50. Perubahan

1.6K 115 8
                                        

Malam sudah berganti waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Aruna dan Fazira telah selesai menyiapkan makan malam nya dan menata nya di meja makan sederhana yang hanya terbuat dari kayu. Fazira memasaknya khusus untuk menantu nya. Kali ini menu nya lebih banyak dari biasanya.

"Aruna suami kamu pulang jam berapa?" Tanya Fazira setelah selesai menata makanannya.

"Tadi sih bilang nya baru selesai Bun kayanya lagi di jalan." Sahut Aruna.

"Oh yaudah kita tunggu dulu aja."

"Yahh...bunda Alisa udah laper banget ini." Ucap Alisa mengeluh sembari memegang perut nya.

"Heh sabar kek. Lagian perasaan tadi Lo abis jajan deh." Sahut Aruna.

"Jajan sama makan itu beda ka." Timpal Alisa.

Aruna mengacak-acak rambut adik nya itu. "Yee dasar bocil."

"Ka please deh umur kita cuma beda dikit yah stop bilang gue bocil." Kelak Alisa yang tidak terima di panggil bocil.

"No! Tetep Lo bocil." Kata Aruna.

"Lo juga bocil-bocil kawin wleee." Sahut Alisa menjulurkan lidah nya, meledek Aruna.

"Yeee dasar, ngeselin Lo!"

"Udah-udah kalian ini ribut terus."

"Kaka noh yang duluan bunda." Kata Alisa mengadu.

Aruna hanya melotot kan mata nya mendengar aduan adik nya itu. Seperti kebanyakan saudara Kaka beradik yang selalu bertengkar itulah Aruna dan Alisa. Jarak umur nya yang tidak jauh menjadikan mereka seperti teman seumuran.

Waktu semakin malam jam sudah menunjukkan pukul delapan malam namun Arsya belum juga sampai dan belum mengabari Aruna. Aruna sudah berusaha menelpon Arsya namun tidak ada jawaban.

"Bunda makan duluan aja sama Alisa, Arsya kayanya lembur Bun." Ucap Aruna berbohong padahal sedari tadi Ia tidak bisa menghubungi suaminya itu.

Bunda Zira pun bingung sementara Alisa yang sudah menahan laparnya memutuskan untuk langsung makan malam nya yang hampir telat. "Yaudah bunda makan duluan kalau gitu. Kamu mau bareng bunda atau nunggu suami kamu?" Tanya Fazira.

"Aku nunggu Arsya aja bunda." Sahut Aruna.

Fazira dan Alisa pun memakan makan malam nya tanpa Aruna. Sedangkan Aruna memilih untuk menunggu Arsya di luar duduk di kursi plastik yang berada di halaman rumah nya. Aruna terus menunggu kabar dari suami nya itu.

Waktu semakin malam Arsya belum juga sampai. Rasa khawatir Aruna terus menyelimuti pikirannya. Hingga tepat pukul setengah sepuluh malam akhirnya mobil Arsya terparkir di depan rumah Aruna. Aruna yang melihat pun merasa lega.

"Kamu kemana aja si? Aku telpon gak bisa? Lembur?" Cecer Aruna, setelah Arsya turun dari mobilnya.

"Maaf tadi aku ada urusan mendadak." Sahut Arsya dengan wajah nya yang datar.

"Urusan apa?"

"Adalah urusan. Udah yah kita pulang aku capek." Ucap Arsya.

"Pulang?" Tanya Aruna terkejut. "Aku tuh belum makan dari tadi nungguin kamu Arsya! Bunda juga udah masakin kamu masa kamu main pulang aja sih?" Kesal Aruna.

"Maaf...yaudah kita makan dulu abis itu kita pulang." Ucap Arsya.

Arsya dan Aruna pun memasuki rumah Aruna. Aruna berusaha menutupi wajah kesal nya karena sikap Arsya di depan Fazira yang sedang menonton tv di ruang tamu.

"Assalamualaikum." Ucap Arsya memasuki rumah.

"Waalaikumsalam. Arsya? Kamu baru pulang nak?" Tanya Fazira berdiri menerima tangan Arsya yang mencium tangannya.

"Iya bunda tadi ada urusan mendadak." Jawab Arsya setelah mencium tangan Fazira.

"Oh yaudah. Sana makan dulu makanan nya pasti udah dingin biar bunda angetin dulu yah." Ucap Fazira yang hendak pergi namun segera Aruna tahan."

