59. Arsya Sadness

1.1K 80 10
                                        

Arsya melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Kancing atas kemeja nya Ia buka setengah hingga menampakan bulu-bulu halus di dadanya. Ia memilih untuk pulang ke apartemen nya tanpa kembali ke kantor.

Pikirannya benar-benar kacau, rasa rindu nya pun semakin berat. Bayangan Aruna tak pernah lepas dari benak nya. Mengingat betapa bodoh dirinya hingga membuat luka yang besar untuk Aruna. Rasa bersalah nya saat ini sangat besar setelah mengetahui niat buruk yang di lakukan oleh Bella.

Genangan air mata berhasil jatuh di pipinya. Kepala nya Ia sandarkan pada sofa. Pandangan matanya menatap langit-langit apartemen. Sepi dan hening yang Ia rasakan.

Tidak ada lagi dia yang selalu menanyakan 'hari ini mau makan apa?' tidak ada lagi dia yang selalu memasakkan nya makanan kesukaan nya, tidak ada lagi dia yang selalu mengomeli nya ketika Arsya menaruh handuk sembarangan, tidak ada lagi dia yang selalu memilihkan pakaian kerja nya, tidak ada lagi dia yang selalu mengusap-usap rambut nya ketika Arsya sedang lelah. Semua nya hilang seketika dan itu semua Ia yang menyebabkan nya sendiri.

Arsya menegakkan badannya lalu menunduk dengan tangan sebagai tumpuan di atas lutut nya sebelah tangannya memijat pangkal hidungnya seakan frustasi.

"Aku kangen kamu Aruna." Ucap nya lirih, lagi-lagi tetesan air mata nya kembali terjatuh namun dengan segera Ia menghapusnya.

Arsya berdiri dan melangkahkan kaki nya menuju dapur Ia membuat hot chocolate kesukaan Aruna yang setiap pagi nya selalu ia minum. Arsya tidak peduli meskipun saat ini cuaca sedang panas karena memasuki jam 1 siang Ia tetap meminum nya. Bahkan Arsya tidak peduli tentang ketidak sukaan nya pada coklat, Ia tetap meminumnya.

Satu gelas kandas, Arsya meminum nya tanpa henti. Lalu Ia kembali membuat nya untuk gelas kedua nya. Hingga 7 gelas Arsya berhasil meminum hot chocolate itu tanpa jeda hingga membuat perut nya terasa begah.

Setelah nya Arsya beralih pada lemari mencari apapun barang Aruna yang pernah tertinggal. Arsya mengubek seluruh isi lemari nya mengeluarkan baju-baju nya berharap ada baju Aruna yang terselip hingga akhirnya Arsya menemukan piyama yang pernah istrinya itu pakai.

Harum khas Aruna tercium disana. Arsya menjatuhkan badannya di lantai dan bersandar pada lemari. Kedua tangannya memegang piyama itu. Tatapan sendu nya dan ingatannya tertuju pada Aruna yang pernah memakai baju itu.

Lamunannya terkecoh saat dering ponsel nya berbunyi. Arsya melihat siapa yang menelepon nya lalu Ia mengangkat nya.

"Lo dimana? Sebentar lagi kita meeting."

"Reschedule gue gak bisa hari ini." Jawab Arsya, sembari tangannya memijat pangkal hidung nya.

"Sya! Gila Lo yah! Mereka udah Dateng jauh-jauh dari Bali!"

"Lo bisa urus semua nya." Sahut Arsya, lalu Ia langsung mematikan panggilannya sepihak.

Arsya melempar ponsel nya sembarang tidak memperdulikan ocehan Nando dan pekerjaannya. Semuanya terasa percuma baginya. Arsya merasakan seperti separuh jiwa nya yang hilang.

Arsya terbangun dari tidur nya dan dengan tiba-tiba Ia merasakan mual di perut nya. Dengan segera Arsya melangkah kan kaki nya menuju toilet.

Arsya mengelap mulut nya dengan tissue setelah Ia berhasil memuntahkan cairan. Lalu Ia kembali dan merebahkan tubuh nya di atas kasur tatapannya kosong menatap langit-langit. Tanpa terasa hingga mata nya tertutup dan tertidur. Masih dengan pakaian kerja nya yang sudah tidak berbentuk karena sangat berantakan bahkan kaos kaki nya tidak terlepas.

***

Setelah dari pagi Aruna hanya berdiam diri di rumah nya, kini Aruna memutuskan untuk pergi keluar. Semenjak kedatangan nya ke Singapura, Aruna belum pernah keluar rumah. Ia berniat untuk mengelilingi atau sekedar refreshing otak nya untuk pergi ke suatu tempat.

Arsya & ArunaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang