Di tengah deretan rak perlengkapan bayi, Arsya dan Aruna tampak tenggelam dalam kebahagiaan sederhana. Aruna, dengan perut yang sudah membulat di usia kehamilan tujuh bulan, sesekali membelai lembut perutnya sambil tersenyum melihat baju-baju mungil yang tergantung rapi. Suaminya berjalan setia di sampingnya, sesekali mengambil botol susu atau selimut bayi, lalu bertanya dengan mata berbinar, "Yang ini lucu nggak?"
Mereka tertawa kecil saat mencoba memilih antara warna biru muda atau putih gading, seolah setiap keputusan adalah bagian dari petualangan cinta baru yang sedang mereka jalani. Di balik belanja mereka, tersimpan rasa haru dan antusiasme: sebuah harapan besar untuk menyambut kehidupan kecil yang tak lama lagi akan melengkapi keluarga kecil mereka.
Arsya yang tampak heboh dan bersemangat memasukkan semua pakaian bayi yang menurut nya lucu pada keranjang, sehingga beberapa kali mendapat teguran dari Aruna karena Arsya juga banyak memasukkan pakaian anak balita. Arsya menurut dan mengembalikan pakaian balita itu pada rak. Langkah nya terus menelusuri bagian perlengkapan lainnya seperti tempat tidur bayi, botol susu, bahkan Arsya kini berada di tempat mainan anak-anak.
"Ngapain kesini?" Tegur Aruna yang melihat Arsya sedang sibuk memilih beberapa mainan.
"Ini aku lagi milih mainan buat anakku dong sayang. Kira-kira beli mobil-mobilan remot atau mobil-mobilan yang kecil dulu yah sayang?" Tanya Arsya meminta pendapat istrinya, mata nya tetap fokus pada beberapa mainan yang terpajang di rak.
"Arsya...masa anak nya baru lahir mau langsung di kasih mainan kaya gini?"
"Yah kenapa sayang? Ini kan bisa buat nanti dia agak gedean."
"Enggak! Udah taro lagi kita belanja yang penting dulu. Ini popok bayi aja belum loh mas." Tolak Aruna menarik tangan Arsya agar menjauh.
"Tapi sayang..."
"Mas..."
"Yaudah iya." Arsya menurut meskipun dengan wajah nya yang di tekuk.
Aruna paham Arsya sangat excited dengan kelahiran anak pertama nya. Namun Ia ingin segera menyelesaikan belanjaannya karena tubuh nya yang sudah lelah.
Setelah selesai membeli keperluan bayi kini mereka sudah berada di depan kasir untuk membayar nya. Arsya yang peka dengan Aruna yang terlihat tampak lelah pun dengan segera membawa Aruna untuk duduk.
"Sayang kamu duduk dulu, biar aku yang antri yah." Pinta Arsya membawa Aruna duduk tidak jauh dengan kasir.
Aruna mengangguk. "Jangan lama yah mas aku capek banget."
"Iya sayang sabar yah." Jawab Arsya lalu kembali pada kasir untuk menyelesaikan pembayaran nya.
Setelah selesai mengantri untuk membayar barang belanjaan nya, Arsya membawa beberapa kantong belanjaan serta box yang berisi perlengkapan bayi lainnya seperti botol susu, pompa asi, dan juga yang lainnya, semua Arsya jadikan satu di dalam troli dorong agar memudahkan Arsya membawanya ke parkiran.
"Sayang kamu kuat jalan sampai parkiran?" Tanya Arsya membantu Aruna berdiri.
"Kuat ko mas tadi cuma lumayan pegel aja kakinya."
"Yaudah nanti di rumah aku pijitin yah."
Aruna berjalan dengan menggandeng tangan Arsya sebelah kiri dan Arsya yang sembari mendorong keranjang belanjaannya.
"Mau makan dulu gak?" Tanya Arsya.
"Aku mau makan rawon yang Deket gang komplek mas."
"Yaudah nanti kita mampir dulu yah? Tapi makannya di rumah aja yah sayang biar kamu bisa cepat istirahat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomanceDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
