11. Teman

1.4K 98 6
                                        

"pah.."

Menatap sosok laki-laki yang selalu terlihat kuat di hadapan nya namun kini sangat terlihat lemah dan tidak berdaya. Alat medis yang menempel pada tubuh nya membuat Arsya meneteskan air matanya.

"Arsya.."

"Iya pah Arsya disini." Sahut Arsya menggenggam tangan Bimo.

Bimo tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi pipi anaknya yang tampan. "Jangan nangis Sya nanti ganteng nya ilang." Ucap Bimo tersenyum.

"Pah kenapa bisa kaya gini? Kenapa papa ga cerita kalau sakit papa sering kambuh?"

"Papa udah tua Sya jadi wajar papa sering sakit kamu gausah khawatir yah?"

"Arsya akan lakuin apapun pah yang penting papa sehat lagi."

"Maaf kalau papa egois sya. Tapi sebelum papa pergi papa pengen lihat kamu menikah." Ucap Bimo terbata dan menatap Arsya.

"Papa mau kamu menemukan wanita yang tepat. Wanita yang akan menemani kamu selamanya." Lanjut Bimo.

Arsya mengangguk. "Iya pah Arsya akan menikah, Arsya akan nikahin Aruna sesuai dengan keinginan papa." Sahut Arsya. "Papa harus janji sembuh pah Arsya mohon." Lanjut Arsya mencium punggung tangan Bimo yang Ia genggam.

"Kamu yakin Sya?"

Arsya mengangguk dan kembali mencium punggung tangan Bimo. "Aruna juga ada disini pah, tadi Arsya ketemu sama Aruna."

Bimo tersenyum, Ia tidak menyangka Arsya akan menuruti permintaan nya kali ini. "Papa mau bicara sama Aruna Sya."

Arsya mengangguk. "Arsya panggilin pah." Ucap Arsya dan meninggalkan Bimo untuk memanggil Aruna.

Arsya menuju pintu keluar dan menghampiri Aruna yang sedang duduk di koridor rumah sakit bersama Nando.

"Papa mau ketemu Lo." Ucap Arsya pada Aruna.

"Gue?" Tanya Aruna.

"Masuk."

Aruna menuruti perkataan Arsya. Memasuki ruangan ICU di mana ada seorang paruh baya yang terbaring lemah. Laki-laki tua yang tempo hari memisahkan pertengkaran nya dengan Arsya di kafe, kini terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuh nya.

"Aruna.." panggil Bimo ketika Aruna sudah berdiri di sampingnya.

Dia mirip kamu Ra, cantik. Ucap Bimo dalam hati sambil memandang Aruna di samping nya. Mata nya berlinang ketika Ia mampu melihat Aruna dengan sangat dekat.

"Iya om."

"Kamu benar-benar mirip dengan Fazira ibu mu Aruna." Ucap Bimo tersenyum menatap Aruna yang berada di sebelah nya.

"Om tau bunda saya?" Tanya Aruna penuh dengan kebingungan.

"Ayah mu sahabat om dari jaman sekolah Aruna dan ibu mu Fazira juga dulu teman om." Jelas Bimo tersenyum menatap Aruna.

Aruna hanya terpaku mendengar semua perkataan pria paruh baya tersebut. Ia hanya mampu mengangguk dan memberikan senyuman kaku nya.

"Aruna mungkin Arsya sudah bicara sama kamu nak. Om mau minta maaf atas perbuatan Arsya ke kamu, maaf atas perlakuan dia yang tidak senonoh sama kamu nak." Jelas Bimo menatap Aruna penuh dengan ketulusan.

"Iya om Aruna udah maafin anak om." Jawab Aruna menunjukkan senyum manisnya. Aruna memang sudah memaafkan perbuatan Arsya saat itu namun perlakuan Arsya di apartemen tadi membuat Aruna ingin sekali merutuki dan manghajar laki-laki tersebut.

Bimo tersenyum lega mendengar jawaban dari gadis di hadapannya.

"Aruna hidup om mungkin gak lama lagi. Entah mengapa saat om melihat kamu om sangat ingin kamu menjadi pendamping Arsya, menikah dengan Arsya dan temani langkah Arsya kedepannya."

"Pah please.." panggilan Arsya menginterupsi pembicaraan Bimo, dan menggeleng kan kepalanya. "Papa pasti sembuh." Lanjut Arsya.

"Om ga mau maksa kamu untuk cepat menikah dengan anak om. Tapi om sangat berharap suatu saat nanti kamu bisa menerima Arsya sebelum om pergi. Om ingin lihat anak om satu-satunya bahagia dengan wanita yang tepat dan itu kamu." Ucap Bimo meneteskan air matanya.

