Suara hujan yang menyelimuti keheningan yang terasa di sebuah rumah sederhana tempat dimana Aruna tinggal beberapa bulan ini. Arsya terduduk di sofa ruang tamu yang terlihat kecil dan begitu jauh dari kemewahan. Rasa gugup yang Arsya dan Aruna rasakan saat ini ketika mereka memutuskan untuk memberitahu bunda Zira tentang pernikahan nya. Suasana hening yang hanya terdengar suara hujan dari luar membuat kecanggungan yang semakin terasa. Aruna duduk tepat di samping Arsya dengan memainkan jari-jari kukunya menandakan Ia sangat takut dengan reaksi bunda nya tersebut. Meskipun Aruna tidak melakukan kesalahan awal terjadinya pernikahan tersebut, tetapi tetap saja Ia menikah tanpa restu dari bunda nya.
"Tante sebelum nya Arsya mau meminta maaf sebesar-besarnya." Ucap Arsya dengan gugup memecah kecanggungan nya.
"Minta maaf? Ada apa sebenarnya?" Tanya Zira yang mulai curiga dengan ucapan maaf dari Arsya.
Arsya menarik nafas nya begitu dalam sebelum memulai pembicaraan. "Tante sebenarnya.... Arsya sudah menikahi Aruna." Ucap Arsya dengan gugup.
"Menikah? Gausah bercanda! Apa yang kalian lakukan? Aruna benar apa yang di katakan teman kamu ini?" Zira terkejut dengan ucapan Arsya lalu memastikan kembali kepada Aruna.
Aruna hanya mengangguk menyetujui pernyataan Arsya.
"Gausah bercanda Aruna! Kamu ini masih punya bunda! Kenapa kamu harus menikah tanpa sepengetahuan bunda?" Tanya Zira dengan nada sedikit meninggi karena terkejut.
"Kamu hamil?" Lanjut Zira dengan tatapan tajam menatap Arsya dan Aruna yang berada di hadapannya.
Aruna langsung menggeleng kan kepala nya. "Engga bunda Aruna gak hamil." Dengan segera Aruna membantah pernyataan bundanya.
"Terus kenapa? Apa yang kalian lakukan?"
"Tante maaf Arsya terpaksa menikahi Aruna karena papa Arsya kritis saat itu."
"Kritis? Maksud kamu? "
"Ini surat dari papa sebelum papa pergi untuk Tante." Ucap Arsya memberikan amplop yang berisi surat yang di tulis langsung oleh Bimo.
Fadzira membuka amplop tersebut, betapa terkejutnya Ia ketika ada beberapa lembar foto diri nya dengan seseorang. Seseorang yang dulu pernah mengisi hari-harinya, seseorang yang dulu sempat mengucapkan janji-anji kepadanya, seseorang yang dulu sempat Ia cintai dan sekaligus seseorang yang menorehkan luka yang sangat dalam padanya.
Fazira membaca surat tersebut dalam hati tanpa terasa air mata nya luruh saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Hati nya sesak, masa lalu yang Ia benci ternyata tidak seburuk apa yang Ia pikirkan selama ini. Zira terus membaca surat itu sampai akhir hingga Ia membaca sebuah kalimat.
Izinkan Aruna anak mu menjadi pendamping anakku, Arsya Alian Xiever Ra. Wajah cantik nya, senyumannya dan keberanian nya sangat mirip dengan mu Fazira. Setidaknya darah daging ku dan darah daging mu bisa bersama dan bahagia suatu saat nanti Ra. Datang ke makam ku Ra, aku Rindu.
~Bimo Aryan Xiever
Tangis Fazira semakin luruh ketika Bimo meminta nya untuk datang ke makam. Rasanya begitu sesak Ia harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya disaat seseorang itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Aruna yang melihat sang bunda menangis Ia segera pindah ke sebelah Zira dan memeluk bundanya. Aruna seperti merasakan sesak yang sama meskipun Ia belum tahu penyebab bunda nya menangis.
"Bun bunda kenapa? Maafin Aruna bunda." Ucap Aruna memeluk bundanya.
Fazira menggeleng kan kepala nya mengusap lembut pipi Aruna dan memancarkan senyumannya. "Bunda restui kalian nak." Ucap bunda Zira mengelus lembut pipi Aruna.
"Bunda, bunda yakin? Aruna masih pengen di samping bunda. Pernikahan Aruna sama Arsya baru sehari bunda jadi bisa di batalin Bun." Ucap Aruna meyakinkan bundanya bahwa pernikahan nya bisa di batalkan.
