Setelah mendengar kabar dari bunda nya Aruna langsung meminta izin untuk pulang lebih cepat dari kerjaannya. Dengan tergesa Aruna merapikan barang-barang nya yang ada di meja dan di masukkan nya kedalam tas.
"Runa Lo gapapa?" Tanya Novita.
"Gue harus ke rumah sakit Nov adek gue kecelakaan."
"Hah serius? Lo udah izin?"
"Iya udah ko gue udah izin. Sorry yah Nov gue gabisa nemenin Lo lembur."
"Udah gapapa Lo balik aja nanti kabarin gue gimana kondisi adik Lo."
"Oke yaudah gue duluan yah."
"Hati-hati Runa."
Aruna mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi seperti lupa dengan keselamatan nya sendiri. Ia sangat khawatir dengan keadaan adiknya saat ini. Kondisi jalan yang tidak terlalu ramai dan waktu sudah mulai menggelap karena waktu magrib akan tiba.
Braaakk
"Awsss."
"Anjirr Sya tolol banget sih bisa-bisanya segala nabrak orang." Ucap Arsya di dalam mobil ketika Ia tidak sengaja menabrak pengendara motor.
"Duh mbak sorry gue gak sengaja Lo gapapa?" Tanya Arsya setelah turun dari mobil nya dan menghampiri seseorang yang Ia tabrak lalu membantu membangunkan motor yang menindih kaki wanita tersebut.
"Awwssss."
"Aruna?" Ucap Arsya terkejut saat Aruna membuka kaca helm nya.
"Lo? Ck bisa ga kalau bawa kendaraan tuh pake mata?"
"Lo yang ngebut Aruna!"
"Ck awsss." Keluh Aruna saat berusaha berdiri.
"Gue bantu. Kaki Lo ada yang luka? Kita ke rumah sakit yah." Ucap Arsya sambil membantu Aruna berdiri.
"Gue emang mau ke rumah sakit." Jawab Aruna ketus.
"Jenguk bokap gue?"
"Bukan urusan Lo! Minggir." Sahut Aruna dan mendorong Arsya agar tidak menghalangi nya.
"Kaki Lo luka Aruna. Bareng gue aja gue juga mau ke rumah sakit." Ucap Arsya menahan tangan Aruna agar tidak mengendarai motor nya kembali.
"Gak perlu gue baik-baik aja." Sahut Aruna dan langsung menancapkan gas motornya pergi meninggalkan Arsya.
"Dasar bocil keras kepala." Ucap Arsya sambil menatap kepergian Aruna.
Setiba nya di rumah sakit Aruna tanpa memperdulikan keadaan kaki nya yang luka Ia langsung memasuki gedung rumah sakit dan mencari ruangan dimana adiknya di rawat. Berjalan dengan sedikit pincang karena luka di kaki nya, Aruna tergesa menelusuri koridor rumah sakit mencari ruangan tempat Alisa di rawat.
"Bunda Alisa gimana keadaan nya?" Tanya Aruna ketika sudah memasuki ruangan Alisa.
"Alhamdulillah baik-baik aja, tadi udah sempet di obatin sama dokter cuma luka ringan." Jelas Zira pada Aruna.
Aruna menghembuskan nafas nya lega. "Ah syukurlah. Gimana kejadiannya si dek ko bisa Lo di serempet motor gitu?" Tanya Aruna pada Alisa yang sedang tertidur di atas brangkar.
"Namanya juga kecelakaan kak gaada yang tau padahal aku nyebrang udah sangat hati-hati banget emang motor nya aja yang ngebut."
"Terus gimana Bun Alisa harus di rawat berapa lama?"
"Bunda belum sempet nanya sayang."
"Yaudah bunda disini aja aku ke depan dulu."
Aruna keluar dari ruangan dan menuju resepsionis untuk menanyakan biaya rawat inap adiknya.
"Semoga gak mahal deh yaallah." Ucap Aruna sambil berjalan.
Setelah tiba di meja resepsionis Aruna langsung menanyakan biaya administrasi kepada petugas. Sedikit khawatir dengan jumlah biaya yang di butuhkan Aruna hanya mampu pasrah dan berharap semoga tidak terlalu mahal.
