29. Menghindar

1.7K 114 5
                                        

Setelah kepergian Arsya, Aruna hanya berdiam diri di kamar tanpa mau untuk keluar dari kamar nya dan bertemu dengan suami nya. Hati nya masih sakit jika mendengar perkataan dan perlakuan Arsya semalam. Bagaimana tidak? Dengan semua pengorbanan yang Aruna lakukan selama ini lantas Ia kalah hanya karena omong kosong dari seorang nenek lampir seperti Bella. Aruna paham jika memang Arsya masih belum lepas dengan Bella tapi setidaknya Arsya tidak menghakimi diri nya tanpa tahu akar permasalahannya.

Waktu sudah semakin sore, Aruna sangat bosan karena berdiam diri di kamar. Aruna memutuskan untuk mengisi reguler di kafe. Tadinya Aruna berfikir Ia juga akan resign dari kafe namun setelah kejadian semalam Aruna bertekad untuk bekerja kembali. Ia tidak ingin memakai uang Arsya yang bahkan suami nya itu tidak bisa menghargai nya sebagai istri.

Setelah berganti pakaian nya dengan menggunakan pakaian casual nya juga memoles wajah nya Aruna keluar dari kamar nya meskipun kaki nya masih terasa sakit namun Aruna tidak bisa hanya berdiam diri. Sebelum menuruni tangga Aruna memasuki kamar Arsya Ia membuka dompet nya dan menaruh kembali kartu ATM yang tempo hari Arsya berikan kepadanya, Aruna letakkan kartu itu tepat di meja samping tempat tidur Arsya.

Setelah nya Aruna bergegas menuruni tangga dengan jalannya yang sedikit pincang.

"Non, non mau kemana?" Tanya bi Siti saat melihat Aruna berjalan dengan pincang juga pakaian nya yang sudah rapih.

"Aruna mau isi reguler kafe bi bosen di rumah."

"Tapi non kaki nya masih sakit non."

"Gapapa aman bi. Aruna berangkat yah bibi gausah khawatir." Peluk Aruna dan mencium tangan bi Siti untuk pamit.

Aruna berjalan menuju motor nya, mengambil helm nya dan juga langsung menaiki nya. Mengendarai nya dengan kecepatan normal. setelah beberapa saat kini Aruna telah sampai di Alamora kafe tempat dimana Aruna selama ini mengisi regulernya.

"Loh Aruna kaki kamu kenapa?" Tanya Lingga saat melihat Aruna berjalan pincang juga kaki nya yang di perban. Lingga pemilik kafe sekaligus teman Arsya.

"Gapapa ko kak aman luka dikit aja."

"Terus ngapain kesini? Sama Arsya? Mana suami kamu?" Tanya Lingga sembari mencari keberadaan Arsya. Lingga memang mengetahui pernikahan Arsya dan Aruna karena lingga termasuk teman dekat Arsya bersama Nando.

"Aku mau reguler lah kak. Arsya gak ikut."

"Reguler? Kata Arsya kamu ga bisa reguler lagi loh Aruna."

"Hah? Enggak ko aku bisa kak."

"Tapi Arsya bilang....

"Kak please izinin aku reguler lagi." Mohon Aruna dengan kedua telapak tangannya yang di eratkan.

"Hmmhh yaudah. Sekarang kamu siap-siap aja di belakang tapi nanti giliran yah soalnya itu udah ada pengganti kamu baru hari pertama sih dia."

"Yahh aku gak apa-apa ko ka kalaupun cuma 5 lagu."

"Iya yaudah sana siap-siap. Setelah dia selesai kamu naik. Kayanya sekitar jam 8 atau setengah 9 dia selesai."

"Oke siap ka makasih." Sahut Aruna dengan tangan nya Ia taruh di ujung kening menandakan Ia memberi hormat pada lingga.

***

Kepala nya sangat berat, Ia seperti di tikam banyak beban. Arsya memikirkan banyak hal terutama tentang pernikahan nya dengan Aruna dan mantan kekasih nya Bella. Perlakuan Bella tadi membuat Arsya sangat geram. Ia tidak menyangka wanita yang dulu Ia cintai mampu berlaku hal bodoh pada diri nya dan juga Aruna. Bella yang terkenal lemah lembut dan juga anggun kini berubah seperti wanita yang tidak Arsya kenal. Dari apa yang dia perbuat kepada Aruna dan memfitnah nya dan kini dia merendahkan diri nya di depan Arsya.

Arsya & ArunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang