Aruna menyiapkan segala perbekalan nya. Hari ini Arsya mengajak nya untuk pergi liburan. Aruna menyiapkan segala keperluan Arsya di dalam koper dan juga keperluan nya sendiri. Setelah memberikan segala nya untuk Arsya, Aruna merasakan perbedaan sikap Arsya dari sebelumnya. Arsya menjadi posesif dan lebih lembut bersikap kepadanya. Kata sayang, sudah menjadi panggilan Arsya untuk Aruna. Namun, Aruna masih sering merasa aneh dengan panggilan itu sehingga Ia sering lupa dan Arsya selalu menegur nya. Seperti saat ini Aruna sedang melipat pakaian Arsya dan menaruh nya di dalam koper namun Arsya mengganggu nya hanya untuk sekedar meminta handuk. Hal-hal kecil yang sering Arsya lakukan sendiri kini berubah seketika, Arsya selalu mengandalkan Aruna dalam hal kecil apapun.
"Sayang.." panggil Arsya di dalam kamar mandi, Aruna terkejut karena teriakan Arsya.
"Apa arsya?" Sahut Aruna tak kalah meninggikan suaranya.
"Aku lupa bawa handuk." Kata nya, memang laki-laki itu selalu melupakan nya semenjak hubungan mereka semakin dekat.
Aruna berdecak kesal namun, Ia tetap mengambil kannya untuk Arsya. "Ini.." Aruna menyodorkan kan handuk di balik pintu toilet.
Arsya membuka nya, namun bukan handuk yang Ia pegang. "Iiih Arsyaaa..." Kesal Aruna, Arsya menarik tangannya masuk ke kamar mandi. "Ck gila Lo yah." Aruna menutup mata nya karena melihat Arsya tidak memakai pakaian sehelai pun. Arsya hanya cengengesan melihat tingkah Aruna. "Pake cepet!" Aruna melempar handuk nya pada Arsya, lalu Ia segera keluar dari kamar mandi.
Arsya tertawa lalu menahan tangan Aruna yang hendak membuka pintu. "Gak mau coba di kamar mandi,hm?" Kata Arsya, sementara Aruna masih memejamkan matanya.
Aruna terkejut mendengar ucapan Arsya. "Ishh dasar om om mesum!" Kesal Aruna, lalu melepaskan tangan nya dan langsung berlari keluar." Arsya tertawa, menjahili Aruna akan menjadi hobi barunya.
"Bi kita berangkat dulu yah." Pamit Aruna pada bi Siti setelah mereka selesai sarapan.
"Iya non hati-hati. Semoga pulang-pulang ada cucu di perut nya." Kata bi Siti sembari mengelus perut Aruna. Aruna menunduk malu, berbeda dengan Arsya yang menimpali perkataan bi Siti.
"Doain bi." Kata Arsya, tangannya merangkul bahu Aruna. "Lagi di usahakan." Jawab nya tersenyum jail.
Bi Siti pun tersenyum melihat Arsya yang lebih berseri dari biasa nya. "Pasti bibi doain den, non."
"Bi berarti kalau mau ada bayi harus sering-sering kan bi usaha nya?" Tanya Arsya, mata nya melirik Aruna yang pipi nya mulai memerah.
Mendengar pertanyaan Arsya Aruna melotot dan mencubit perut suami nya. "Ishh ngomong nya." Kesal Aruna memberikan cubitan diperut Arsya. "Jangan di dengerin bi otak nya udah full mesum, maklum udah om om tua." Ledek Aruna tidak mau kalah lalu melepaskan tangan Arsya dari bahu nya. "Kita berangkat yah bi, dadah bibi." Setelah mencium tangan bi Siti untuk pamit Aruna melambaikan tangannya dan pergi keluar tanpa memperdulikan Arsya.
Arsya tertawa. "Kalau ada apa-apa telpon Arsya atau Aruna yah bi." Ucap Arsya lalu pamit dan menyusul Aruna yang sudah berada di dalam mobil.
Setelah memasukkan kopernya ke dalam bagasi lalu Arsya memasuki mobil nya yang di kendarai oleh pak Udin. Sudah tidak ada lagi Arsya yang berkata kasar, tidak ada lagi Arsya yang cuek, saat ini hanya ada Arsya yang selalu clingy. Seperti saat ini Arsya mengambil tangan Aruna lalu Ia genggam di atas paha nya sedangkan tangan satu nya lagi Arsya memainkan kan ponsel nya. Aruna hanya terdiam dan pasrah dengan Arsya yang selalu menggenggam tangannya.
"Makasih pak." Kata Aruna setelah mereka sampai di bandara dan pak Udin membantu menurunkan kopernya.
Arsya kembali merangkul Aruna dengan tangan sebelah nya yang memegang koper. Berjalan menelusuri bandara seakan tidak ingin lepas. Saat di dalam pesawat pun Arsya tidak ingin melepaskan tangan Aruna, Ia tertidur dengan Aruna yang menyandar di bahu nya dan Arsya menaruh kepala nya di atas kepala Aruna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomanceDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
