Cahaya matahari memasuki kamar bernuansa modern yang di dalam nya Bella masih tertidur lelap. Rena membuka gorden agar Bella bisa menghirup udara pagi dengan nyaman. Sinar matahari yang menembus jendela membuat Bella sedikit kesusahan membuka matanya. Tangannya menutup mata nya tidak kuat karena silau matahari yang menyelinap memasuki kamar nya.
"Bangun bell udah siang...Arsya udah kasih jadwal Lo untuk ke dokter hari ini." Ucap Rena yang sembari merapikan kamar Bella.
Bella mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya pada dipan. "Ke dokter? Ngapain? gue gak sakit ko." Tanya Bella kebingungan.
"Panic attack lo bell."
Bella menghembuskan nafasnya kasar. "Kalau gue ke dokter apa gue akan kehilangan Arsya selamanya?"
Rena menghentikan kegiatannya, pandangannya beralih pada Bella yang masih berada di atas tempat tidur. Rena mendekat dan duduk di pinggiran kasur.
"Bell hubungan Lo dan Arsya memang udah harus berakhir. Arsya udah menikah dan Lo harus tetap lanjutin hidup tanpa Arsya di samping Lo." Jelas Rena.
"Gue masih butuh Arsya di hidup gue ren." Jawab Bella dengan tatapan mata yang datar.
"Gimana perasaan Lo sama Arsya?"
"Gue cinta sama dia ren. Selain cuma dia yang bisa nenangin gue, tanpa sadar gue beneran cinta sama dia."
"Tapi gue tau tujuan awal Lo deketin Arsya itu bukan karena Lo beneran suka sama dia kan?"
Bella mengangguk dan menatap Rena yang ada di hadapannya. "Lo bener, dulu gue deketin dia bukan karena gue suka tapi gue cuma merasa tertantang karena saat itu Arsya laki-laki yang dingin, gak pernah berinteraksi sama cewek manapun terkecuali karyawan nya dan itu pun karena pekerjaan."
"Gue sempet di tolak beberapa kali tapi gue semakin merasa tertantang sampai akhirnya bisa masuk ke hidup nya dan menyaksikan dia terpuruk...dan itu kesempatan gue masuk ke hidupnya sampai akhirnya kita pacaran. Dan berjalannya waktu kayanya gue beneran sayang sama dia meskipun effort nya lebih banyak gue yah...tapi lama-lama gue juga ngerasa dia punya perasaan yang sama ko."
Rena menghembuskan nafasnya kasar, tangannya meraih tangan Bella. "Situasi nya udah beda bell sekarang. Meskipun Lo cinta sama Arsya semuanya udah harus berakhir. Arsya udah menikah dan Lo harus tetap lanjutin hidup Lo, karir Lo."
"Sakit ren, hati gue sakit...rasanya gue pengen banget hancurin keluarga kecil mereka. Gue benci banget sama Aruna, dia udah ambil kebahagiaan gue." Ucap Bella, air mata nya menetes meluapkan kesakitan yang Ia rasakan selama ini.
"Gue tau dan paham apa yang Lo rasain. Tapi bahkan Aruna pun terjebak masuk ke dalam hidup Arsya. Dan Arsya pun gak ada niat untuk nyakitin Lo semua dia lakuin demi alm papa nya kan? Dan Lo tau Bel sesayang apa Arsya sama papanya."
"Tapi gue sakit ren, selama ini yang gue punya cuma Arsya, cuma dia yang selalu ada buat gue. Tapi sekarang atau besok gue akan benar-benar kehilangan dia. Gue belum bisa terima itu ren." Tangis Bella pun pecah tidak kuat menahan kesedihannya.
Rena mendekat dan memeluk Bella, meskipun Rena hanya sekedar asisten Bella tapi mereka sudah seperti sahabat yang selalu cerita tentang apapun yang mereka rasakan.
"Ada gue bell, gue akan nemenin Lo sampai lo bisa nemuin kebahagiaan Lo tanpa Arsya." Ucap Rena memeluk erat Bella.
Bella melepaskan pelukannya. "Lo janji?" Tanya Bella dan mendapat anggukan dari Rena. Senyuman terpancar diantara keduanya dengan segera Bella memeluk kembali Rena.
"Thank you ren udah nemenin gue selama ini." Kata Bella, tangannya tak henti mengelus punggung Rena yang sedang di peluk nya.
"Lo udah kasih gue kerjaan dan bahkan Lo udah anggap gue kaya teman Lo sendiri, gue yang harus nya makasih sama Lo bel." Jawab Rena mengelus punggung Bella.
Rena merasa lega jika benar Bella mendengar kan ucapannya untuk mulai menjauh dari Arsya. Setidak nya pelan-pelan sampai Bella mulai rutin pergi ke dokter.