"Gak usah bunda biar sama Aruna aja. Bunda istirahat aja. Arsya sama Aruna juga kayanya abis makan mau langsung pulang Bun kasian Arsya capek." Ucap Aruna mencegah Fazira.

"Hmm yaudah kalau gitu bunda juga udah ngantuk. Nanti kalian hati-hati pulang nya yah."

"Iya pasti bunda."

Arsya dan Aruna menikmati makan malam nya yang telat. Tidak ada obrolan suasana menjadi hening seketika. Di tambah wajah muram Arsya yang membuat Aruna kebingungan. Suasana hening yang hanya terdengar suara dentuman sendok dan piring yang saling beradu.

"Mau nambah?" Tanya Aruna saat Arsya telah menghabiskan makan malamnya.

Arsya menggeleng. "Aku mau pulang capek." Katanya.

Tidak menjawab Aruna memilih membereskan bekas makannya tanpa menghabiskan nya.

"Kenapa gak di habisin?" Tanya Arsya saat Aruna membawa piringnya ke wastafel.

"Udah kenyang." Jawab Aruna tanpa melihat Arsya. "Ayo." Lanjutnya.

Tidak ada pembicaraan sama sekali di dalam mobil. Keduanya fokus dengan pikiran masing-masing. Aruna yang terheran dengan sikap arsya yang tiba-tiba menjadi dingin dan Arsya yang fokus menyetir dengan muka datar dan lelahnya.

Perjalanan yang lancar tidak terkendala macet membuat mereka sampai lebih cepat dari biasanya. Kini mereka telah sampai di rumah nya Aruna langsung pergi meninggalkan Arsya menuju kamar dan segera menyiapkan pakaian tidur untuk suami nya.

"Baju kamu udah aku siapin, aku mau bersih-bersih di kamar sebelah." Ucap Aruna saat Arsya memasuki kamarnya.

Arsya mengangguk dan segera memasuki kamar mandi. Dan Aruna yang pergi ke kamar sebelah untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Aruna kembali ke kamar nya Ia berusaha menurunkan ego nya untuk bersikap biasa saja dan berusaha membuat Arsya nyaman.

"Mau aku buatin teh hangat gak?" Tanya Aruna saat Arsya keluar dari kamar mandi.

"Gak perlu, aku ngantuk." Ucap Arsya datar.

Aruna mengangguk dan naik ke atas tempat tidur tepat di sebelah Arsya. "Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Aruna.

Arsya menggeleng. "Enggak aku cuma capek."

Aruna menarik nafasnya sedikit kasar. "Yaudah kamu istirahat aja."

Arsya mengangguk dan merebahkan tubuh nya membelakangi Aruna. Aruna semakin bingung dengan sikap suami nya. Arsya yang biasanya tidak pernah tidur membelakangi nya namun kini Arsya membelakangi nya. Aruna mencoba mendekat dan memeluk Arsya dari belakang.

"Kalau ada masalah kerjaan atau apapun itu aku siap buat jadi tempat cerita kamu. Kalau aku bisa bantu aku akan usahain." Ucap Aruna berbisik dengan tangan yang memeluk suaminya. "Jangan pernah ngerasa sendiri, disini ada aku." Lanjut nya lalu Aruna mencium punggung suami nya.

Arsya yang belum tertidur pun merasakan ketulusan ucapan Aruna. Namun Ia belum bisa cerita tentang apa yang sedang memenuhi pikirannya saat ini.

"Maafin aku Aruna." Ucap Arsya dalam hati. "Aku gak tau harus jujur atau enggak sama kamu." Lanjutnya.

Arsya merasakan pelukan hangat Aruna namun Ia enggan membalikkan tubuh nya menghadap Aruna. Arsya berpura-pura tertidur. Pikirannya penuh, rasa bersalah dan bingung bercampur jadi satu. Ia sadar telah mengecewakan istrinya namun Ia juga tidak bisa berbuat apapun semuanya sudah seperti hal yang memang harus Ia lakukan namun kondisi nya kini sudah berbeda.

"Kasih aku waktu untuk nyelesain semuanya, Aruna." Gumam Arsya dalam hati.

To be continue...

Assalamualaikum mohon maaf lahir batin 🙏

Maaf yah baru sempet update hehe. Mau up dia part siang ini. See u di part selanjut nya. 🤭 Love you all 💜💜💜

Arsya & ArunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang