Sudah dua hari ini Aruna menghilang. Bahkan saat ini nomor bunda Fazira pun tidak bisa di hubungi. Sudah berbagai macam cara Arsya lakukan menghubungi polisi, menghubungi semua nomor teman-teman kerja nya dulu dengan cara Ia mendatangi tempat kerja Aruna dulu semua nya nihil mereka tidak tahu dimana Aruna berada.
Langkah nya lesu saat Ia berjalan menaiki lift kantor nya. Sudah dua hari pula Arsya tidak pergi ke kantor. Pikirannya yang kacau membuat Ia tidak memiliki semangat menjalani hari nya.
Hidup nya terasa sepi dan hampa. Aruna yang selalu menemaninya entah kemana Ia pergi. Matanya sembab selain menangis Arsya pun tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Arsya menopang tubuhnya dengan tangannya yang Ia taruh di meja kerja nya. Tanpa terasa air mata nya luruh, ada rasa sakit di hati nya entah seperti apa yang jelas Arsya merasa dirinya tidak berguna karena membuat Aruna pergi dari hidup nya.
Suara ketukan terdengar dari luar membuat Arsya menegakkan badannya dan menghapus air mata nya.
"Masuk." Ucap nya setelah menetralisir perasaan nya.
"Maaf pak ini ada surat untuk bapak."
"Terimakasih." Arsya menerima nya, ada nama seseorang yang Ia cari selama ini tertera disana. Dengan segera Arsya membuka nya. Namun, betapa terkejut nya amplop itu berisi foto-foto Arsya bersama Bella selama ini.
Arsya menggeram Ia mengepalkan tangannya, wajah nya menegang hingga dering ponsel berbunyi.
'Chat'
'Aku butuh waktu sendiri, jangan cari aku. Aku di sini aman dan baik-baik aja. Tapi aku mohon selama aku pergi tolong pikirkan dan pastikan hati kamu buat siapa. Aku gak akan pernah bisa ada di samping kamu kalau ternyata hati kamu gak ada disana.
Untuk sementara kita jalanin hidup kita masing-masing. Cukup aku dan kamu bukan kita.'
Setelah membaca pesannya dengan segera Arsya menelpon Aruna berusaha mencegah kepergiannya. Namun sayang nya nomor nya kembali tidak aktif.
"ARGHH SIAL!!!" Arsya mengepal kan tangannya dan menonjok meja kerja nya dengan kencang hingga membuat beberapa barang di atas nya berjatuhan.
Arsya menjatuhkan badannya pada kursi kerja nya kedua tangannya mengusap kasar wajah nya.
"Bella...sialan!!" Ucap nya menggeram.
Nando memasuki ruangan Arsya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sorry gue perlu tandatangan Lo." Ucap Nando menaruh berkas di atas meja Arsya.
Arsya yang sedang memijat pelipisnya dan memejamkan mata nya pun dengan segera membenarkan posisinya. Ia menandatangani tanpa mengecek nya terlebih dahulu.
"Aruna belum ada kabar?" Tanya Nando sembari merapikan berkas yang sudah di tandatangani oleh Arsya.
Arsya melempar pelan amplop yang berisi foto-foto nya dengan bella di hadapan Nando.
Nando mengambil nya dan membuka nya. Ada beberapa foto candid dan juga foto selfie salah satu nya foto saat Arsya dan Bella sedang berada di sebuah restoran terakhir kali Ia bertemu dengan Bella.
"Lo masih berhubungan sama dia?" Tanya Nando setelah melihat semua foto-foto tersebut.
Arsya menggeleng. "Gue udah gak ada hubungan apapun dengan Bella Lo tau itu kita udah selesai."
"Tapi Lo masih ngurusin Bella kemarin!" Kesal Nando, karena Arsya yang terus mengelak. Jika memang tidak ada hubungan untuk apa Arsya selama ini masih berurusan dengan Bella.
"Gue cuma bantuin dia! Gue ngerasa bersalah sama dia karena udah ninggalin gitu aja!"
"Tapi sayang nya cara Lo salah, Lo to much sya.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomanceDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