"Berapa mbak? Tiga juta?" Sontak Aruna terkejut saat mendengar jumlah biaya yang di butuhkan.
"Iya mbak tiga juta karena ada rawat inap satu hari ,tindakan dokter dan juga obat."
"Oh yaudah besok saya bayar yah mbak." Jawab Aruna lesuh.
Aruna kembali berjalan dengan pelan sambil memikirkan biaya yang harus di bayar.
"Aduh ayah tiga juta uang dari mana Aruna yah? Tabungan Aruna aja belum sampai segitu, gaji aja sebulan cuma empat juta di pakai biaya Alisa ujian, belanja dan kebutuhan yang lain." Keluh Aruna sambil berjalan.
Luka di kaki nya semakin terasa semenjak terjatuh dari motor tadi bahkan Aruna belum sempat melihat keadaan kaki nya. Aruna memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di pinggiran koridor rumah sakit.
"Awwwsss ko malah tambah sakit kaki gue." Keluh Aruna saat menggeser kaki nya agar mudah untuk Ia lihat.
Namun belum sempat Aruna melilit celana jeans nya agar dapat melihat luka yang tertutupi kain celana nya, seseorang datang tanpa permisi langsung melilit kain celana Aruna.
"Luka Lo lebam-lebam Aruna belum lagi baret dan ini ada darah kayanya Lo kena batu juga." Ucap Arsya yang tiba-tiba berjongkok dan melilit kain celana Aruna sampai betis sehingga Ia mampu melihat luka di kaki Aruna.
Aruna terkejut dengan perlakuan Arsya yang tiba-tiba datang dan berbicara lembut dengannya.
"Lo gausah kurang ajar yah lepasin!" Ucap Aruna menepis tangan Arsya yang sedang memegang kain celananya.
"Luka Lo harus di obatin Aruna ikut gue." Titah Arsya dan langsungg membantu Aruna untuk berdiri.
"Ck gue bisa obatin sendiri!"
"Berisik! Tinggal nurut aja apa susah nya sih?" Ucap Arsya membantu Aruna berdiri dan meminta nya untuk duduk di kursi roda. "Duduk."
"Ck kenapa sih Lo hobi banget maksa gue?"
"Duduk Aruna!"
"Ck iya iya." Aruna menurut dan langsung terduduk di kursi roda yang sudah Arsya siapkan.
Arsya mendorong kursi roda yang Aruna duduki dan membawa nya ke IGD untuk segera di obati luka nya.
Setelah selesai Aruna masih berada di atas brangkar dengan kaki yang sudah di perban.
"Siapa yang sakit?" Tanya Arsya secara tiba-tiba.
"Lo ga liat kaki gue sakit?"
"Maksud gue Lo ke rumah sakit mau ngapain kalau bukan jengukin bokap gue?" Sahut Arsya setelah menarik nafas nya dalam pikirnya menghadapi bocil satu itu memang butuh kesabaran yang mendalam.
"Oh adek gue sakit."
"Sakit apa?"
"Abis kecelakaan keserempet motor." Jawab Aruna ketus.
Arsya hanya mengangguk setelah mendapat jawaban dari Aruna. "Lo mau kemana?" Tanya Arsya ketika Aruna akan turun dari brangkar.
"Mau ke ruangan adek gue lah. Aduh om om ini Lo kenapa sih kepo banget?"
"Bisa gak gausah panggil gue om om? Gue gak setua itu yah!"
"Iya iya sorry, tapi gue juga gamau manggil Lo kakak gimana dong?"
"Panggil gue Arsya."
"Tapi kan Lo lebih tua dari gue."
"Ya terus Lo mau manggil gue apa? Sayang?"
"Ishh ogah." Jawab Aruna mendengus. "Udah gue manggil Lo om aja yah. Bye om, makasih udah bantu obatin luka gue byee." Sahut Aruna melambaikan tangan nya dengan senyuman berbinar juga puppy eyes nya yang membuat Aruna terlihat sangat gemas.
Arsya terpaku melihat gadis yang selama ini terlihat sangat galak namun saat ini sangat terlihat menggemaskan di matanya.
"Sadar Sya sadar dia masih bocil." Ucap Arsya menepuk pipinya pelan.
To be continue....
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomanceDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