****
Aruna sedang menyiapkan sarapan nya untuk Arsya. Di weekend ini Aruna ingin menghabiskan waktu nya bersama suami nya. Setelah menunggu lama karena Arsya yang selalu sibuk dan pulang larut malam sampai akhir nya hari ini Ia bisa menghabiskan waktu berdua. Aruna membuatkan nasi goreng seafood sesuai rekomendasi dari Arsya. Meskipun masih merasa lemas namun Aruna sangat bersemangat menjalani hari weekend ini karena Ia akan berduaan dengan Arsya seharian.
"Hummm wangi." Ucap Aruna menghirup aroma nasi goreng yang telah Ia buat di wajan. Setelah nya Aruna memindahkan nasi goreng tersebut dan menata nya di meja makan.
"Oke selesai." Ucap Aruna, lalu Ia pergi ke lantai atas untuk memanggil Arsya yang masih berada di kamar nya.
Ceklek
"Loh kamu mau kemana?" Tanya Aruna karena melihat Arsya yang sudah rapih.
"Aku harus ketemu client sebentar." Jawab Arsya sembari memakai jaketnya.
"Client? Ini kan hari Minggu." Sahut Aruna dengan kecewa dan wajah nya yang di tekuk.
"Iya Aruna ini pun mendadak karena client aku harus terbang sore ini ke Singapore makanya pertemuan nya di majuin." Jelas Arsya menghampiri Aruna yang masih berada di depan pintu kamar.
"Tapi kan kamu janji mau ngabisin waktu weekend kamu sama aku." Ucap Aruna dengan tatapan kecewa nya.
"Maaf sayang...masih ada Minggu depan aku janji Minggu depan aku akan cuti beberapa hari dan kita habisin waktu berdua."
"Gak ada yang kamu sembunyikan dari aku kan sya? Aku bisa nanya Nando loh kalau urusan kerjaan." Ucap Aruna.
"Aruna, Nando gak semuanya Nando tau tentang kerjaan aku."
"Kenapa? Setau aku dia tau semua tentang kerjaan kamu."
"Oke oke terserah kamu bisa nanya Nando apapun." Jawab Arsya.
Aruna menelan saliva nya dan semakin berpikir bahwa ada yang Arsya sembunyikan dari dirinya. "Aku mau ikut." Ucap Aruna.
Arsya terkejut. "Ngapain? Aku cuma ketemu client." Jawab nya lalu mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju meja rias.
Aruna menghampiri Arsya yang sedang merapikan rambut nya di depan kaca. "Yah pengen ikut aja aku bosen Arsya. Aku janji gak akan ganggu kamu nanti aku duduk nya di meja lain deh yah? Yah? Please...."
"Enggak Aruna kamu kan lagi gak enak badan. Aku usahakan pulang cepet nanti malam kita dinner." Arsya berusaha menolak dengan berbagai macam alasan.
Aruna melipat tangannya di depan dada. "Kamu kenapa sih?"
"Kenapa apa nya? Aku cuma gak mau kamu bosen nunggu aku ketemu client. Dan badan kamu juga lagi gak enak kan?"
"Enggak aku gak kenapa-kenapa ko." Kelak Aruna melepaskan lipatan tangannya.
"Aruna udah deh kamu gak usah aneh-aneh. Ayo sarapan aku laper gak sabar mau makan masakan istri aku." Ucap Arsya, lalu menarik tangan Aruna dan menggandeng nya berjalan menuju meja makan.
Aruna kesal karena Arsya selalu mengalihkan. Bibir nya di tekuk dan mengoceh pelan. "Selalu aja selalu aja gini." Gerutu Aruna dengan pelan sehingga Arsya tidak mendengar nya.
Aruna menuangkan nasi goreng di piring Arsya dengan bibir nya yang di tekuk karena merasa kesal pada Arsya yang mengingkari janji nya. Padahal Aruna telah menyusun rencana apa saja yang akan Ia lakukan berdua bersama Arsya di weekend ini.
"Senyum dong masa cemberut terus nanti cantik nya ilang." Arsya coba merayu istri nya.
"Biarin aja emang gak cantik kali makanya suami nya lebih milih ketemu client daripada ngabisin waktu sama istrinya." Sahut Aruna ketus, sembari mengaduk-aduk nasi di piring.
Arsya tersenyum melihat istri nya yang ngambek seperti anak kecil.
"Sayang please..." Ucap Arsya memohon.
"Apa? Iya iya ini senyum." Aruna tersenyum paksa dengan memperlihatkan deretan gigi nya.
"Nah kan cantik."
Aruna melengos dan kembali melahap makanannya.
To be continue...
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsya & Aruna
RomanceDISCLAIMER ‼️⚠️ : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat dalam cerita ini, ini hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan dari penulis. Hidup penuh dengan kesederhanaan mungkin adalah hal b...