"Sayang pernikahan itu sakral bukan mainan." Sahut Zira lalu menatap Arsya yang ada di hadapan nya. "Arsya bunda percaya sama kamu lindungi pernikahan kalian seperti apa yang di minta papa kamu." Lanjut Zira dengan tatapan dalam menatap Arsya.
Arsya mengangguk. "Arsya usahakan Bun da." Jawab Arsya dengan terbata.
Aruna menangis Ia tidak menyangka bunda nya menyetujui pernikahan nya semudah itu tidak sesuai dengan harapan Aruna bahwa bunda nya akan menentang keras pernikahan nya dengan Arsya.
"Bunda punya satu permintaan Arsya, bunda ingin pernikahan ini di adakan kembali dengan terbuka seperti sewajar nya pasangan yang menikah."
Arsya terpaku dengan permintaan Fazira. "I iya Tante nanti Arsya obrolin dulu sama Aruna." Jawab Arsya.
"Bunda nak."
"Iyah bunda." Jawab Arsya.
***
Disebuah rumah mewah dan megah kini Aruna berada, setelah mendapatkan restu dari bunda nya Arsya membawa Aruna pindah ke rumah nya. Sempat ada penolakan oleh Aruna namun ternyata bunda Zira sangat mendukung keputusan Arsya sehingga membuat Aruna tidak mampu berkutik.
"Bi tolong bawain koper-koper ini ke kamar saya." Ucap Arsya pada bi Siti pembantu nya.
"Baik den."
"Tunggu!" Ucap Aruna menahan bi siti. "Gue gak mau sekamar sama Lo." Lanjut Aruna menatap Arsya.
"Kenapa? Lo bilang pernikahan ini bukan mainan." Tanya Arsya.
"Gue cuma gak mau sampai Lo bisa buktiin kalau Lo beneran putus sama pacar Lo." Sahut Aruna tegas.
Arsya menarik nafas nya dalam. "Oke kalau itu mau Lo."
"Bawa barang-barang nya ke kamar sebelah saya aja bi." Pinta Arsya pada bi Siti.
"Iya baik den."
"Mulai sekarang juga Lo gak perlu kerja lagi." Pinta Arsya.
"Gak! gue akan tetap kerja sampe Lo buktiin perkataan Lo kalau Lo serius sama pernikahan ini." Sahut Aruna lalu pergi menyusul bi Siti.
Arsya mengusap wajah nya kasar. "Arghh Bocil keras kepala." Kesal Arsya.
***
Setelah mendapatkan telfon dari Bella, tanpa sepengetahuan Aruna Arsya pergi dari rumah untuk menemui Bella. kekasih nya tersebut yang memintanya untuk menjemput nya di airport karena Bella baru saja pulang dari Bali setelah selesai melakukan pemotretan nya. Selama perjalanan Arsya di bingung kan dengan keputusan nya sendiri karena memutuskan untuk terus melanjutkan pernikahan nya dengan Aruna. Entahlah apa karena surat wasiat yang di berikan oleh papa nya atau memang karena Arsya memiliki keyakinan kuat tentang Aruna sehingga Ia harus terus melanjutkan pernikahan yang di jalani tanpa cinta tersebut.
"Gimana caranya gue bilang sama Bella Arsya Lo bego." Keluh Arsya merutuki dirinya sendiri dengan tangan yang terus menyetir mobil.
Setelah tiba di airport Arsya langsung mencari Bella. Melirik mata nya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Bella.
"Sayaaaangg." Jerit Bella dan langsung memeluk Arsya dari belakang.
Arsya yang mendapat pelukan mendadak hampir tersungkur karena Bella yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.
"Sayang maafin aku kemarin aku benar-benar ga bisa flight ke Jakarta saat papa kamu meninggal." Ucap Bella masih memeluk Arsya dari belakang.
Arsya melepaskan pelukan Bella dan membalikkan tubuh nya untuk menghadap Bella. "Sayang gapapa. Nanti kamu bisa datang ke makam papa ko." Ucap Arsya memegang kedua bahu Bella dan menatapnya.
Bella mengangguk dan tersenyum. "Maaf yah sayang disaat kamu lagi jatuh aku gaada di samping kamu. Tapi aku janji setelah ini aku akan terus ada di samping kamu." Ucap Bella memberikan senyuman manisnya pada kekasih nya tersebut.
Arsya tersenyum dan kembali memeluk Bella juga memberikan kecupan pada ujung kepala Bella.
"Sorry Bel." Ucap Arsya dalam hati.
To be continue...
Hai hai selamat pagi selamat beraktifitas... Jangan lupa tinggalin jejak nya yaa makasih yang udah follow dan selalu vote dan komen nya. Vote dan komen kalian itu semangat buat aku lanjut terus ceritanya. Hehe
Sehat-sehat guyssss
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomansaDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