Lagi-lagi Aruna terpaku mendengar penuturan Bimo. Mereka baru saling mengenal namun kini pria paruh baya bernama Bimo itu memintanya untuk mau menikah dengan anaknya. Bagaimana Aruna bisa menikah dengan laki-laki yang bahkan baru beberapa hari bertemu dengan nya.

Arsya yang berdiri sedikit jauh dari brangkar pun mendekat tepat sebelah kiri Bimo dan Aruna sebelah kanan Bimo. Arsya memberikan tatapan tajam nya pada Aruna berharap Aruna bisa mengiyakan permintaan papanya. Aruna pun paham dengan tatapan yang Arsya berikan.

"Om Aruna yakin om pasti sembuh, om harus semangat untuk sehat lagi." Ucap Aruna mengelus punggung tangan Bimo dan memberikan senyuman manisnya.

"Untuk menikah dengan Arsya Aruna perlu memikirkan lagi om. Karena kita baru kenal beberapa hari ini dan Aruna hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Tapi om tenang aja nanti mau Aruna menikah ataupun tidak sama Arsya, Aruna akan berusaha untuk jadi teman Arsya om."

Aruna menarik nafas nya pelan. "Izinin Arsya dan Aruna menjalani pendekatan dulu yah om?" Lanjut Aruna berusaha menampilkan senyumannya kembali.

Meskipun sedikit kecewa namun Bimo tetap memaklumi itu mengingat jarak umur anak nya Arsya dan juga Aruna sedikit jauh sudah pasti Aruna perlu memikirkan nya matang-matang.

"Gapapa nak om paham memang sebaiknya kalian harus pendekatan dulu, harus saling mengenal dulu. Om janji om akan semangat untuk sembuh agar om bisa datang kerumah kamu untuk melamar kamu untuk Arsya." Jawab Bimo menampil kan senyumnya di balik oksigen yang menutupi mulutnya.

Sementara Arsya sudah menatap Aruna dengan tatapan yang sulit di artikan.

Setelah pembicaraan tersebut Aruna memutuskan untuk pulang karena waktu sudah semakin malam dan Ia harus mengambil motor nya di kafe.

"Om Aruna pamit pulang yah om udah malam nanti Aruna jenguk om lagi."

"Iya Aruna. Biar Arsya yang anter yah."

"Ga usah om. Arsya biar jagain om disini aja Aruna bisa pulang sendiri."

"Enggak Aruna, Arsya harus anterin kamu sampai rumah."

"Sya antar Aruna pulang yah. Papa disini ada Nando ko."

"Iya pah Arsya antar."

Arsya dan Aruna berada di dalam mobil tidak ada obrolan apapun. Suasana hening sangat terasa di dalam mobil tersebut.

"Ke kafe aja gue mau ambil motor." Ucapan Aruna ketika mobil yang Ia tumpangi tidak mengarah ke kafe.

"Besok motor Lo di antar orang gue."

Aruna terdiam sejenak memikirkan apa yang harus Ia bicarakan dengan laki-laki di samping nya. "Sorry kalau gue gak langsung mengiyakan keinginan bokap Lo. Tapi gue juga ga mau menjalani pernikahan yang cuma sekedar main-main. Gue hanya mau menikah satu kali bukan nikah kontrak yang sewaktu-waktu akan pisah." Jelas Aruna menatap datar jalanan.

"Lo bisa jamin bokap gue sembuh?"

Aruna menggeleng kan kepalanya. "Tapi gue akan tepatin perkataan gue tadi. Gue bantu Lo buat jaga bokap Lo."

"Perkataan Lo yang mana? Buat pendekatan sama gue?" Tanya Arsya melirik Aruna di sebelah nya.

"Itu sih terserah Lo. Gue cuma mau tepatin untuk jadi teman Lo aja."

"Kenapa ga langsung nikah aja sih? Lo juga dapat imbalan kan dari pernikahan itu."

"Heh otak Lo di taro di mana sih Arsya gue baca kertas perjanjian aja rasa nya gue pengen hajar Lo abis-abisan yah. Apalagi kalau beneran gue lakuin nikah kontrak itu sama Lo? Lo juga punya pacar kan? Dan gue juga punya pacar!"

"Oke kalau masalah perjanjian gue salah tapi bisa kita ubah dengan kesepakatan kita berdua Aruna. Dan kalau untuk pacar kita sembunyikan dari mereka jangan sampai mereka tau." Jelas Arsya.

"Ck gampang banget sih Lo om kalau ngomong." Kesal Aruna.

To be continue....

VOTE VOTE VOTE BISAKALI

Arsya & ArunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang