak henti melihat sekitar jalanan berharap ada Aruna disana. Pikirannya semakin kacau entah mengapa perasaan dan hati nya sangat sesak dan gelisah seperti Aruna akan pergi meninggalkan nya.

Arsya membuka kancing bagian atas kemeja nya berusaha mencari kenyamanan dengan rasa tak nyamannya. Setelah menelpon kembali bi Siti yang memberitahu kabar Aruna yang belum juga pulang. Arsya melajukan mobil nya menuju kafe tempat dimana Aruna dulu bekerja mengisi reguler.

Tidak butuh waktu lama hari yang sudah menggelap karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam Arsya kini sudah berada di alamora kafe. Arsya memasuki kafe tersebut dengan segera pandangan mata menelusuri seisi kafe untuk mencari keberadaan Aruna.

"Woy!" Sapa Lingga sahabat Arsya pemilik kafe.

"Ga Aruna nyanyi lagi disini?" Tanya Arsya tanpa basa-basi.

"Kaga lah kan gak Lo izinin bukan?"

"Terus tadi dia ada kesini ga?"

"Kayanya sih gak ada yah. Kalaupun ada dia pasti nyapa gua secara anak itu sedikit heboh."

"Lo yakin ga?"

"Yakin. Emang kenapa sih?" Tanya lingga heran.

"Dia gak bisa di hubungi. Ga gue minta tolong sama Lo kalau Aruna kesini tolong langsung telepon gue."

"Iya iya aman. Tapi bentar, Lo lagi berantem? Dia kabur gitu?"

"Enggak gue gak berantem sama dia. Gue juga bingung dia kemana gak biasa nya dia kaya gini gua khawatir banget ga. Tolong kabarin gue yah kalau dia kesini." Jelas Arsya dan berakhir Ia menepuk pundak Lingga.

Arsya & ArunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang